Ekonomi dan Bisnis

Selain Pemerintah, Kamu Juga Bisa Ikut Redam Pelemahan Rupiah, Begini Caranya

Ilustrasi: Warga menukarkan uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Jurnalindonesia.co.id – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang berlangsung selama beberapa hari terakhir menimbulkan kepanikan di semua kalangan.

Dilansir Reuters pada Rabu (5/9) sore, rupiah melorot hingga level Rp14.930 per dolar AS. Padahal, awal tahun ini rupiah masih berada di posisi Rp13.368 per dolar AS.

Ketidakpastian membuat masyarakat penasaran dengan apa yang akan terjadi pada ekonomi nasional ke depan. Sebagian besar berpikir untuk mengambil keuntungan dari fluktuasi nilai tukar yang terjadi, sebagian lain bisa jadi ingin menyelamatkan investasi yang dimilikinya.

Baca: Kwik Kian Gie: Rupiah Akan Terus Merosot Sampai Ada Pemimpin Kuat yang Mampu Balikkan Keadaan

Daripada hanya resah dengan keadaan namun tanpa berbuat apapun, mengapa tidak mencoba ikut menjadi solusi untuk mengatasi persoalan nasional tersebut? Bukan tidak mungkin, langkah kecil yang dilakukan setiap orang akan menjadi kekuatan massal yang mampu meredam pelemahan rupiah dan memulihkan kembali kondisi ekonomi Indonesia.

Ekonom Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih mengatakan, salah satu persoalan utama perekonomian Indonesia saat ini adalah aktivitas impor yang tinggi. Tak hanya impor bahan baku dan barang modal, tetapi juga impor energi, dan impor konsumsi.

Peningkatan aktivitas impor yang tinggi, dibarengi ekspor yang stagnan menyebabkan neraca perdagangan mengalami defisit, dan mempengaruhi neraca transaksi berjalan. Ujung-ujungnya nilai tukar rupiah melemah.

Lana menambahkan, masyarakat bisa membantu mengurangi aktivitas impor energi dengan cara menahan diri menggunakan kendaraan pribadi, dan menggunakan transportasi publik. Hal itu akan sangat efektif untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), sekaligus mengurangi impor minyak mentah.

“Pakai kereta, bis, atau angkutan umum trans-perkotaan. Ke depan nanti ada MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit). Kalau bisa menjadi hastag ‘transportasi berjamaah’,” katanya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (5/9).

Selain itu, masyarakat juga bisa berupaya mengurangi penggunaan produk konsumsi impor, seperti bahan makanan impor, buah impor, dan sandang impor seperti pakaian, sepatu, tas, dan lainnya.

Lebih lanjut, masyarakat juga sebaiknya tidak membeli barang-barang keperluan rumah tangga impor, dan beralih membeli barang buatan lokal.

Baca: Rizal Ramli Memprediksi Rupiah Akan Terus Melorot hingga Rp17 Ribu per Dollar

Hal yang sering dilakukan kalangan menengah, terutama masyarakat milenial adalah mengganti ponsel pintar sesuai tren teknologi terbaru, padahal kebutuhan konsumen sudah terpenuhi.

“Masyarakat tidak perlu mengganti ponsel hanya karena modelnya sudah lama, kecuali handphone-nya rusak. Secara umum, konsumen diajak betul-betul berhemat dari penggunaan produk impor,” ucap Lana.

Dari sisi investasi, masyarakat sebaiknya juga jangan ikut-ikutan membeli valuta asing, terutama dolar AS hanya karena panik atau berpikir untuk memperoleh keuntungan dari fluktuasi nilai tukar yang terjadi. Pasalnya, hal itu bisa memperburuk kurs rupiah.

“Lagipula rupiah juga sudah mahal. Aset yang sudah mahal biasa jadi turun,” katanya.

Bagi produsen industri manufaktur, Lana menyarankan sebisa mungkin menggunakan bahan baku yang tersedia di dalam negeri.

CNN INDONESIA

Loading...