Uncategorized

Viral Video Penjarahan Mobil Pembawa Bantuan Korban Gempa, Ini Kata Panglima TNI

Jurnalindonesia.co.id – Beredar di media sosial video yang memperlihatkan sekelompok orang mengadang mobil pembawa bantuan korban bencana gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Mereka mengadang di tengah jalan mobil pikap yang ditumpangi tim relawan dan mengambil paksa barang-barang bantuan untuk para korban bencana gempa. Bahkan obat-obatan pun nyaris diambil oleh mereka.

Peristiwa penjarahan ini diduga terjadi di wilayah perbatasan Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulteng.

Salah seorang tim relawan yang merekam insiden penjarahan tersebut. Dalam video tampak sekelompok pemuda mengambil barang-barang bawaan tim relawan dari mobil. Bahkan obat-obatan yang disimpan di dalam kardus juga nyaris dibawa warga.

“Obat itu pak, obat, jangan (diambil). Obat itu Pak, untuk kita kasihan. Untuk kita ini, untuk Telkom pak, untuk kasih bangun jaringan dulu,” kata tim relawan yang merekam aksi penjarahan.

Tenda yang akan digunakan tim relawan di lokasi bencana pun tak luput dari aksi penjarahan.

“Tenda kerja, ada tenda pak, jangan diambil pak, itu untuk hidupkan jaringan. Jangan kasihan. Ini buat hidupkan Telkomsel pak,” pinta tim relawan.

Baca Juga:  PKS: Jika Ahok Lebih Baik dari Anies Soal Sampah, Apa Buktinya?

Namun para warga itu kukuh meminta barang-barang tersebut dengan alasan mereka juga korban gempa yang membutuhkan bantuan. “Ini orang menderita semua ini pak, kita korban semua di sini pak, kita korban semua ini,” ucap salah satu warga.

Video penjarahan itu menyebar ke grup-grup WhatsApp. Para tim relawan yang hendak berangkat ke Palu diingatkan untuk waspada saat melewati Donggala.

“Kak, minta tolong dishare untuk tim yang bawa bantuan lewat Donggala. Kalau sudah lewat wilayah Mamuju Utara, melapor dulu ke Polres atau Polsek terdekat. Jadi bisa dikawal sampai lewat Donggala,” demikian pesan dari salah satu relawan.

Menurut dia, aksi semacam itu sudah kerap terjadi di jalan. Sasarannya adalah tim relawan yang membawa bantuan untuk korban gempa dan tsunami Palu.

“Sudah banyak tim yang habis dijarah barang-barangnya. Ada sampai dikasi pecah kaca mobilnya,” tulisnya.

Berikut video saat bantuan untuk korban gempa dan tsunami di Palu dijarah di tengah jalan:

Baca juga: Foto Suasana Saat Warga Palu Ramai-ramai Ambil Barang di Mal Tatura

Tanggapan Panglima TNI

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menegaskan, TNI bersama Polri akan terus memberi bantuan kepada warga korban gempa. Polri ditugaskan untuk mengawal pengiriman bantuan tersebut.

Baca Juga:  PAN Instruksikan Kader Nobar "Hanum & Rangga" dan Blocking Studio

Namun Hadi menjelaskan, pengawalan Polri tersebut dilakukan bukan karena ada isu penjarahan. Namun agar bantuan itu bisa sampai di tangan masyarakat dengan aman.

“Bantuan TNI setiap hari dilaksanakan. Tadi saya bersama Pak Kapolri, Pak Kapolri masih tinggal di Palu untuk terus memantau karena pentingnya pengawalan bahan bantuan dari Mamuju sampai Palu. Itu pengawalan dari Polri supaya sampai kepada masyarakat dengan aman,” kata Marsekal Hadi di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (30/9/2018).

“Bukan berarti ada penjarahan, bukan. Tapi paling (tidak) memastikan aman sampai dengan masyarakat,” lanjutnya.

Dalam kesempatan itu, Hadi juga bicara soal kabar yang menyebut ada aksi penjarahan di sejumlah tempat perbelanjaan di Palu pasca-gempa bumi dan tsunami melanda. Hadi membantah kabar tersebut, dia menegaskan bahwa supermarket di Palu memang sengaja dibuka untuk diserahkan ke warga korban bencana.

“Penjarahan tidak ada. Jadi seluruh supermarket di sana itu dibuka untuk diserahkan pada masyarakat. Tidak ada penjarahan,” ujar Hadi.

Baca Juga:  Foto Suasana Saat Warga Palu Ramai-ramai Ambil Barang di Mal Tatura

Baca: Panglima TNI: Tak Ada Penjarahan di Palu, Supermarket Sengaja Dibuka untuk Warga

MUI: Penjarahan tak dibenarkan agama

Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun sudah mengimbau kepada para korban gempa dan Tsunami untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum, seperti mengambil barang yang bukan miliknya atau melakukan penjarahan.

MUI meminta warga tetap sabar dan menahan diri. Karena melakukan penjarahan tidak dibenarkan menurut hukum dan ajaran agama.

“Mengimbau masyarakat terdampak bencana untuk tetap sabar dan menahan diri tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum,” kata Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi, dalam keterangannya, Minggu (30/9/2018).

“Mengambil barang yang bukan miliknya atau melakukan penjarahan, karena hal tersebut tidak dibenarkan menurut hukum dan ajaran agama,” ujarnya.