Uncategorized

Kisah Dokter Terpaksa Minum Cairan Infus di Tengah Kesulitan Air di Palu

Jurnalindonesia.co.id – Riyadh Farid, dokter spesialis anastesi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) yang saat ini menjadi salah satu relawan kesehatan di lokasi bencana gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), mengaku sampai minum cairan infus untuk bisa bertahan hidup. Hal tersebut terpaksa dia lakukan lantaran langkanya ketersediaan air untuk dikonsumsi.

“Kami sampai coba bertahan dengan minum seteguk, dua teguk cairan infus. Kami tidak mungkin minta ke warga yang juga kesusahan,” kata Riyadh kepada CNNIndonesia.com di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng di Palu, Jumat (5/10/2018).

Riyadh dan para relawan kesehatan lainnya mengunjungi lokasi bencana satu hari setelah gempa berkekuatan 7,4 SR mengguncang Palu dan beberapa kota lainnya di Sulteng.

Gempa dan tsunami membuat warga serba kesusahan. Bukan hanya air minum dan bahan makanan, selama beberapa hari mereka hidup dalam kegelapan dengan rusaknya lima gardu induk utama.

Baca Juga:  Soal Pengelolaan Sampah, Anies: Bekasi Masuk Provinsi Mana? Kok MintaDananya ke DKI

Suplai bahan bakar yang menipis pun membuat warga Palu kesulitan untuk berpindah tempat, baik mencari keluarga yang hilang, atau mendapatkan barang-barang untuk bertahan hidup.

Baca: Warga Korban Gempa: Jangan Sebut Kami Penjarah, 3 Hari Kami Tanpa Makanan

Minim pasokan bahan bakar itu juga sempat dialami Riyadh saat hendak menuju lokasi bencana yang berada di pelosok Sulteng. Menurutnya, hal tersebut membuat mobilisasi relawan kesulitan.

Berbagai macam kisah suka dan duka Riyadh ceritakan selama bertugas di Sulteng. Misalnya saat dia tak bisa menahan rasa haru karena ditawari dan makan bersama dengan warga korban gempa serta tsunami.

Baca Juga:  Gempa Palu: Tanah Ambles 5 Meter, Perumahan Balaroa "Hilang" Ditelan Lumpur

“Waktu itu pengungsi masak seadanya. (Terus bilang) pak dokter, ayo makan bareng kita supaya kuat. Itu benar-benar bahagia,” ucapnya.

Saat ini, menurut data Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan sebanyak 855 relawan kesehatan telah diterjunkan untuk membantu korban gempa dan tsunami di Sulteng. Mereka terdiri atas 81 dokter spesialis, 430 perawat, 102 dokter umum, 242 tenaga medis lainnya.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengungkapkan, jumlah tersebut belum termasuk relawan kesehatan yang berada di Kapal Republik Indonesia (KRI) Soeharso dan Kapal Rumah Sakit Ksatria Airlangga.

Dia menegaskan, pengerahan relawan kesehatan ini dilakukan untuk memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat yang di luar jangkauan.

Baca Juga:  Datang ke Pesta di Bali, Maria Ozawa Diamankan Petugas Imigrasi Denpasar

“Ini kekuatan besar kami dalam melakukan (pelayanan kesehatan) outreach,” ujar Achmad.

Namun, dia mengakui upaya penjangkauan yang ditempuh pihaknya ini sempat menghadapi sejumlah kendala terutama ketergantungan pada BBM. Menurutnya, hal tersebut telah ditangani dengan berkoordinasi bersama Pertamina.

“(Sudah ada) solusi dan komitmen dari Pertamina beri privilege untuk mobil kesehatan bisa masuk. Ini bisa jadi satu penyelesaian,” tutur Achmad.

Baca juga: Gerindra Nilai Pemerintah Lambat Tangani Bencana Palu dan Donggala

CNN INDONESIA