Uncategorized

Permohonan Ahmad Dhani: Tuntutan Saya Jangan Lebih Berat dari Ahok

Jurnalindonesia.co.id – Musisi Ahmad Dhani Prasetyo alias Ahmad Dhani telah di tetapkan sebagai terdakwa atas kasus ujaran kebencian. Dirinya meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan agar menuntutnya lebih rendah dibanding tuntutan terhadap mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang ketika itu berperkara dalam kasus penistaan agama.

Hal itu disampaikan Dhani dalam sidang lanjutan perkara dugaan ujaran kebencian yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin (5/11).

“Saya boleh memohon kepada JPU, Pak Hakim? Saya mohon kepada JPU supaya tuntutannya jangan lebih dari Ahok,” kata Ahmad Dhani di PN Jakarta Selatan, Ampera Raya, Jakarta Selatan, Senin (5/11/2018).

“(Agar) bisa menginspirasi,” imbuh Dhani.

Baca: Jadi Tersangka, Bagaimana Nasib Ahmad Dhani di Timses Prabowo?

Seusai persidangan, Ahmad Dhani menuturkan bahwa kasus Ahok lebih heboh daripada kasusnya. Sebab, untuk kasus Ahok, banyak orang yang melakukan demonstrasi. Karena itu, Dhani meminta jaksa tak menuntutnya lebih tinggi dari Ahok.

“Saya minta kepada jaksa supaya tuntutan yang diberikan kepada saya jangan lebih dari Ahok, karena Ahok lebih berat. Masa Ahok sudah bikin heboh se-Indonesia sampai jutaan orang datang ke Jakarta hanya untuk tuntut Ahok, (lalu) saya dituntut lebih dari Ahok, kan nggak mungkin. Secara logika itu kan menghina logika hukum Indonesia,” ujar pentolan Dewa 19 itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh kuasa hukum Dhani, Hendarsam Marantoko. Hendarsam mengatakan, jika JPU mengaitkan twit Dhani dengan kasus Ahok, maka seharusnya tuntutan kepada kliennya lebih rendah.

“Kalau jaksa mengonotasikan twit saya ke Ahok, ya (tuntutan) jangan lebih berat dari Ahok,” ujar Dhani.

Dalam sidang tersebut, Dirinya mengaku bahwa satu dari tiga twit itu adalah tulisannya. Twit yang diunggah Dhani pada 6 Maret 2017 itu berbunyi “Siapa saja yang dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi muka nya – ADP.

Dhani kemudian membantah jika dua twit lainnya adalah ia yang menulis. Twit itu diunggah pada 7 Februari 2017 dan 7 Maret 2017.

Baca: Gerinda: Penetapan Tersangka Ahmad Dhani Merusak Nalar Kita

Dalam penjelasannya, mantan suami Maia Estianty itu mengatakan bahwa twit tanggal 7 Februari ditulis oleh Fahrul Fauzi Putra, salah satu relawan Dhani di Pilkada Kabupaten Bekasi, dan diberi kewenangan untuk memegang handphone milik Dhani.

Sedangkan twit 7 Maret ditulis oleh Ashabi Akhyar, yang juga salah satu timses yang mendukung dan mendapat wewenang Dhani untuk memegang handphone Dhani selama menjadi calon wakil bupati.

Adapun Dhani dan juga kedua relawan mengirimkan salinan kalimat melalui WhatsApp kepada Suryopratomo Bimo, yang merupakan admin akun @AHMADDHANIPRAST. Bimo kemudian mengunggah kalimat yang diterima ke akun tersebut.

“Itu (dua-duanya) bukan saya yang buat. Saya masih bertahan menurut keterangan di BAP,” kata Dhani.

Sebagai informasi, saat itu jaksa menuntut Ahok dengan hukuman 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun. Namun, hakim akhirnya menjatuhkan vonis 2 tahun penjara kepada Ahok.

Dalam kasus dugaan ujaran kebencian ini, Dhani didakwa pasal berlapis. JPU mendakwa Dhani dengan Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

Kasus Dhani ini bermula dari laporan yang diajukan Jack Boyd Lapian. Jack yang mengklaim sebagai pendukung Ahok melaporkan unggahan Dhani di akun Twitter @AHMADDHANIPRAST.

Ia menilai, kicauan Ahmad Dhani di Twitter berisi kebencian. Dalam akun tersebut Dhani menulis, ‘Siapa saja yang dukung penista agama adalah bajingan yang perlu diludahi mukanya -ADP.’

Loading...