Ekonomi dan Bisnis

Anjloknya Rupiah Dinilai Akibat Kurang Percayanya Rakyat pada Pemerintah

Ilustrasi: Warga menukarkan uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Jurnalindonesia.co.id – Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Prof. Sri Edi Swasono angkat bicara mengenai lemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat yang saat ini mencapai Rp 14.840.

Menurutnya, kondisi seperti itu disebabkan oleh antara lain defisit atau kekurangan dalam anggaran, defisit neraca berjalan, dan defisit perdagangan.

Misalnya, menurut Prof. Edi, banyak kebutuhan dalam negeri yang harus diimpor karena tidak bisa dipenuhi sendiri.

Selain itu juga kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap keadaan ekonomi nasional.

“Tentu banyak yang ragu atas perekonomian curang. Jadi, yang paling penting merosotnya dolar itu di samping defisit kemudian defisit anggaran kemudian perdagangan kemudian defisit neraca berjalan yang penting adalah kepercayaan masyarakat. Ya, masyarakat barangkali tidak mantap dengan keadaan ekonomi. Kalau tidak mantap dengan tidak merasa sreg dengan keadaan ekonomi, ya tidak percaya pada rupiah,” katanya di Jakarta, Jumat (31/8), seperti dilansir RMOL.

“Kalau semua tidak percaya, rakyat tidak percaya itu yang terjadi. Di samping yang dikatakan alasan ekonomis teknis seperti defisit, selama rakyat tidak percaya dengan kemampuan para pengelola ekonomi, ya begini,” katanya.

Sri Edi Swasono

Sri Edi Swasono. (Foto: RMOL)

Oleh karena itu Prof. Edi menyarankan, terkait kondisi ekonomi saat ini, pemerintah harus meningkatkan kepercayaan rakyat.

“Misalnya Federal Reserve System (FED) menaikkan suku bunga, itu ya ada efeknya. Tapi yang paling menentukan adalah psikologi dari masyarakat. Itu paling penting meskipun ada yang teknis tadi,” ujarnya.

Baca juga: Faisal Basri: Nilai Tukar Rupiah Sekarang Terburuk Sepanjang Sejarah

Rupiah sempat melemah hingga menyentuh 14.840 terhadap Dollar AS pada Jumat (31/8/2018) malam. Ini merupakan posisi terendah rupiah terhadap dolar sejak Juli 1998, setelah krisis keuangan melanda Asia.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, merosotnya nilai tukar Rupiah tersebut disebabkan oleh krisis yang terjadi di Argentina.

Dia pun menegaskan, pelemahan mata uang tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga beberapa negara lain di Asia Tenggara.

“Iya (dominan karena Argentina). Nantinya coba lihat kurs di semua negara di Asia Tengara, Malaysia sama Thailand itu biasanya hampir enggak ada tertekan tapi kemarin dia juga melemah mata uangnya. Semua negara di kawasan ini juga alami itu,” kata Darmin di Kantor Kemenko, Jakarta, Jumat (31/8/2018).

Darmin Nasution

Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia, Darmin Nasution. (Foto: Liputan6.com/Tommy Kurnia)

Darmin mengatakan, krisis Argentina cukup membuat pasar terkejut. Sebab, negara tersebut sempat mengajukan pinjaman kepada International Monetary Fund (IMF) sebesar USD 50 miliar.

“Dia itu sudah dapat bantuan IMF USD 50 miliar. Orang anggap dia mestinya akan survive akan selamat dengan itu, tapi ternyata gerakan capital outflow masih sekarat. Makanya dia naikkan tingkat bunga enggak tanggung tanggung sampai 60 persen. Jadi itu sudah tingkat yang luar biasa besarnya sehingga kalau sudah begitu biasanya pasar jitery (gelisah),” ujarnya.

Kendati demikian, Darmin menilai dampak krisis Argentina masih lebih minim jika dibandingkan dengan efek krisis Turki terhadap Indonesia. Pemerintah akan terus mengawasi perkembangan krisis Argentina.

“Artinya secara umum itu akan ada dampaknya dulu. Sampai dia kemudian ada jalan keluar-nya bisa direm di sana baru kemudian dia tenang secara global. Coba saja negara paling maju pun, lihat Kanada, Inggris, semua kena bukan cuma negara berkembang,” jelasnya.

Loading...