Ekonomi dan Bisnis

Pernyataan Soal Freeport Beda dengan di Majalah Tambang, Sudirman Said Dianggap Jilat Ludah Sendiri

Sudirman Said
Sudirman Said. (Foto: Antara Foto/Akbar Nugroho Gumay)

Mantan Menteri ESDM yang kini menjadi anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sudirman Said, melontarkan cerita miring soal pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama Jim Moffet yang saat itu masih menjabat Executive Chairman Freeport McMoRan.

Hal tersebut Sudirman sampaikan di acara bedah buku bertajuk ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’ di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019).

Di acara tersebut Sudirman sempat mengatakan bahwa ada kesepakatan antara pemerintah dan PT Freeport Indonesia, dilakukan di Istana, dan bersifat ‘rahasia’.

Belakangan beredar screenshot dua lembar halaman majalah Tambang yang berisikan wawancara Sudirman Said soal pertemuan Jokowi dengan Jim Moffet.

Wawancara tersebut diterbitkan pada 2015. Isinya masih tema yang sama, mengenai pertemuan Jokowi dengan Jim Moffet. Namun, cerita pada 2015 itu berbeda dengan yang diceritakan baru-baru ini.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin pun mengaku heran dengan perbedaan cerita Sudirman tersebut.

“Pernyataan Sudirman Said soal pertemuan Pak Jokowi dengan Jim Moffet menunjukkan kualitas Sudirman Said yang sekarang bertransformasi menjadi politisi. Ketika beliau menjadi menteri Pak Jokowi dan tentu sebelumnya menunjukkan kualitasnya sebagai orang yang profesional, jujur, loyal, dan berintegritas,” kata Ace seperti dilansir detikcom, Kamis (21/2/2019).

“Namun kini, saat menjadi pembela Pak Prabowo, Pak Sudirman lupa bahwa dia pernah menyatakan Pak Jokowi ketika bertemu Jim Moffet di majalah Tambang dengan mengatakan ‘Presiden menjalankan tugas negara, dan itu bukan operasi rahasia. Itulah cara beliau mengurangi kegaduhan. Akan salah kalau Presiden dan Moffet membuat kesepakatan sendiri, baru kemudian mengundang saya’. Pernyataan itu jelas terdokumentasi dalam majalah Tambang, November 2015,” lanjut Ace.

Ace pun mengaku heran dengan perbedaan cerita Sudirman. Politikus Golkar itu mempertanyakan integritas eks Dirut PT Pindad itu.

“Apakah karena mendukung Pak Prabowo, seorang Sudirman Said yang saya tahu beliau jujur dan loyalis sudah lupa dengan ucapannya tersebut? Apakah ketika sudah menjadi politisi kemudian harus menjilat ludahnya sendiri? Ingat, saat ini era digital. Terlalu mudah untuk menelusuri rekam jejak digital seseorang,” ujarnya.

Beredarnya screenshot majalah Tambang tersebut bermula dari cuitan Rocky Gerung yang menyertakan link berita soal cerita Sudirman Said dengan dibumbui tulisan ‘Pada mulanya. Pertemuan Rahasia Jokowi dan Bos Besar Freeport, Jim Moffet’.

Pengamat ekonomi Yustinus Prastowo lantas membalas cuitan Rocky Gerung tersebut dengan mengunggah foto dua lembar halaman Majalah Tambang yang berisikan wawancara Sudirman Said soal pertemuan Jokowi dengan Jim Moffet.

Tak hanya mengunggah foto, Yustinus juga menuliskan ‘Kalau pakai akal sehat, coba baca wawancara @sudirmansaid di Majalah TAMBANG Nov 2015 ini. Siapa yang berbohong?’.

Dalam acara bedah buku bertajuk ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’ di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2/2019) kemarin, Sudirman memang bercerita soal pertemuan Jokowi dengan Jim Moffet pada 7 Oktober 2015.

Sudirman menuturkan, saat dirinya baru sampai di ruangan kerja Jokowi, melihat ada Moffet sedang mengadakan pertemuan dengan Jokowi. Di sana Sudirman diperintahkan Jokowi untuk membuat draft mengenai kesepakatan pembelian saham.

Sesampainya di sebuah tempat, Moffet menyodorkan draf kesepakatan. Menurut Sudirman, draf itu tidak menguntungkan Indonesia.

Kemudian setelah pertemuan dengan Moffet, Sudirman langsung menyampaikan draft tersebut kepada Jokowi. Menurut Sudirman, saat itu Jokowi disebut langsung menyetujui, padahal menurut Sudirman draf tersebut hanya menguntungkan pihak Freeport bukan Indonesia.

“Bapak dan Ibu tahu komentarnya pak presiden apa? dia mengatakan ‘lho kok begini saja sudah mau? Kalau mau lebih kuat lagi sebetulnya diberi saja’. Jadi mungkin saja ketika pagi itu, saya nggak ikut diskusi, saya datang tulis surat, dan saya nggak tahu sebelum pertemuan itu ada siapa. Jadi saya disuruh nulis surat dengan level ini aman, nggak merusak. Tapi pak Presiden bilang ‘kok begini nggak mau’, jadi mungkin tanggal 7 itu mungkin sudah ada komitmen yang lebih kuat, yang dikatakan surat itu perkuat posisi mereka, dan lemahkan posisi kita,” kata Sudirman di acara bedah buku bertajuk ‘Satu Dekade Nasionalisme Pertambangan’ di Jalan Adityawarman, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (20/2).

Sedangkan dalam wawancara bersama majalah Tambang, saat menjawab pertanyaan ‘mengapa ketika anda ketemu Presiden, di situ sudah ada Moffet? Kesannya ada yang dirahasiakan’, Sudirman menjawab ‘Presiden menjalankan tugas negara, dan itu bukan merupakan operasi rahasia. Itulah cara beliau mengurangi kegaduhan. Akan salah kalau Presiden dan Moffet membuat kesepakatan sendiri, baru kemudian mengundang saya. Presiden ketika beliau bertemu Moffet selalu mengajak menteri teknisnya. Saya sebagai menteri teknis berkewajiban menindaklanjuti.’

Selain itu, dalam wawancara itu, Sudirman yang menjawab pertanyaan ‘Jim Moffet seperti luar biasa, karena diundang khusus oleh Presiden’ juga menjelaskan bahwa pertemuan Jokowi dengan Moffet merupakan pertemuan biasa. Usai draft selesai, Sudirman juga mengungkap bahwa Jokowi mempertanyakan soal posisi kesepakatan itu di mata hukum.

“Itu pertemuan biasa, Presiden sering bertemu dengan chairman, atau pengusaha energi. Setiap bertemu dengan pengusaha sektor apa pun, menteri teknis selalu diajak. Sepengetahuan saya tidak ada pertemuan, misalkan dengan investor migas, yang tidak melibatkan saya. Hal yang disampaikan ke Jim Moffet itu bukan hal yang baru sama sekali. Itu sering kami diskusikan. Beliau mengundang, dan untuk mengurangi kegaduhan, maka dikoordinasikan begitu rupa. Kemudian Presiden mengatakan, sekarang silakan kalian berunding untuk mem-follow up. Begitu saja. Setela itu ketika draft selesai, saya sampaikan ke Presiden. Beliau menanyakan apakah dengan ini Freeport sudah merasa terbantu? Saya katakan sudah. Juga ditanya bagaimana secara hukum, apakah sudah jelas dan tidak melanggar hukum, saya katakan tidak ada. Ya sudah saya tanggungjawab, dan tandatangan siang itu. Kemudian kasih ke pihak Freeport Indonesia,” ujar Sudirman, seperti dikutip dalam majalah Tambang.

Loading...