Nasional

HNW: Mereka Seolah-olah Sangat Agamis, Tapi Agama Tidak Dilaksanakan

Hidayat Nur Wahid
Hidayat Nur Wahid. (Foto: Istimewa)

Wakil Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid (HNW) menyebut pihak yang mempolitisasi agama adalah kelompok sekuler yang menggunakan agama demi kepentingan politik.

Menurutnya, salah satu bentuk politisasi agama adalah di saat ada pihak yang mengesankan dirinya sangat agamis, namun tidak menerapkan keadilan ekonomi dan hukum bagi seluruh rakyat.

“Mereka seolah-olah sangat agamis, sementara agama tidak dilaksanakan, tapi hanya untuk kepentingan politik. Itu yang namanya politisasi agama,” kata Hidayat di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa (19/2).

Hidayat pun menyindir, bahwa pihak yang dia maksud kerap menunjukkan sangat beragama, namun tak menunjukkan perilaku yang sesuai agama.

“Misalnya mengesankan jadi imam, siap tes baca Alquran, maka harus hadir pula dalam perilaku politiknya,” lanjutnya.

Dia menegaskan, penerapan agama yang sesungguhnya juga harus dilakukan dalam perilaku politik. Wujudnya pun harus konkret, yakni dengan menjamin keadilan ekonomi serta hukum. Jika tidak, maka sama dengan politisasi agama.

“Keadilan inilah yang menjadi pertanyaan publik. Masyarakat merasa ketidakadilan sangat nampak,” kata Wakil Ketua Dewan Penasehat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi itu.

Dia memberi contoh salah satu ketidakadilan di bidang hukum. Hidayat menyinggung langkah kepolisian yang begitu cepat menangkap pelaku pengunggah foto Ma’ruf Amin mengenakan atribut sinterklas.

Dia sepakat bahwa itu memang kejahatan dan harus ditindak. Akan tetapi, Hidayat mengatakan, dulu ada pula ulama yang diperlakukan demikian, namun belum ditemukan pelakunya hingga kini. Misalnya, Arifin Ilham dan Imam Besar FPI Rizieq Shihab.

“Habib Rizieq, Ustaz Arifin Ilham. Itu juga dipakaikan pakaian sinterklas. Itu sudah dilaporkan ke polisi beberapa tahun yang lalu tapi tidak ada progresnya,” kata Hidayat.

“Ketika penegakkan hukum tidak adil, ini adalah politisasi agama,” uarnya.