Ekonomi dan Bisnis

Perajin Tempe: Pak Sandi Harus Bisa Bedakan Mana Tempe Goreng dan Keripik Tempe

Ilustrasi perajin tempe. (Foto: Antara)

Jurnalindonesia.co.id – Meskipun nilai rupiah merosot terhadap dolar Amerika Serikat (AS), namun hal itu tidak berdampak pada kenaikan harga kedelai impor yang jadi bahan baku tahu dan tempe.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin, mengatakan harga kedelai impor masih stabil. Karenanya, produsen juga belum berencana menaikkan harga atau pun mengurangi ukurannya.

Sebelumnya, bakal calon wakil presiden pendamping Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, mengatakan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar berimbas pada ukuran tempe hingga setipis kartu ATM.

Menanggapi pernyataan itu, Aip menuturkan, harus dibedakan antara tempe goreng dengan keripik tempe.

“Kalau keripik tempe ya memang tipis. Pak Sandi Uno harus bisa bedakan mana tempe goreng dan keripik tempe. Harga tempe sekarang normal. Jadi kalau dibilang itu naik atau kecilin bentuknya sepertinya tidak,” kata Aip seperti dikutip kumparan, Minggu (9/9).

“Kalau di tingkat produsen (harga) tetap saja. Sebab harga kedelai di importir masih di kisaran Rp 6.900-Rp 7.100 per kilogram 4 bulan belakang ini,” Aip menambahkan.

Baca: Soal Kondisi Ekonomi, Sandiaga: Tempe Jadi Setipis Kartu ATM

Sandiaga Uno

Sandiaga Uno makan siang di salah satu warteg usai menunaikan shalat zuhur di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Rabu (20/7/2016). (Foto: Merdeka)

Aip menjelaskan, stabilnya harga impor kedelai yang menjadi bahan baku tahu tempe di dalam negeri karena stok kacang kedelai di Amerika Serikat masih banyak pasca-musim panen. Sementara China yang selama ini pengimpor terbesar kedelai AS, mengalihkan impor mereka ke Brasil akibat perang dagang dengan AS.

Karena harga impor kedelai masih relatif aman, Aip mengaku tidak ada kenaikan pada penjualan produksi tahu tempe di tingkat produsen. Dalam satu porsi tempe ukuran rata-rata, misalnya masih dijual Rp 2 ribu.

“Harga tempe sekarang masih normal. Kalau dari pabrik Rp 2.000 per kemasan atau Rp 2.500 bisa dipotong jadi 10 buat digoreng,” jelas dia.

Baca juga: Habiburokhman: Setelah Sandiaga Beri Contoh Cinta Rupiah, Dolar Mulai Jinak

Loading...