Politik

Sujiwo Tejo Sindir Takbir Para Pendukung Capres yang Justru Bikin Dia Takut Mendengarnya

Sujiwo Tejo
Sujiwo Tejo. (Foto: Instagram/kristianto.purnomo)

Jurnalindonesia.co.id – Budayawan Sujiwo Tejo menyoroti soal takbir yang kerap diteriakkan sejumlah pihak saat menyatakan dukungan terhadap calon presiden menjelang pesta demokrasi 2019.

Bagi Sujiwo Tejo, takbir yang diserukan oleh beberapa orang seperti Penasihat GNPF, Haikal Hasan, dan Ketua GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak itu menakutkan.

“Jelek-jelek gini kerjaan saya keliling pesantren. Tapi kenapa kalau saya mendengar sampeyan-sampeyan takbir (menunjuk Haikal Hasan dan Yusuf Muhammad Martak), kok takut saya?” kata Sujiwo Tejo dalam acara diskusi Indonesia Lawyers Club (ILC) yang tayang di TVOne, Selasa (18/9/2018).

“Ya, termasuk takbirnya sampeyan (menunjuk Nusron Wahid),” lanjutnya.

Dia pun mengaku bingung sendiri, hingga mempertanyakan apa kira-kira yang jadi alasan kenapa dirinya bisa merasa takut mendengar mereka meneriakkan takbir.

“Mereka kok kalau takbir saya takut gitu, apa karena hidup saya terlalu kotor? Tapi rasanya nggak kotor-kotor banget hidupku,” ucapnya.

Baca juga: Sentilan Sudjiwo Tedjo: Jangan Cuma Utang Luar Negeri yang Dikaitkan dengan Masa Lalu, Tapi Pencapaian Saat Ini Tidak

Lantas pembawa acara ILC Karni Ilyas menimpali pernyataan Sujiwo dengan mengatakan, “Setengah kotor.”

“Iya, setengah kotorlah,” sahut Sujiwo Tejo membenarkan pernyataan Karni Ilyas.

Menurut Sujiwo, saat seseorang mendengar takbir, bukankah mestinya takbir itu membuatnya menteskan air mata.

“Atau karena takbirnya takbir yang mau gagah-gagahan? Karena menurut saya orang yang denger takbir, mestinya meluluh air matanya,” ujarnya.

Dia kemudian mencontohkan salah satu dalang legendaris, Narto Sapto.

“Begitu ia mendalang, Narto-nya hilang, jadi wayangnya yang muncul. Nah maksudku begitu, takbir kepada Allah SWT, nggak ada lagi manusia, sudah lebur, hina di dalam kebesarannya. Saya udah nggak melihat GNPF lagi, sudah nggak melihat Kyai Ma’ruf lagi,” tuturnya.

Pemilik nama lengkap Agus Hadi Sudjiwo itu kemudian membandingkan pengalamannya saat mendengar takbir di Buntet Pesantren di Cirebon, Jawa Barat. Dia mengaku mendengar takbir yang sangat mengharukan yang disuarakan para pemain teater di pesantren tersebut.

“Takbir sekarang menakutkan lho, Pak Karni. Itu bisa nggak takbirnya agak diolah sedikit gitu,” ujarnya kepada Haikal dan Taufik sambil mencontohkan dengan nada lembut dan medayu.

“Mungkin ya seperti itu, saya tidak tahu,” ujarnya.

Baca juga: Ketum Muhammadiyah Nilai Pekik Takbir sudah Dikorupsi Jadi Alat Politik

Ia lalu mencontohkan ucapan takbir yang menakutkan baginya saat ini.

“Kita Pilih Prabowo! Allahuakbar! Takut kita. Gimana nggak, saya usul seperti itu,” ujarnya lagi.

Ia juga mengatakan, bahwa ulama yang berpengaruh di Indonesia menurutnya saat ini, yakni ulama yang menunjukkan jalan menuju Tuhan, ulama para pencari Tuhan.

“Bukan ulama tablig yang dicium tangannya, sorry, tapi mungkin nggak terlalu berpengaruh,” ucapnya.

Seniman nyentrik kelahiran Jember, Jawa Timur itu juga mempertanyakan soal ulama yang ada di kubu Jokowi dan kubu Prabowo.

“Saya disambungkan dengan teori perwayangan yang sudah cukup lama, bahwa goro-goro, keos, itu terjadi kalau pandhito, rohaniwan, ulama, sudah bergabung dengan istana. Diperjelas, boleh bergabung asal istananya yang mencari, bukan ulama yang seperti gayung datang ke kekuasaan,” jelasnya.

“Nah, saya nggak tahu ulama yang begitu, apa yang di Pak Jokowi, apa yang di Pak Prabowo,” tandasnya.

Simak selengkapnya di video berikut:

Baca juga: Kerap Disalahgunakan untuk Politik, Muhammadiyah Larang Teriakkan “Allahu Akbar” di Acara Internal