Uncategorized

Gerindra Desak Penyelidikan Lion Air JT-610: Jokowi Jangan Beri Perlindungan!

Jurnalindonesia.co.id – Pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang, jatuh di perairan Tanjung Karawang pada Senin (29/10/2018) pagi.

Yang sempat memicu pertanyaan adalah, pesawat yang membawa 189 penumpang beserta kru dan awak kabin itu termasuk pesawat baru. Pesawat tipe Boeing 737 MAX 8 tersebut adalah generasi terbaru Boeing yang diproduksi pada 2018.

Juga, baru dua bulan atau pada 15 Agustus 2018 lalu pesawat itu mulai dioperasikan.

Sebagian pihak menduga, kecelakaan disebabkan oleh buruknya sistem maintenance dan crew training.

Atas dasar itulah pihak kepolisian diminta melakukan investigasi terhadap maintenance system dan crew training di Lion Air.

Permintaan itu disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Gerindra Arief Poyuono melalui pesan elektroniknya, Selasa (30/10/2018) malam.

Menurutnya, jika memang benar kecelakaan tersebut akibat maintenance dan crew training pesawat yang tidak sesuai CASR (Civil Aviation Safety Regulation), maka harus ada tindakan tegas.

“Pemilik dan manajemen Lion Air bisa dikatagorikan melakukan tindak pidana kriminal dalam menjalankan usahanya,” kata Arief.

Tak hanya itu, juga berarti bahwa perusahaan bisa dianggap lalai yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang.

“Secara lalai sehingga menyebabkan kerugian dan hilangnya nyawa seseorang,” lanjutnya.

Anak buah Prabowo Subianto itu kemudian menyinggung kasus pilot Garuda, M Marwoto Komar, yang diadili akibat melakukan pendaratan darurat di Yogyakarta pada Maret 2007 silam.

Marwoto saat itu divonis dua tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Sleman. Dia dinilai bersalah telah melakukan tindak pidana karena kealpaannya menyebabkan matinya orang dan menimbulkan bahaya bagi orang lain sesuai Pasal 479 G (b) dan 479 G (a) KUHP.

Selain itu, Arief juga meminta pemerintah untuk tidak mengintervensi investigasi yang dilakukan kepolisian.

“Jangan karena dekat dengan Rusdi Kirana (pemilik Lion Air), Jokowi memberikan perlindungan,” ujar Arief.

Baca: Politikus Gerindra Kritik Lambannya Respons Pemerintah Terkait Kecelakaan Lion Air

Untuk informasi, Pediri Lion Group, Rusdi Kirana, saat ini menjabat duta besar RI untuk Malaysia. Sebelum jadi dubes, dia pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Arief lantas mengingatkan Jokowi untuk tidak percaya dengan kampanye jika Lion Air ditutup akan merugikan ekonomi nasional. Terlebih, jika nantinya terjadi PHK dan berkurangnya frekuensi penerbangan sipil di Indonesia.

Pasalnya, kata Arief, Lion Air sudah sering mengalami kecelakaan yang justru akan membuat citra pemerintah sangat buruk di dunia internasional.

“KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) harus jujur dan jangan masuk angin dalam menyelidiki kecelakaan JT-610,” pungkas Arief.

Dikutip dari Global news, CEO Aero Consulting Experts, Ross Aimer menjelaskan, model Boeing yang jatuh di Tanjung Karawang adalah jenis baru.

Boeing tipe ini memiliki banyak teknologi baru.

Menurut pilot senior mantan pilot United Airlines ini, sebagian besar maskapai penerbangan akan menawarkan pelatihan untuk pilot yang menggunakan pesawat baru.

Tetapi tidak jelas apakah Lion Air melakukannya.

“Saya tidak yakin Lion Air melakukan pelatihan ekstensif terhadap pilot mereka. Mereka tidak memiliki catatan keamanan yang bagus, mereka dilarang dari wilayah udara Uni Eropa selama beberapa tahun,” kata Aimer.

Namun pakar penerbangan tersebut mengaku sulit untuk menyalahkan perusahaan pesawat dengan dalih pelatihan, dan menyarankan maskapai lain untuk mengambil tindakan, sampai penyebab kecelakaan itu ditentukan.

“Mereka harus dapat mengekstrak suara dan perekam data segera, yang akan memberi kita semua indikasi dari apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Aimer.

Baca juga: Dukung Keluarga Korban Lion Air Tuntut Ganti Rugi, Hotman Paris: Di AS Bisa Triliunan Rupiah per Penumpang

Founder Aviation Safety Network, Harro Ranter juga memiliki keraguan yang sama. Dia meragukan maskapai tidak dapat melatih atau merekrut pilot yang cukup berkualitas.

“Indonesia memang menonjol. Mereka memang memiliki beberapa kecelakaan yang sangat buruk di masa lalu,” kata Ranter.

“Sulit untuk menilai apakah mereka telah membuat kemajuan yang cukup bagus menyangkut kontrol dan standar keamanan,” lanjutnya.

Baca juga: Pramugari Bantah Pernyataan Conchita Caroline Soal Lion Air Bermasalah di Bali