Uncategorized

Dukung Keluarga Korban Lion Air Tuntut Ganti Rugi, Hotman Paris: Di AS Bisa Triliunan Rupiah per Penumpang

Jurnalindonesia.co.id – Pengacara Hotman Paris Hutapea angkat bicara mengenai insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT610.

Hotman mengatakan, keluarga korban bisa meminta ganti rugi terkait peristiwa tersebut.

Pengacara kelahiran Sumatera Utara itu membandingkan korban kecelakaan pesawat seperti Lion Air JT610 dengan yang terjadi di Amerika Serikat.

Selain itu, Hotman juga menyinggung soal tiket murah yang menurutnya tak sebanding dengan harga nyawa.

“Salam Kopi Johny,” kata Hotman mengawali kuliah hukumnya, Selasa (30/10/2018).

“Kuliah hukum pagi ini adalah: apa tanggung jawab dari perusahaan pemilik penerbangan dan pabrikan?”

Dua puluh tahun lalu, tutur Hotman, ada pengacara datang dari Amerika Serikat ke Indonesia untuk menemui ahli waris yang keluarganya meninggal korban kecelakaan pesawat di Amerika.

Kedatangan pengacara itu, lanjut Hotman, untuk memberikan ganti rugi kecelakaan pesawat pada keluarga korban.

“Dan ternyata ahli waris tersebut berhasil mendapatkan ganti rugi dari pabrikan. Pabrikan pesawat,” ujar Hotman.

Hotman menambahkan, keluarga korban yang menuntut ganti rugi atas kecelakaan pesawat merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada pihak maskapai.

Bukan hanya sekedar mematuhi undang-undang yang ada.

“Jadi tanggung jawab itu tidak terbatas dengan apa yang tertulis dalam undang-undang,” tegas Hotman.

Masyarakat Indonesia, kata Hotman, harus tahu bahwa keluarga korban kecelakaan pesawat berhak menuntut ganti rugi sebesar-besarnya.

Ganti rugi yang diajukan keluarga korban kecelakaan pesawat ini di luar jumlah pertanggungan atau klaim, yang biasanya diatur dalam undang-undang.

Apalagi, menurut Hotman, jika kecelakaan tersebut terjadi karena kelalaian.

“Terutama kalau kecelakaan pesawat tersebut karena kesalahan atau ignorance, atau human error atau cacat tersembunyi, atau sudah tahu sebelumnya pesawat itu cacat tapi dipaksakan terbang,” ucap Hotman.

Akan tetapi, menurut Hotman, karakter masyarakat Indonesia ini cepat puas dengan ganti rugi yang diterimanya. Dan inilah yang menjadi permasalahannya.

“Masalahnya, masyarakat Indonesia itu suka kalau dikasih 100 juta sampai 500 juta, suka langsung puas,” tutur Hotman.

Hotman pun kemudian membandingkannya dengan Amerika Serikat.

Menurutnya, jika ada kecelakaan pesawat karena kelalaian nyawa seorang penumpang bisa dihargai triliunan rupiah.

“Kalau di Amerika nyawa bisa triliun-triliun rupiah per penumpang atau adanya human error atau ignorance atau kesalahan,” tuturnya.

Di video sebelumnya, Hotman juga menyindir soal perbedaan karakter korban kecelakaan pesawat di Indonesia dengan di Amerika Serikat perihal tuntutan ganti rugi.

“Keselamatan penumpang pengangkutan udara jauh lebih penting dari tiket murah. Kalau tiket murah, otomatis murah, maka pilotnya juga akan dipilih juga dari yang kurang berkualitas. Itu gambaran umumnya,” ujar Hotman.

Ia pun mengaku tidak masalah jika pihak pesawat penerbangan menerapkan tarif mahal, asal kualitasnya baik.

Tak hanya itu, Hotman juga meminta pihak Garuda Indonesia agar ‘menggudangkan’ semua pesawat yang sudah tua dan segera menggantinya dengan yang baru.

Menurut Hotman, harga tiket pesawat yang murah tak ada artinya jika harus digantikan dengan nyawa yang melayang.

“Apa artinya murah kalau nyawa manusia akhirnya juga melayang,” tegas Hotman.

Di akhir kuliahnya, Hotman menyemangati agar para keluarga korban Lion Air JT610 tetap berjuang memperjuangkan hak-hak para penumpang pesawat.

“Selamat berjuang para keluarga,” ucapnya.

Dilansir dari hukumonline.com, Prof. Mieke Komar Kantaatmadja, ahli hukum udara dan angkasa dari Universitas Padjajaran, berpendapat bahwa setiap kecelakaan pesawat, pihak pertama yang harus bertanggung jawab adalah maskapai penerbangan.

Mengenai ganti rugi ini diatur dalam pasal 141 ayat 1 No.1 tahun 2009 tentang penerbangan (UU Penerbangan):

“Pengangkut bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, atau luka-luka yang diakibatkan kejadian angkutan udara di dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat udara.”

Berikut ini adalah ketentuan-ketentuan untuk klaim ganti rugi pada korban kecelakaan pesawat:

1. Penumpang meninggal

Penumpang pesawat yang meninggal dunia di dalam pesawat udara akibat kecelakaan pesawat udara diberik ganti kerugian sebesar Rp1,25 miliar setiap penumpang.

Sedang jika penumpang meninggal di luar pesawat (saat meninggalkan ruang tunggu bandara ke pesawat atau saat turun dari pesawat ke ruang kedatangan bandara tujuan dan/atau bandara transit), diberikan ganti rugi sebesar Rp500 juta untuk setiap penumpang.

2. Cacat Tetap

Grafik ganti rugi pesawat

Bagi penumpang yang dinyatakan cacat tetap oleh dokter dalam jangka waktu paling lambat 60 hari kerja sejak terjadinya kecelakaan, korban diberikan ganti rugi sebesar Rp1,25 miliar untuk setiap penumpang.

Cacat tetap adalah kehilangan atau menyebabkan tidak berfungsinya salah satu anggota badan atau yang mempengaruhi aktivitas secara normal seperti hilangnya tangan, kaki, atau mata.

Termasuk dalam pengertian cacat tetap adalah cacat mental.

3. Cacat tetap sebagian

Cacat tetap sebagian adalah kehilangan sebagian dari salah satu anggota badan, namun tidak mengurangi fungsi dari anggota badan tersebut untuk beraktvitas seperti hilangnya salah satu mata, salah satu lengan mulai dari bahu, salah satu kaki.

Berikut ini adalah yang termasuk dalam cacat tetap sebagian:

  • Satu mata

Jika pada saat kecelakaan korban kehilangan satu matanya, dia akan mendapat ganti rugi Rp150 juta.

  •  Pendengaran

Jika pendengaran hilang karena kecelakaan, korban mendapat ganti rugi Rp150 juta.

  • Ibu jari tangan kanan

Jika seseorang kehilangan ibu jari tangan kanan karena kecelakaan, dia berhak mendapat Rp125 juta (Rp62,5 juta untuk tiap satu ruas).

  • Jari kelingking kanan

Jika karena kecelakaan hilang jari kelingking kanan, seseorang berhak mendapat ganti rugi Rp62,5 juta (Rp20 juta setiap ruas jari).

  • Jari tengah atau jari manis kanan

Apabila karena kecelakaan hilang jari tengah atau jari manis sebelah kanan, korban berhak memperoleh ganti rugi Rp50 juta (tiap satu ruas jari Rp16,5 juta).

  • Jari telunjuk kanan

Jika kecelakaan menyebabkan jari telunjuk kanan hilang, korban akan mendapat ganti rugi Rp100 juta (Rp50 juta tiap satu ruas).

  • Jari telunjuk kiri

Jika jari telunjuk kiri hilang karena kecelakaan, korban berhak mendapat ganti rugi Rp125 juta (Rp25 juta tiap ruas jari).

  • Jari kelingking kiri

Jika jari kelingking hilang karena kecelakaan, korban berhak mendapat Rp35 juta (Rp11,5 juta tiap satu ruas)

– Jari tengah atau jari manis kiri

Jika kecelakaan menyebabkan jari tengah atau jari manis kiri hilang, korban berhak mendapat ganti rugi Rp40 juta (Rp13 juta tiap satu ruas).

4. Ahli waris

Sedang untuk ahli waris atau korban sebagai akibat kejadian kecelakaan pesawat dapat melakukan penuntutan ke pengadilan untuk mendapatkan ganti kerugian tambahan selain ganti kerugian yang telah ditetapkan. (*)

Baca Juga:  Pertanyaan-pertanyaan yang Belum Terjawab Seputar Jatuhnya Lion Air JT610