Uncategorized

Mulai Berlaku Hari Ini, Berikut Hal-hal yang Perlu Anda Ketahui soal Tilang Elektronik ETLE

Jurnalindonesia.co.id – Setelah diuji coba selama sebulan, sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) resmi diterapkan mulai hari ini, Kamis, 1 November 2018.

Sistem tilang ini mengandalkan kamera Closed Circuit Television (CCTV) berteknologi canggih yang akan memantau pelanggaran lalu lintas. Jika pengendara terbukti melakukan pelanggaran, polisi akan menerbitkan surat tilang.

“CCTV tersebut bisa merekam, meng-capture pelanggaran, pelat nomor kendaraan di lapangan kemudian terkoneksi di back office TMC Polda Metro Jaya. Nanti dari back office ada petugas dari Gakkum dan Regident yang akan mengecek database tersebut,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Yusuf, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Rabu (26/9/2018).

Berikut informasi yang perlu anda ketahui mengenai sistem tilang elektronik ETLE:

1. Diterapkan di Patung Kuda dan Sarinah

Kamera CCTV ETLE terpasang di persimpangan Patung Kuda dekat Monas dan di persimpangan Sarinah, Jakarta Pusat.

Kawasan yang diawasi kamera CCTV diberi rambu khusus berupa plang portable yang diletakkan dekat traffic light.

Selama uji coba berlangsung, polisi telah melakukan sosialisasi di dua kawasan ini melalui penyebaran brosur dan pembentangan spanduk.

2. Pelanggaran yang terdeteksi

Menurut rencana, jenis-jenis pelanggaran yang dapat terdeteksi ETLE adalah pelanggaran ganjil-genap, pelanggaran marka dan rambu jalan, pelanggaran batas kecepatan, kesalahan jalur, kelebihan daya angkut dan dimensi, dan menerobos lampu lalu lintas.

Baca Juga:  Dari India, Orang Tua Pilot Lion Air JT 610 Bertolak ke Indonesia

Kemudian melawan arus, mengemudi dengan kecepatan melebihi batas, tidak menggunakan helm, tidak menggunakan sabuk pengaman, dan menggunakan ponsel saat berkendara.

Sebagai langkah awal, kamera ETLE ini akan menangkap gambar dan video pelanggaran marka jalan.

“Jadi kami menggunakan marka jalan sebagai sensor virtual dan traffic light sebagai trigger dalam sistem kami. Jadi pengendara yang melewati garis saat traffic light menyala merah akan otomatis terekam dan tertangkap gambarnya. Secara garis besar prosesnya begitu,” ujar Yusuf.

tilang elektronik etle

Jajaran Ditlantas Polda Metro Jaya melakukan sosialisasi sistem tilang elektronik atau ETLE, Senin (15/10/2018). (Foto: Kompas.com/Sherly Puspita)

3. Alur tilang

Alur tilang ETLE dimulai dari tangkapan gambar pelanggaran pengendara yang otomatis terkirim ke back office TMC Polda Metro Jaya.

Petugas kemudian melakukan analisis terhadap pelanggaran tersebut.

Proses analisis hingga pengiriman surat konfirmasi kepada pemilik kendaraan dilakukan dalam tenggang waktu tiga hari.

Setelah itu, pelanggar diberi waktu tujuh hari menjawab surat konfirmasi tersebut.

Klarifikasi pemilik kendaraan dapat dilakukan dengan dua cara, yakni melalui situs web atau aplikasi yang dapat diunduh di Google Play Store.

Klarifikasi juga dapat dilakukan manual dengan mengirimkan blangko lampiran di surat klarifikasi yang bisa dikirimkan ke petugas.

Baca Juga:  Jalur Baru Dibangun, Ciwidey-Cianjur Bisa Ditempuh Hanya 2,5 Jam

Blangko klarifikasi dilengkapi foto saat pengemudi melakukan pelanggaran yang tertangkap CCTV.

Setelah itu, pemilik kendaraan diberikan waktu tujuh hari melakukan pembayaran denda tilang melalui bank.

Yusuf mengatakan, STNK pengendara akan diblokir jika tidak menindaklanjuti tahapan tilang.

“Jadi misalnya selama 10 hari waktu konfirmasi pemilik kendaraan tidak merespons, maka akan dilalukan pemblokiran. Lalu ketika dia mengonfirmasi, tetapi tidak segera membayar, maka akan diblokir juga STNK-nya,” ujar Yusuf.

Proses tilang ETLE di Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, Senin (1/10/2018). (Foto: Kompas.com/Sherly Puspita)

4. Berlaku untuk motor dan mobil

Tilang ETLE berlaku untuk pengendara motor dan mobil.

Yusuf mengatakan, tidak ada pengecualian kendaraan dalam penindakan pelanggaran lalu lintas sistem ETLE.

Pengendara yang merupakan anggota polisi, TNI, PNS, atau pejabat akan ditindak sesuai mekanisme masing-masing.

“Kalau polisi nanti akan ditindak Propam, TNI oleh polisi militer, lalu PNS dan pejabat lainnya akan ada mekanismenya sendiri,” kata Yusuf.

5. Kendaraan non-pelat B ditilang manual

Kendaraan yang bukan berpelat nomor B belum dapat ditilang dengan sistem tilang ETLE.

Adapun pelat kendaraan B adalah kode yang terdaftar di wilayah kepolisian kota Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Depok.

Baca Juga:  Anies Pastikan Datang ke Reuni 212 Meski Mengaku Bukan Alumni

“Jadi begini, di luar (pelat) B itu sementara masih belum saya masukkan ke dalam sistem (ETLE). Mungkin next, beberapa bulan, enggak lama-lamalah, kami connect-kan dengan Korlantas, seluruh Indonesia (terhubung),” ujar Yusuf.

Meski sistem tilang ETLE telah berbasis teknologi, tetap ada anggota polisi di lapangan yang akan mengawasi proses tilang ini.

Tilang elektronik ETLE

Kamera CCTV yang sudah terpasang di Simpang Sarinah Jalan MH Thamrin, untuk implementasi ETLE atau tilang elektronik. (Foto: Kompas.com/Ghulam M Nayazri)

6. Menangkap pelat kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi

Kamera CCTV ETLE dapat menangkap foto pelat nomor kendaraan yang melaju dengan kecepatan hingga 300 kilometer per jam.

Selain itu, CCTV yang didatangkan dari China ini juga dapat menangkap gambar pengendara sebelum, saat, dan sesudah melakukan pelanggaran lalu lintas.

CCTV tersebut juga dapat mengirimkan video berdurasi 10 detik yang menunjukkan proses sebelum, saat, dan sesudah melakukan pelanggaran.

7. Mengawasi pelanggaran selama 24 jam

CCTV ETLE akan mengawasi pelanggaran selama 24 jam. Hal inilah yang menjadi salah satu keunggulan tilang ETLE.

Pada malam hari atau di saat tidak ada lagi petugas yang mengawasi, pelanggaran tetap dapat terekam.

Yusuf mengatakan, penerapan sistem tilang elektronik ini juga bertujuan mengubah budaya masyarakat menjadi lebih tertib.

KOMPAS