Sekjen FPI DKI Jakarta, Novel Bamukmin saat ditemui di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (4/2). Foto: Amjad/JPNN

Jurnalindonesia.co.id – Barisan yang mengatasnamakan mujahid 212 langsung bereaksi dan menolak keras wacana nama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok digadang-gadang menjadi calon kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru di Kalimantan Timur.

Penolakan itu dilontarkan Habib Novel Bamukmin yang juga menjadi Ketua Media Center Persau Alumni (PA) 212.

“Apabila DPR sebagai wakil rakyat menyetujui kepindahan ibu kota negara ini dan sebagai calon kepala daerahnya adalah Ahok, maka kami nyatakan secara tegas menolak keras Ahok,” ujar Novel kepada wartawan, Kamis (5/3)

Dia mengatakan, para mujahid 212 menilai eks Gubernur DKI Jakarta itu sebagai seorang pribadi yang memiliki banyak masalah.

“Ahok perlu kejelasan hukum atas masa lalunya selaku Wakil Gubernur dan Gubernur DKI, terlebih kasus di KPK,” tegas Novel.

Selain itu, berdasar pada fakta yang tak bisa dibantah lagi adalah status Ahok sebagai eks narapidana.

“Biografi Ahok dirinya berstatus eks narapidana, karena fakta hukum Ahok dulu menistakan Alquran,” tambah Novel.

Tak hanya menolak Ahok, Mujahid 212 juga menolak rencana pemimdahan ibu kota ke Kalimantan Timur. Pasalnya, pemindahan ini tak menghabiskan uang yang sedikit.

“Selain anggaran biayanya akan spektakuler atau luar biasa dan diasumsikan akan kembali berhutang dengan meminjam kebutuhan pembangunan ibu kota melalui kreditor Tiongkok,” tandas Novel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *