Uncategorized

Presdir Lion Air: Mana Mungkin Pilot Asing Gajinya Rp3,7 juta, Siapa yang Mau?

Jurnalindonesia.co.id – Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait menjawab isu seputar gaji pilot yang menerbangkan pesawat JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang yang mengalami kecelakaan pada Senin (291/10/2018) lalu.

Edward membantah jika Bhavye Suneja, pilot yang menerbangkan pesawat tersebut, digaji hanya sebesar Rp3,7 juta.

“Mana mungkin pilot asing gajinya Rp 3,7 juta, siapa yang mau? Jadi jawaban saya itu saja. Jadi itu nggak bener. Jawaban saya gitu aja,” kata Edward di Jakarta, Kamis (1/11/2018), seperti dilansir detikfinance.

Bhavye sendiri merupakan pilot asing asal India yang bekerja untuk Lion Air.

Edward mengatakan, besaran gaji yang diberikan lion air kepada pilot asing minimal sebesar US$ 9.000 atau setara Rp 135 Juta (kurs: Rp 15.000/dolar AS). Sedangkan untuk pilot lokal dia tak mau menyebutkannya.

“Gaji pilot asing di Lion Air itu minimum US$ 9.000 dolar, itu pilot asing. (Pilot lokal?) Nanti kalau saya sebutin ribut lagi di luar, ya udah itu dulu ya. Karena kalau penghasilan orang jangan kita raba-raba lah nggak enak,” katanya.

Baca Juga:  Pertanyaan-pertanyaan yang Belum Terjawab Seputar Jatuhnya Lion Air JT610

Sementara di laporan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJS-TK) tercatat gaji Bhavye hanya sebesar Rp3,7 juta.

Baca: Aneh, Gaji Pilot Lion Air yang Dilaporkan ke BPJS-TK Cuma Rp3,7 Juta

Edward mengakui ada perbedaan laporan dari perusahaan kepada BPJS-TK soal gaji pilot tersebut. Meski demikian Edward tak menjelaskan mengapa Lion Air memberikan laporan yang berbeda kepada BPJS Ketenagakerjaan.

“Itu dulu mungkin waktu kita melaporkan mereka ikut BPJS sebagai tenaga kerja asing, jadi kita ambil itu. Bukan penghasilan mereka,” katanya.

“Yang pasti nggak mungkin pilot itu gajinya (Rp 3,7 juta). Tapi kaitannya dengan BPJS (Ketenagakerjaan) sebagai tenaga kerja asing memang ada catatannya,” lanjutnya.

Selain membantah besaran gaji pilotnya, dia juga membantah mengenai besaran gaji pramugari yang diterima hanya sebesar Rp3,6 juta. Menurutnya, pramugari baru saja bisa mendapatkan lebih dari Rp 6 juta per bulannya

“Pramugari sama, mereka gajinya UMP tapi kan penghasilan lainnya jam terbang segala macam. Pramugari itu kalau dia terima bisa di atas Rp 6 juta yg baru, total. Itu penghasilan ya. Karena ada variabel nya mereka,” ujarnya.

Baca Juga:  Sekali Lagi Mangkir, Ahmad Dhani Terancam Dijemput Paksa

Baca juga: Pengakuan Mantan Pramugari Lion Air yang Tak Dapat Kompensasi Usai Alami Kecelakaan

Isu mengenai gaji yang diterima pilot Lion Air ini mencuat setelah pihak BPJS Ketenagakerjaan mengungkap besaran tunjangan yang diterima Bhavye Suneja terkait kecelakaan tersebut.

Dirut BPJS-TK Agus Susanto mengaku heran gaji pilot yang tercatat di sebesar Rp3,7 juta.

Agus pun mempertanyakan besaran gaji pilot tersebut. Namun, dia menegaskan bahwa data gaji pilot tersebut dilaporkan oleh perusahaan yang bersangkutan, yakni Lion Air.

“Cukup menimbulkan pertanyaan. Masak sih pilot gajinya cuma Rp 3,7 juta. Ini yang melaporkan dari perusahaan,” kata Agus di RS Polri, Jakarta Timur, Rabu (31/10/2018).

Agus menilai, besaran gaji tersebut patut dipertanyakan karena dianggap terlalu rendah.

Baca juga: Sebelum Jadi Korban Lion Air JT 610, Pramugari Ini Sempat Curhat 7 Bulan Gajinya Belum Dibayar

Baca Juga:  Sebelum Jatuh di Laut, Pilot Lion Air Sempat Minta Kembali ke Bandara

Tak hanya itu, tanda tanya juga muncul saat diperbandingkan dengan gaji kopilot Harvino yang besarannya mencapai Rp20 juta. Sementara gaji pramugari Lion Air JT 610 yang dilaporkan sebesar Rp 3,6 juta.

Beda jauh antara gaji pilot dan kopilot juga memicu pertanyaan.

“Tentunya kita bertanya, masa gajinya segitu. Demikian dasar untuk memberikan manfaat (dana) itu berdasarkan upah yang dilaporkan itu. Jadi, kalau gajinya Rp 30 juta hanya dilaporkan Rp 3 juta, artinya si karyawan ini dirugikan. Seharusnya menerima 48 dikali Rp 30 juta. Ternyata hanya menerima 48 dikali Rp 3 juta,” ujar Agus.

“Itu perlu diklarifikasi ke perusahaan,” ucapnya.

Adapun BPJS-TK memiliki kewajiban untuk memberi santunan sebesar upah korban dikali 48.