Uncategorized

Buntut Pidato "Tampang Boyolali", dari Tagar #SaveMukaBoyolali hingga Aksi "Boyolali Bermartabat"

Jurnalindonesia.co.id – Tagar #SaveMukaBoyolali dan #BoyolaliBermartabat sempat bertengger di daftar trending topic Twitter Indonesia.

Tagar tersebut disuarakan warganet sebagai buntut dari pidato Prabowo Subianto yang dianggap menyinggung warga Boyolali pada Selasa (30/10/2018) lalu.

Selain tagar, warga juga menggelar aksi ‘Boyolali Bermartabat’ di Gedung Mahesa Boyolali pada Minggu (4/11/2018).

Belasan ribu warga Boyolali memadati sejumlah titik di pusat kota, yaitu di gedung Mahesa dan di monumen susu segar dekat Pasar Boyolali.

Aksi Boyolali Bermartabat

Aksi Boyolali Bermartabat di Gedung Mahesa Boyolali, Minggu (4/11/2018) siang. (Foto: Tribunnews)

Mereka membawa spanduk dan poster dengan berbagai tulisan, antara lain #SaveTampangBoyolali, #2019TetapTampangboyolali, Prabowo Harus Minta Maaf, Boyolali Bermartabat dan sebagainya.

Aksi tersebut digelar masyarakat Boyolali untuk mendesak agar Calon Presiden (Capres) nomor urut 02 Prabowo Subianto meminta maaf secara terbuka.

Kepada Tribunnews.com, seorang warga Boyolali bernama S Paryanto mengatakan, aksi ini tidak ada unsur politis sama sekali.

“Yang kami perlukan adalah Prabowo minta maaf kepada warga Boyolali secara terbuka, karena pidatonya yakni ‘Tampang Boyolali’ itu menyinggung perasaan warga Boyolali,” ujarnya.

Baca Juga:  4 Cara Mendapatkan dan Booking hotel promo

https://twitter.com/DimasAr017/status/1058905025760550913

Sebelumnya, Prabowo juga sudah dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh seorang pria bernama Dakun yang mengaku berasal dari Boyolali, Jawa Tengah, pada Jumat (2/11/2018) malam.

Kuasa hukum Dakun, Muannas Alaidid, mengatakan bahwa kliennya melaporkan Prabowo karena ucapan ‘tampang Boyolali’ dalam pidatonya di Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu.

“Saya asli dari Boyolali, kami merasa tersinggung dengan ucapan Pak Prabowo, bahwa masyarakat Boyolali itu kalau masuk mal atau masuk hotel itu diusir karena tampangnya itu tampang Boyolali,” kata Dakun, Jumat (2/11/2018) malam.

Dakun menegaskan bahwa laporannya tersebut atas nama pribadi, sebagai masyarakat Boyolali yang tersinggung sehingga mengalami kerugian imaterial.

“Saya asli dari Boyolali, kami merasa tersinggung dengan ucapan Pak Prabowo, bahwa masyarakat Boyolali itu kalau masuk mal atau masuk hotel itu diusir karena tampangnya itu tampang Boyolali,” kata dia.

Potongan kalimat dalam pidato Prabowo yang dipermasalahkan adalah: “…dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? (Betul, sahut hadirin yang ada di acara tersebut). Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini.”

Baca Juga:  Gerindra Akui Kinerja Anies Baswedan Selama Setahun Lambat

Menurut Muannas, pernyataan tersebut tak layak diucapkan.

“Mungkin ada yang menerima tapi jangan membatasi juga kemudian ada yang tersinggung, mungkin yang hadir di situ ada pendukungnya Pak Prabowo, tapi ada juga pendukungnya Pak Jokowi, mungkin merasa tersinggung,” ucap Muannas.

Dakun melaporkan Prabowo atas dugaan mendistribusikan informasi elektronik yang bermuatan kebencian sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 ayat 2 jo Pasal 45 A 2 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan/atau Pasal 4 huruf b angka 2 jo Pasal 16 UU RI nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan/atau Pasal 165 KUHP.

Dampak negatif

Pengamat Sosiologi Politik dari Airlangga, Novri Susan, menilai, Prabowo melakukan blunder terkait pidato ‘Tampang Boyolali’. Menurutnya, pidato tersebut berimbas negatif pada elektabilitas terutama di kalangan pemilih millenial dan pemilih pemula.

Baca Juga:  Amien Rais Akan Jewer Haedar Nasir Jika Muhammadiyah Bebaskan Pilihandi Pilpres 2019

“Apalagi jika dalam konteks kepentingan polling yang dilakukan dalam pemilihan saat ini, bisa jadi suaranya menurun, terutama di kalangan pemilih-pemilih yang tidak terikat secara ideologis,” kata Novri, Minggu (4/11/2018).

Menurut Novri, para pemilih yang tidak terikat ideologis cenderung dipenuhi oleh millenial dan pemilih pemula.

Sementara itu, pemilih pemula dan millenial lebih cenderung akan melihat dan menilai apa yang berdasarkan mereka lihat, apakah itu positif atau negatif.

“Kalau millenial menganggap itu negatif saat ini, bisa jadi suara dari Prabowo-Sandi jelek. Maka tim pemenangan politik Prabowo gimana caranya bisa menetralisir itu, bagaimana bisa mengembalikan bahwa Prabowo tidak di stigma sebagai elit yang rasis, merendahkan kelompok atau masyarakat tertentu. Karena ini sensitif sekali,” pungkasnya.