Saturday, December 1, 2018

Sandiaga: Hidup Ini Senda Gurau, Buat Apa Cekcok Karena Politik

Sandiaga Uno (Foto: Istimewa)

Jurnalindonesia.co.id - Cawapres Sandiaga Uno menyesali percekcokan yang terjadi di masyarakat akibat perbedaan pandangan politik pada Pilpres 2019. Apalagi jika percekcokan berujung kisruh, mengalami kerugian sampai mengakibatkan kematian.

Mantan gubernur DKI itu mengatakan bahwa perbedaan politik seyogianya ditanggapi dengan wajah. Menurut Sandiaga, perbedaan politik adalah hal yang lazim dan tak perlu disikapi dengan negatif.

"Mari kita justru gunakan perbedaan kita untuk membangun Indonesia yang lebih baik," kata Sandiaga di sela kunjungannya ke sejumlah wilayah di Jakarta Barat, Jumat (30/11).

Hal tersebut disampaikan Sandiaga menanggapi kasus pembunuhan di Sampang, Madura, Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Dua warga, Idrus dan Subaidi, terlibat cekcok di media sosial akibat perbedaan pilihan calon Presiden. Nahas, percekcokan itu berujung maut pada kematian Subaidi.

Baca Juga: 2 Pria Terlibat Duel Gara-gara Status soal Pilpres di Facebook, 1 Orang Tewas


Menurutnya, baik peserta pemilu maupun masyarakat, harus sama-sama berkomitmen menjaga kedamaian. Seluruh pihak harus mampu mengontrol diri meski perbedaan pandangan politik itu hadir di tengah-tengah.

"Kalau kita komitmen dengan kampanye damai, sejuk, kita harus turunkan tensi politik kita. Jangan saling memprovokasi, itu harapan kita ke depan," ujarnya.

Dirinya juga menyebut bahwa hidup seyogianya diisi dengan canda dan bahagia serta saling menghormati satu sama lain. Terlebih, lanjut Sandi, di tahun politik seperti saat ini.

"Hidup ini senda gurau sebetulnya. Hidup ini harus kita yakini bahwa semuanya sudah tertulis. Jadi, buat apa masyarakat saling cekcok dan gontok-gontokan," ucap Sandiaga.

Diberitakan sebelumnya, sebuah percekcokan yang dipicu karena politik dan berujung duel maut terjadi di daerah Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang, Jawa Timur. Pria yang diketahui bernama Subaidi, tewas usai tubuhnya ditembus peluru pistol rakitan oleh pelaku bernama Idris atau Andika Bin Misnadin.

Baca Juga: Atas Arahan Habib Rizieq, Panitia Reuni 212 Batal Undang Jokowi


Bagaimana awal mula mereka terlibat pertikaian?

Berawal dari foto yang diunggah di Facebook. Unggahan tersebut memperlihatkan foto Habib Bahar sedang memegang samurai dengan kata-kata “Siapa pendukung Jokowi yang ingin merasakan pedang ini”.

Status itu kemudian dikomentari oleh akun Facebook atas nama Idris Afandi Afandi milik Andika, yang menyatakan siap menghadapi tantangan itu.

“Saya pingin merasakan tajamnya pedang Habib Bahar tersebut,” tulisnya.

Pada Minggu (18/11/2018) sekitar pukul 16.00 WIB, rekan Subaidi bernama Bahrud menyambangi rumah Andika untuk mengonfirmasi komentar tersebut. Bahrud datang dengan membawa tiga lembar kertas berisi screenshot postingan di dalam media sosial Facebook yang dikomentari Andika.

Andika pun membenarkan akun Idris Afandi Afandi tersebut memang miliknya, namun dia mengaku bukan dirinya yang menulis komentar itu. Andika mengatakan bahwa handphone-nya sudah dijual. Saat dijual, dia belum sempat log out dari Facebook.

“Pelaku mengaku ponselnya telah dijual dan tidak mengetahui siapa yang menulis komentar tersebut,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera, Sabtu (24/11/2018).

Beberapa hari kemudian, Subaidi mengunggah video Andika dan menyebutnya ketakutan hingga terkencing-kencing saat didatangi temannya.

Dalam video tersebut, Subaidi juga menuliskan keterangan akan membunuh Andika jika bertemu.

“Ini dia orang yang mau melawan Habib Bahar, ketakutan sampai kencing di celana saat didatangi FPI, saya tahu siapa kamu Idris dan kapan saja saya ketemu kamu akan saya bunuh kamu, cuma jadi LSM tai kamu itu jangan sok jago,” demikian tertulis di keterangan video tersebut.

Baca Juga: Sandiaga: Habib Bahar Tokoh Agama, yang Disampaikan Penuh Makna


Andika mengetahui video tersebut dari kakak iparnya yang bernama Farida. Farida menelepon Andika dan mengatakan bahwa di Facebook ada unggahan video tentang dirinya. Yang mengunggah adalah Ahmad Alfateh.

Mendengar hal itu, Andika mencari informasi dengan bertanya kepada rekannya yang seorang wartawan bernama Suryadi. Andika bertanya apakah benar seorang dengan nama akun Ahmed Alfateh mengunggah video. Suryadi membenarkan.

Andika kemudian mendatangi Sakroni untuk mencari informasi siapa pemilik akun Ahmed Alfateh tersebut. Andika bertanya ke Sakroni karena dia melihat foto profil Ahmed Alfateh menggunakan baju seperti dokter.

Ternyata Sakroni kenal pemilik akun Ahmed Alfateh dan diketahui bernama Subaidi. Andika sempat mendatangi rumah Subaidi dengan maksud mengklarifikasi soal postingan video itu. Namun dia tidak berhasil bertemu dengan Subaidi. Dia hanya bertemu mertua perempuannya.

Hingga pada Rabu (21/11/2018) siang, mereka pun bertemu dan terlibat duel.

“Tersangka menembak korban dengan menggunakan senjata api rakitan ke arah dada kiri bawah hingga menembus pinggang kanan bawah korban sebanyak satu kali. Hingga akhirnya korban meninggal dunia,” kata Kombes Frans Barung.

Andika kini mendekam di tahanan Polres Sampang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Andika dijerat dengan pasal pembunuhan berencana yakni Pasal 340 KUHP jo Pasal 56 ayat 1 ke 1e dan 2e KUHP atau Pasal 338 KUHP jo Pasal 1 ayat 1 UU Nomor 12/Drt/1951. Dia terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup atau selama-lamanya 20 tahun.

“Pelaku dijerat pasal berlapis tentang pembunuhan yang disengaja dan berencana dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup, atau penjara selama 20 tahun,” ujar Barung.

Subaidi sendiri diketahui merupakan anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) Desa/Kecamatan Sokobanah, Kabupaten Sampang.
close