Sulawesi

BNPB: Tsunami di Donggala Capai 7 Meter, Lampaui Tiang Listrik

Warga mencari barang-barang yang tertimbun puing rumah mereka yang roboh akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (29/9). (Foto: AFP/Muhammad Rifki)

Jurnalindonesia.co.id – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengaku mendapat informasi ketinggian tsunami di Donggala ada yang mencapai hingga 7 meter. Tsunami tersebut, kata Sutopo, terjadi di Kecamatan Banawa, yang lokasinya di pesisir pantai.

“Ini juga di daerah yang lain. Untuk sementara di Kabupaten Donggala ada beberapa informasi. Karena komunikasi putus. Karena listrik putus total di sana. Kerusakan di Kecamatan Banawa di mana rumah di pesisir diterjang tsunami yang ada di Banawa 6-7 meter. Karena tiang listrik terlampaui oleh tinggi tsunami,” kata Sutopo di kantornya, Jalan Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Senin (1/10/2018).

Baca Juga:  Video Detik-detik Likuifaksi Melanda Wilayah di Kota Palu Saat Gempa

Dia mengatakan saat ini petugas gabungan yang terdiri dari TNI-Polri dan relawan mulai bergerak ke Donggala. Namun komunikasi masih terputus karena listrik padam.

MenurutSutopo, guncangan gempa di Donggala terasa lebih kuat dibanding di Palu. Hal ini didasari analisis peta gempa.

“Wilayah Donggala menerima guncangan gempa lebih besar dari Palu. Sehingga diperkirakan lebih parah. Untuk jumlah korban tidak bertambah, sebanyak 11 (orang),” ujarnya.

Pada Sabtu (29/9) lalu, Sutopo mengatakan tsunami di Palu sempat mencapai ketinggian 5 meter. Tsunami ini dipicu gempa magnitudo 7,4 yang berpusat di Donggala pada Jumat (28/9) sore.

Baca Juga:  Update Terbaru Korban Gempa Palu: 925 Orang Meninggal, 59 Ribu Warga Mengungsi

“Tsunami kami menemukan ada yang tingginya mencapai 5 meter. Kami dapat laporan tadi ada orang yang menyelamatkan orang dengan naik ke pohon yang tingginya hampir 6 meter,” kata Sutopo di kantornya, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (29/9).

Dia menambahkan, Donggala dan Palu memiliki sejarah yang cukup panjang terkait bencana gempa dan tsunami. Peristiwa yang terjadi pada Jumat (28/9) lalu bukanlah yang pertama terjadi.

“Jadi sesar, patahan Palu Koro yang membelah Sulawesi jadi dua, ini sangat aktif sekali. Tiap tahun selalu bergeser 35-45 mm per tahun. Suatu saat, periode tertentu mereka akan lepas, akan terjadi gempa bumi,” jelas Sutopo.

Baca Juga:  Foto Suasana Saat Warga Palu Ramai-ramai Ambil Barang di Mal Tatura

Baca juga: BNPB: Seluruh Alat Pendeteksi Tsunami di Indonesia Tak Berfungsi Sejak 2012