Nasional, Uncategorized

Lagi, Keluarga Korban Lion Air PK-LQP Gugat Boeing ke Pengadilan AS

Jurnalindonesia.co.id – Keluarga korban pesawat Lion Air PK-LQP menggugat Boeing di pengadilan Amerika Serikat (AS).

Boeing merupakan perusahaan pembuat pesawat jenis 737 Max 8 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, pada Senin, 29 Oktober 2018, lalu. Kecelakaan itu menewaskan 189 orang, termasuk awak pesawat.

Gugatan terhadap Boeing itu dilakukan oleh orang tua almarhum Rio Nanda Pratama yang menjadi salah satu korban dari jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang. Ini adalah gugatan kedua yang diajukan keluarga almarhum Rio.

Awalnya mereka sudah mengajukan gugatan pada 16 November 2018 melalui kuasa pada firma hukum Colson Hicks Eidson.

Namun untuk kali ini, mereka mengajukan gugatan ganti rugi dengan didampingi pengacara dari firma hukum Ribbeck Law Chartered.

Manuel von Ribbeck yang berasal dari kantor hukum Ribbeck Law Chartered berharap ada banyak gugatan pada Boeing ke depannya karena ini merupakan masalah serius.

“Tidak ada alasan untuk menunggu laporan akhir dari investigasi karena bisa memakan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun, laporan akhir tidak akan menetapkan kewajiban; keputusan siapa yang bersalah dalam kecelakaan ini akan ditentukan oleh hakim atau juri di Amerika,” kata Von Ribbeck dalam keterangan persnya, Jumat (23/11/2018).

Baca Juga:  Dukung Baiq Nuril Dapat Keadilan, Ini Saran Presiden Jokowi

Selain itu, Deon Botha yang juga berasal dari Ribbeck Law Chartered menyebut pada tanggal 7 November 2018, Federal Aviation Administration (FAA) mengeluarkan Pedoman Kelayakan Darurat baru pada Boeing 737 MAX yang diarahkan pada apa yang ditetapkan sebagai ‘kondisi tidak aman’ yang mungkin ada atau berkembang di pesawat Boeing 737 MAX lainnya.

“Pesawat Boeing 737 MAX 8 yang baru itu dirancang dan diproduksi di Amerika Serikat.” katanya.

Ribbeck Law Chartered adalah firma hukum litigasi global yang berkonsentrasi pada bencana penerbangan di seluruh dunia. Perusahaan ini telah mewakili klien lebih dari 73 negara dan 47 kecelakaan pesawat penerbangan komersial.

Baca juga: Dukung Keluarga Korban Lion Air Tuntut Ganti Rugi, Hotman Paris: Di AS Bisa Triliunan Rupiah per Penumpang

Sebelumnya, dalam gugatan pertama, pihak Firma Hukum Colson Hicks Eidson yang mendapat kuasa dari keluarga almarhum Rio menyatakan bahwa pihak penyelidik dari Indonesia dilarang untuk menentukan siapa yang bertanggung jawab atau siapa yang bersalah, dan hanya diperbolehkan untuk membuat rekomendasi keselamatan untuk industri penerbangan di masa depan.

Baca Juga:  Terkait Kasus Dana Kemah, Dahnil Minta Jokowi Turun Tangan

“Inilah sebabnya mengapa tindakan hukum atas nama keluarga korban harus dilakukan. Investigasi oleh lembaga Pemerintah biasanya tidak akan memutuskan siapa yang bersalah dan tidak menyediakan ganti rugi yang adil kepada para keluarga korban. Inilah pentingnya gugatan perdata pribadi dalam tragedi seperti ini,” kata Curtis Miner dari Firma Hukum Colson Hicks Eidson dalam siaran pers, seperti dilansir detikcom, Jumat (16/11/2018).

Miner mengutip pemberitaan sejumlah media mengenai sistem kontrol penerbangan (flight control) otomatis yang terpasang pada pesawat Boeing 737 MAX namun Boeing tidak menyampaikan informasi mengenai potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sistem baru ini.

Para regulator penerbangan AS telah memerintahkan peninjauan kembali terhadap prosedur keselamatan pesawat Boeing dan mencari tahu mengenai informasi apa saja yang telah disampaikan ataupun tidak disampaikan kepada maskapai penerbangan mengenai sistem kendali penerbangan yang baru ini.

“Kabar ini sangat mengejutkan. Para ahli keamanan dan kepala serikat pilot menyatakan bahwa The Boeing Company telah gagal memperingatkan klien dan pilot pesawat 737 MAX mengenai perubahan sistem kontrol penerbangan yang signifikan ini dan gagal menyampaikan instruksi yang benar dalam manualnya,” kata Austin Bartlett dari BartlettChen LLC yang juga ikut mengajukan gugatan ini.

Baca Juga:  Dituduh Berselingkuh, Seorang Anggota Polsek Dikeroyok dan Ditahan Warga

Firma hukum Colson Hicks Eidson telah berpengalaman hampir 50 tahun menangani puluhan kecelakaan penerbangan yang terjadi di seluruh dunia atas nama penumpang. Di Indonesia, firma ini pernah menangani sejumlah kasus hukum untuk kecelakaan pesawat, seperti kasus Garuda Penerbangan 152, kasus Adam Air Penerbangan 574, dan kasus Lion Air pada tanggal 30 November 2004 di mana pesawat Lion Air Penerbangan 583 melakukan pendaratan darurat di Solo.

Baca juga: Keluarga Korban Lion Air JT 610 Berharap Dibangun Prasasti