Nasional

Roy Suryo Disebut Termakan oleh Pikiran Sendiri atas Kegagalannya

Roy Suryo
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus mantan Menteri Pemuda dan Olahraga era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Roy Suryo. (Foto: Istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Teddy Gusanidi menyindir Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Roy Suryo terkait sikap pesimisnya pada pencapaian target yang diraih kontingen Indonesia di Asian Games 2018 ini.

Diketahui sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan Indonesia bisa mengantongi 16 medali emas dan berada di urutan ke-10 di ajang Asian Games 2018.

Saat itu Roy mengaku pesimis target tersebut mampu dicapai. Roy menanggapi pernyataan Jokowi tersebut dengan mengatakan, optimis perlu, namun tetap harus realistis .

Akan tetapi, perolehan emas Indonesia justru melampaui yang ditargetkan. Hingga satu hari menjelang penutupan Asian Games 2018, Indonesia berhasil mengoleksi 30 medali emas dan berada di urutan 4.

Baca: Raihan Emas Indonesia di Asian Games Lampaui Target, Begini Cara Roy Suryo Berkelit Terkait Sikap Pesimisnya Dulu

Menanggapi hal tersebut, Teddy Gusnaidi menilai, Roy Suryo termakan pikiran sendiri atas kegagalannya.

Berikut tanggapan lengkap Teddy Gusnaidi mengenai hal tersebut, sebagaimana dikutip di akun Twitter @TeddyGusnaidi:

1. Sebelum Asian Games dimulai, Roy Suryo, wakil Ketua umum Partai Demokrat menanggapi target 16 emas dari Presiden. Roy mengatakan, harus melihat realita jangan memaksa. Optimis perlu tapi harus realistis.

Roy sangat meragukan kemampuan pemerintah dan atlet Indonesia di Asian Games.

2. Roy Suryo pikir ini masih di zaman SBY, dimana semuanya serba pesimis. Setelah ucapan pesimisnya terbantahkan, karena Indonesia mampu melewati target, bukannya meminta maaf, dia kembali meremehkan atlet Indonesia dan menuding negatif pemerintah.

3. Roy suryo mengatakan emas yang kita dapat karena kita tuan rumah. Jadi jangan berbangga diri apalagi jumawa.

Roy juga melihat ada upaya menjadikan capaian Asian Games 2018 sebagai ajang pencitraan politik untuk kepentingan Pilpres 2019.

4. Begini, jadwal Asian Games ini memang bertepatan dengan tahun politik, jadwal ini bukan mau-maunya Jokowi, tapi memang sudah terjadwal 4 tahun sekali.

Dan atlet Indonesia yang menang dalam pertandingan bukan sengaja agar Jokowi bisa melakukan pencitraan, tapi mereka memang berjuang untuk menang.

5. Ok, Roy suryo dan pemerintahan SBY faktanya memang tidak secemerlang pemerintahan Jokowi. Tapi bukan berarti keberhasilan Pemerintahan Jokowi itu bertujuan untuk mempermalukan SBY, tidak. Tapi memang itu sudah tugas Pemerintah dan pemerintah bekerja dengan benar.

Baca: Asian Games 2018, Perolehan Emas Indonesia “Bungkam” Pesimisme Roy Suryo

Baca Juga:  Hujan Es Disertai Angin Kencang Melanda Surabaya, Puluhan Pohon Tumbang

6. Jadi Roy suryo jangan merasa tersinggung dengan pencapaian atlet dan pemerintah. Karena ketika Asian Games dilaksanakan, pemerintah berhasil dan Atlet berhasil, itu bukan disengaja untuk mempermalukan dirinya dan SBY.

Roy termakan pikiran sendiri atas kegagalannya.

7. Apakah hanya karena ingin menjaga perasaan Roy Suryo dan pemerintahan SBY, lalu Pemerintah Jokowi harus membuat kerusakan dan kegagalan seperti di zaman SBY? kan tidak begitu. Berbesar hatilah menerima bahwa sekarang ini lebih baik di zaman SBY. Toh, tidak dosa ini.

8. Sudahlah Roy, tidak ada yang jadikan ini pencitraan. Itu hanya kebencian anda.

Keberhasilan Jokowi di berbagai bidang, itu sudah otomatis membuat Jokowi menjadi orang yang sangat populer dan memiliki elektabilitas tertinggi di Indonesia.

Tidak perlu membuat pencitraan.

9. Indonesia cuma tuan rumah. Bukan pemilik Asian games. Sama seperti Roy, sewaktu menjadi menteri, dia cuma menteri bukan pemilik fasilitas di rumah kementerian. Selesai bertanding, yang dibawa atlet itu medali. Selesai jadi menteri, seharusnya yang dibawa Roy adalah prestasi.

10. Sayangnya, yang Roy bawa setelah tidak jadi Menteri bukan prestasi tapi pompa air, matras, karpet, parabola dan banyak lagi milik negara.

Hal itu terungkap ketika Menteri olahraga menyurati Roy untuk mengembalikan barang-barang milik negara.

11. Dalam surat bernomor 1711/MENPORA/INS.VI/2016 itu, Kementerian meminta Roy mengembalikan 1.438 jenis barang, dengan rincian 3.174 unit senilai Rp 8,5 miliar.

Tentu ini bukan prestasi yang membanggakan sebagai seorang mantan menteri, tapi prestasi yang memalukan.

12. Jadi Roy, nikmatilah keberhasilan ini, jangan terus membenci karena dihantui kegagalan di masa lalu, itu penyakit hati namanya.

Kalau anda tidak bisa menghargai pemerintah, paling tidak hargailah perjuangan para atlet. Jangan timpakan kebencian anda kepada mereka.

Terima kasih.

Tanggapan Roy Suryo

Sebelumnya, Roy Suryo mengaku sengaja bersikap pesimis untuk memacu atlet Indonesia berjuang lebih keras.

Baca Juga:  Sandiaga Studi Banding ke Tokyo Lihat Persiapan Olimpiade 2020

“Dan Alhamdulillah hari ini sudah hampir tercapai, kita patut bangga atas capaian tersebut,” ucapnya, Kamis (30/8/2018).

Selain itu, Roy juga mengimbau agar prestasi yang sudah diraih ini tidak membuat jumawa dan gampang puas diri.

Menurut Roy, sebagai tuan rumah, Indonesia diuntungkan dengan diperbolehkan mengusulkan sepuluh olahraga yang tak dipertandingkan di olimpiade (non-olympic), seperti pencak silat, paralayang dan jet ski.

Baca Juga:  Divonis Bebas, Siti Aisyah Ucapkan Terima Kasih Kepada Presiden Jokowi

Dari cabang pencak silat, Indonesia berhasil memborong 14 emas atau hampir separuh dari total emas Indonesia.

“Coba bayangkan kalau Asian Games ini tidak didukung oleh cabor pencak silat dan ke-9 cabor non-olympic lainnya, apa jadinya?” kata Roy.

“Ini sekaligus juga warning bagi kita agar jangan cepat puas dan berbangga diri apalagi jadi jumawa atas hasil Asian Games sekarang,” imbuhnya.