Infotainment

Kisah Kehidupan Ahok Diangkat ke Layar Lebar, Ini Pemerannya

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menunduk usai sidang vonis. (Foto: Sigid Kurniawan/Antara)

Jurnalindonesia.co.id – Kisah hidup mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok, akan diangkat ke layar lebar.

Kabar itu diumumkan oleh tim Ahok lewat Instagram @basukibtp, Rabu (5/9/2018). Film itu diangkat dari buku yang ditulis oleh Rudi Valinka dan disutradarai oleh Putrama Tuta.

“Terima kasih kepada cast dan crew yang telah bekerja keras membuat film A MAN CALLED AHOK. Sebuah film tentang hubungan seorang anak dan ayah dalam mewujudkan mimpi dan visi,” demikian keterangan dari Ahok.

Film ini mengisahkan tentang hidup Ahok di Belitung Timur. Dari poster yang diunggah, Daniel Mananta, atau yang dikenal sebagai VJ Daniel, akan berperan sebagai Ahok.

“Semoga film perdana tentang hidup saya di Belitung Timur ini bisa menjadi inspirasi dan berguna bagi generasi penerus bangsa,” kata Ahok.

“Saya ucapkan sukses, sukacita dan doa saya yang terbaik agar film yang release di tahun 2018 ini dapat ditonton oleh seluruh masyarakat,” lanjutnya.

Rencananya, film tersebut akan tayang tahun 2018 ini.

Ahok sendiri saat ini masih ditahan di Mako Brimob karena kasus penodaan agama. Dia menolak pembebasan bersyarat dan tidak menggunakan asimilasi.

“Dulu saat jauh-jauh hari sebelumnya ini asimilasi bulan Agustus sudah keluar. Tapi sebelum Agustus, keluarga dan Pak Ahok memutuskan untuk nggak dipakai asimilasi,” kata pengacara Ahok, I Wayan Sudirta, di Rutan Mako Brimob Depok, Selasa (4/9/2018).

Asimilasi adalah proses pembinaan napi yang dilakukan dengan membaurkan napi dalam kehidupan masyarakat.

Ahok, kata Sudirta, tidak menggunakan haknya menjalani asimilasi lantaran ingin menjalani sepenuhnya masa hukuman penjara. Ahok, lanjut Sudirta, tidak ingin ada pro-kontra.

“Dia tidak ingin masalah (asimilasi) ini diramai-ramaikan, diribut-ributkan. Sudahlah dia berkorban dengan caranya sendiri. Kalau kegaduhan yang ada di masyarakat itu dapat dihindari, ia menebus dengan pengorbanannya. Dia tidak mengambil asimilasi itu dengan maksud untuk kepentingan bangsa dan negara ini agar kegaduhan bisa dihindari, agar ketentraman dan kenyamanan di masyarakat bisa tercapai,” ujar Sudirta.

Ahok mendapatkan remisi atau pengurangan masa hukuman pada 17 Agustus selama 2 bulan. Ahok bisa bebas pada awal 2019.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu divonis pada 9 Mei 2017 dengan hukuman 2 tahun penjara karena terbukti bersalah melakukan penodaan agama atas pernyataan soal Surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Loading...