Uncategorized

Waring Kontroversial Seharga Setengah Miliar di Kali Item Akhirnya Dicopot

Jurnalindonesia.co.id – Waring yang menutupi Kali Item, Jakarta Pusat, akhirnya dicopot, Kamis (15/11/2018).

Saat pertama kali dipasang pada Juli 2018 lalu, jaring seharga Rp580 juta itu menuai kontroversi.

Pencopotan itu karena di kali tersebut akan dibangun sheet pile atau turap.

Waring itu dipasang sekitar 4 bulan lalu. Waktu itu Indonesia bersiap menjadi tuan rumah Asian Games yang digelar Agustus 2018.

Sandiaga yang saat itu masih menjabat Wagub DKI mengatakan, anggaran untuk penyediaan waring adalah sekitar Rp580 juta.

“Kali Item total pagu anggaran Rp 580.833.000, terbagi tiga segmen,” kata Sandiaga, Selasa (24/7/2018).

Segmen 1 dan 2 dibangun sepanjang 240 meter dengan anggaran Rp 192.232.000 dan Rp 162.232.000. Sementara segmen 3 dibangun sepanjang 246 meter dengan anggaran Rp 196.369.000.

Baca: Memprihatinkan, Begini Kondisi Waring Kali Item Kini

Waring Kali Item dibongkar

Waring Kali Item dibongkar oleh Petugas Dinas Sumber Daya Air (SDA), Kamis (15/11/2018). (Foto: detikcom)

Pemasangan waring di Kali Item sempat menuai beragam respons. Salah satunya soal usulan kenapa lumpur di Kali Item tidak dikeruk dan malah ditutup dengan waring.

Media asing turut menyoroti penggunaan waring untuk menutupi bau di Kali Item. Media Channel News Asia, mengulas tentang penutupan Kali Item dengan waring dalam artikel berjudul ‘Jakarta covers up ‘stinky, toxic’ river near Asian Games village‘.

“Sungai beracun, berbau busuk dekat Wisma Atlet Asian Games di Jakarta ditutup oleh jaring nilon hitam karena ketakutan akan merusak pemandangan saat Asian Games berlangsung,” tulis Channel News Asia.

Baca: Media Asing Soroti Bendera Bambu Asian Games dan Waring di Kali Item

Waring Kali Item dibongkar

Waring Kali Item dibongkar oleh Petugas Dinas Sumber Daya Air (SDA), Kamis (15/11/2018). (Foto: detikcom)

Dosen teknik lingkungan ITB, Agus Jatnika, berpendapat, pemasangan waring sejatinya tidak berpengaruh pada penghilangan bau. Agus menyarankan penggunaan absorben untuk mengurangi bau.

“Misalnya karbon aktif dibungkus kain, ditanam di dalam air. Itu akan sangat membantu,” kata Agus, Jumat (20/7/2018).

Sindiran terkait pemasangan waring dilontarkan Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta Bestari Barus. Menurutnya, pemasangan jaring di Kali Item bukanlah solusi mengatasi bau. Dia menyinggung Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) yang mestinya memberikan solusi mengatasi masalah bau Kali Item.

“TGUPP itu kan ahli semua isinya. Ya, (TGUPP) harusnya bisa menemukan orang, ataupun lembaga, ataupun badan yang memang konsentrasi ke situ (menghilangkan bau dari kali),” kata Bestari.

Sementara Kepala Dinas Sumber Daya Air Teguh Hendrawan beralasan, pengerukan tak dilakukan lantaran khawatir rawan longsor.

“Kita mengeruk sedimen lumpur tidak berani melakukan di Kali Sentiong karena di sana belum dipasang sheet pile, masih parapet,” kata Teguh, Jumat (27/7).

Waring Kali Item dibongkar

Waring Kali Item dibongkar oleh Petugas Dinas Sumber Daya Air (SDA), Kamis (15/11/2018). (Foto: detikcom)

Tak hanya waring, di Kali Item juga disemprotkan pewangi. Penyemprotan difokuskan ke area di dekat Wisma Atlet.

Dan pada Kamis, 15 November 2018 ini, waring mulai dibongkar dan langkah penurapan akan segera dilakukan. Nantinya, kalau sudah diturap, berikutnya akan diambil langkah pengerukan.

“Kalau sudah di-sheetpile, mungkin nanti ada pengerukan. Karena kan kalau sekarang saya belum berani pengerukan nih, takut roboh. Soalnya, sekarang temboknya hanya pakai batu kali dan langsung bebannya jalanan umum,” kata Kasi Operasi dan Pemeliharaan Bidang Aliran Timur Dinas SDA DKI Adrian Mara Maulana, Rabu (14/11).

Adrian menjelaskan, tujuan pengerukan Kali Item adalah agar endapan lumpur terkuras dan aliran menjadi lancar. Pengerukan itu, lanjut Adrian, merupakan rencana jangka panjang Dinas SDA DKI.

“Dampak pengerukan itu, jadi begini, kan pengendapan lumpur banyak. Kalau lumpur semakin banyak, berarti intensitas air berkurang karena mengendap. Kalau lumpur kita keruk, berarti lancar tuh air dari hulu ke hilirnya,” ujar Adrian.

Jaring seharga Rp 580 juta itu hanya berumur kurang dari empat bulan.

Loading...