Ekonomi dan Bisnis

Tifatul: Harga-harga Naik, Saya Makan Telur Ceplok Saja Sekarang Tak Berani

Tifatul Sembiring
Tifatul Sembiring. (Foto: Antara/Fanny Octavianus)

Jurnalindonesia.co.id – Anggota Majelis Syuro PKS yang juga anggota Komisi VII DPR, Tifatul Sembiring, mengkritik isi pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sidang tahunan MPR yang dinilai terlalu banyak menonjolkan soal pembangunan infrastruktur.

Menrut Tifatul, Presiden Jokowi terlalu banyak bicara soal infrastruktur, namun mengesampingkan kebutuhan pokok dan mendasar yang dibutuhkan rakyat.

“Saya setuju infrastruktur dibangun terutama sampai ke papua. Tapi untuk pengembangan lebih lanjut nanti harus diseimbangkan anggarannya. Jangan sampai kita fokus ke infrastruktur kemudian yang lain agak terbengkalai seperti subsidi terhadap masyarakat, kenaikan harga BBM, dan juga berbagai tarif seperti tarif listrik,” kata Tifatul ditemui usai menghadiri sidang tahunan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2018).

Mantan Presiden PKS itu menilai, ada banyak hal yang juga perlu diperhatikan pemerintah selain pembangunan infrastuktur, misalnya harga-harga bahan pokok yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Lagipula, kata Tifatul, persoalan kebutuhan pokok masyarakat juga sudah disampaikan secara tersirat dalam pidato Ketua MPR Zulkifli Hasan. Zulkifli yang berpidato sebelum Jokowi, mengatakan bahwa para ibu resah dengan harga kebutuhan pokok yang kerap mengalami kenaikan.

“Banyak keluhan itu tarif listrik naik, harga bahan bakar naik, harga-harga juga sudah naik, terutama telur. Ya saya makan apa, telur ceplok saja sekarang enggak berani,” ujar mantan Menteri Komunikasi dan Informatika itu.

Baca: Kritikan Zulkifli Hasan ke Pemerintahan Jokowi dari Mimbar Sidang Tahunan MPR

Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam pidato Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengatakan, mulai tahun pertama pemerintahan, pemerintah telah membangun pondasi yang kokoh untuk menuju Indonesia yang lebih maju.

Pemerintah, kata Jokowi, fokus pada percepatan pembangunan infrastruktur serta peningkatan produktivitas dan daya saing bangsa.

“Percepatan pembangunan infrastruktur bukan hanya dimaksud untuk mengejar ketertinggalan kita dalam pembangunan infrastruktur dibanding dengan negara lain, melainkan juga menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru yang mampu memberikan nilai tambah bagi daerah-daerah di seluruh penjuru Tanah Air,” kata Jokowi dalam pidatonya di gedung Nusantara, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8/2018).

Baca juga: Tifatul: Jangan “Bully” Kiai Ma’ruf Amin, Biar Saya Saja

Loading...