Mancanegara

5 Negara Muslim Ini Sudah Terapkan Aturan Volume Pengeras Suara Masjid, Bagaimana dengan Indonesia?

Ilustrasi masjid di Mesir. (Foto: Wikimedia.org)

Jurnalindonesia.co.id – Kasus yang menimpa seorang ibu di Medan bernama Meiliana mendapat sorotan luas, tak hanya dari publik di Tanah Air, tapi juga mancanegara.

Sejumlah media seperti Al Jazeera dari Qatar, The Independent dari Inggris, Sky News, Deutsche-Welle dari Jerman, Newsweek dari Amerika Serikat, ABC News Australia, The Strait Times Singapura, dan NDTV India memberitakan kasus tersebut.

The Independent dalam artikel berjudul ‘Woman who complained about noisy mosque jailed for blasphemy‘ mengutip pernyataan direktur eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, yang menyerukan agar Pengadilan Tinggi Sumatra Utara membatalkan vonis 18 penjara yang dijatuhkan hakim Pengadilan Tinggi Sumatera Utara terhadap Meiliana atas kasus penistaan agama.

“Mengajukan keluhan tentang kebisingan bukanlah pelanggaran pidana. Keputusan yang menggelikan ini merupakan pelanggaran mencolok dari kebebasan berekspresi,” kata Usman seperti dikutip The Independent, Kamis 23 Agustus 2018.

Baca: Media Internasional Ramai-ramai Soroti Kasus Meiliana

Pada saat seorang warga minoritas di Indonesia, seperti Meiliana, dibui hanya karena mengeluhkan volume suara azan, di sejumlah negara muslim lain pemerintah bersama ulama sudah mewajibkan pengurus masjid menghargai ketenangan umum.

Berikut, aturan volume toa masjid di 5 negara muslim seperti dikutip dari DW Indonesia, Kamis (23/8/2018).

1. Arab Saudi

Kementerian Agama Islam di Arab Saudi sudah melarang masjid menggunakan pengeras suara di bagian luar, kecuali untuk azan, salat Jumat, salat Idul Fitri dan Idul Adha, serta salat minta hujan, sejak 2015 silam.

Aturan ini diambil menyusul maraknya keluhan warga mengenai volume pengeras suara yang terlalu besar. Bahkan, Arab News melaporkan, tahun lalu masjid-masjid diperintahkan mencabut toa dari menara.

2. Mesir

Keputusan pemerintah Mesir melarang pengeras suara masjid digunakan untuk selain azan juga didukung oleh Universitas al-Azhar.

Larangan ini terutama mulai diawasi sejak bulan Ramadan 2018 lalu. Al-Azhar mengatakan, pengeras suara bisa mengganggu pasien di rumah sakit atau manula dan oleh karenanya, bertentangan dengan ajaran Islam.

3. Bahrain

Belum lama ini Kementerian Agama Islam di Bahrain memperpanjang larangan penggunaan pengeras suara di masjid selain untuk azan.

Lantaran banyak keluhan, pemerintah juga meminta masjid menurunkan volume pengeras suara.

“Islam adalah soal toleransi, bukan mempersulit kehidupan orang lain dengan mengganggu lewat pengeras suara,” kata Abdallah al-Moaily, seorang pejabat lokal kepada GulfInsider.

Baca: Belasan Ribu Netizen Teken Petisi ‘Bebaskan Meiliana!’

4. Malaysia

Di Malaysia, aturan ihwal pengeras suara masjid bergantung pada negara bagian masing-masing.

Penang, Perlis dan Selangor termasuk negara bagian yang melarang pengeras suara digunakan selain untuk azan.

Dalam fatwanya, mufti Perlis, Datuk Asri Zainul Abidin, menegaskan larangan tersebut sudah sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad untuk tidak mengganggu ketertiban umum.

5. Uni Emirat Arab

Pemerintah setempat tidak menerbitkan ketentuan khusus mengenai pengeras suara masjid. Namun, penduduk didorong untuk menyampaikan keluhan jika volume pengeras suara terlalu tinggi.

Uni Emirat Arab menggariskan suara adzan tidak boleh melebihi batas 85 desibel di kawasan pemukiman agar tidak mengganggu aktivitas warga setempat.

Indonesia

Kementerian Agama RI tidak membatasi volume pengeras suara masjid, melainkan hanya mengatur penggunaan toa untuk keperluan ibadah.

Dalam instruksi Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI, masjid diperkenankan menggunakan pengeras suara untuk adzan dan pembacaan ayat Alquran maksimal 15 menit sebelum waktu salat.

Selama salat masjid hanya boleh menggunakan pengeras suara di bagian dalam.

Dihukum karena keluhkan volume suara azan

Diketahui, Meiliana mendapat vonis penjara 18 bulan pada kasusu penistaan terhadap agama lantaran mengeluhkan volume suara azan yang dianggapnya terlalu keras.

Kasus yang menjerat Meiliana ini sejatinya sudah berjalan sejak pada 2016. Bermula pada saat dia mengeluhkan soal tingginya volume pengeras suara di Masjid di sekitar tempat tinggalnya. Dia mengeluhkan hal tersebut ke tetangganya.

Namun tak disangka, perkataan Meiliana itu ternyata memicu kemarahan warga dan menyulut kerusuhan yang menyebabkan sekelompok orang membakar serta merusak vihara dan klenteng di Tanjung Balai.

MUI Sumatera Utara bahkan mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Meiliana telah melakukan penistaan agama.

Baca: Ini Fatwa MUI yang Antar Pengeluh Volume Azan Dibui 18 Bulan

Kasus ini kemudian memasuki ranah hukum setelah jaksa menetapkan Meiliana sebagai tersangka penistaan agama pada 30 Mei 2018 dan mendakwanya dengan Pasal 156 dan 156a KUHP tentang penistaan agama.

Pada akhir persidangan, majelis hakim sependapat dengan dakwaan jaksa dan menjatuhi hukuman 1 tahun 6 bulan penjara kepada Meiliana sesuai tuntutan jaksa.

Baca juga: Bisakah Jokowi Intervensi Kasus Meiliana seperti pada Kasus Begal di Bekasi? Ini Kata Mahfud