Ekonomi dan Bisnis, Mancanegara

Diambang Bangkrut, Turki Terancam Dikuasai China

Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan (kiri) bertemu Presiden China Xi Jinping
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan (kiri) bertemu Presiden China, Xi Jinping, 29 July 2015. (Foto: EPA Photo)

Jurnalindonesia.co.id – Sebagaimana jatuhnya Kekaisaran Ottoman pasca Perang Dunia I, keruntuhan keuangan Turki saat ini telah diprediksi bertahun-tahun sebelumnya.

Lembaga pemeringkat kredit memperkirakan Turki hanya mampu bertahan dalam satu atau dua tahun lagi dan setelah itu menjadi negara bangkrut.

Mata uang Turki, Lira, terus mengalami pelemahan dan tidak berhenti setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali meraih kemenangan pada Pemilu.

Sejak 2014, Lira sudah jatuh tiga kali lipat terhadap dolar Amerika Serikat. Tingkat inflasinya naik secara ekstrim karena harga impor melonjak, sementara output negara itu juga sangat parah.

Turki sudah berusaha meminta bantuan dari negara lain, namun tidak mendapat dukungan yang baik, apalagi sikap Erdogan yang terkesan berseberangan dengan Amerika Serikat.

Bahkan, Erdogan menuduh Donald Trump melancarkan perang dagang terhadap mereka meskipun sebenarnya, Presiden ini gagal memperbaiki fundamental ekonominya.

Baca: Mata Uang Turki Terjun Bebas, Erdogan: Kita Memiliki Tuhan

Perselisihan Erdogan dengan Trump semakin memanas setelah Amerika Serikat kembali menaikkan tarif impor baja dan alumunium asal Turki masing-masing sebesar 20 persen dan 50 persen.

Alasan Trump menaikkan tarif tersebut karena mata uang Lira yang jatuh sehingga mengakibatkan selisih kurs yang membuat produk Turki menjadi sangat mahal.

Alasan itu ada benarnya, tetapi Trump tentu sangat tahu jika kondisi ekjonomi Turki saat ini sudah berada di lampu merah.

Perekonomian Turki cenderung menyusut 10% hingga 20% karena Erdogan tidak menghentikan formula lama dalam memperbaiki ekonominya, yakni kredit domestik besar-besaran yang didukung oleh pinjaman luar negeri.

Turki mengimpor barang-barang konsumen dari utang tersebut sehingga membuat neraca ekonomi mengalami defisit hingga 6,5% dari pendapatan domestik bruto.

Perusahaan-perusahaan Turki terlilit utang luar negeri hingga US $ 300 miliar atau lebih dari Rp 4 ribu triliun dan mereka harus membayar dalam Lira yang terdevaluasi hingga 300 persen.

Kondisi itu hampir sama dengan yang pernah dialami Yunani pada awal 2012, namun bisa teratasi akibat bantuan Uni Eropa.

Tak mendapat sambutan dari negara barat, Turki kini meminta bantuan pada China, kekuatan ekonomi kedua di dunia.

Selain China, Turki juga mencoba menjajaki bantuan Rusia dan Iran, namun hanya China yang memberi respon positif.

Erdogan, menurut televisi China CGTN, akan menerbitkan obligasi dalam mata uang Yuan dengan harapan bisa mendapatkan banyak uang dari China.

Tetapi, untuk langkah itu, Turki harus menjual sebagian aset negara paling penting ke negara Tirai Bambu tersebut untuk menutup defisit saat ini.

Dilansir dari Asia Times, ekuitas Istanbul saat ini hanya bernilai US $ 35 miliar saja sehingga sebagian aset penting negara itu, termasuk yang dikuasai BUMN, diperkirakan akan beralih tangan ke China.

Menurut ekonom Turki Altay Atli, aset-aset yang akan ditawarkan kepada China terdiri atas pelabuhan dan infrastruktur lainnya. Perusahaan pelayaran milik China, COSCO Pacific sudah memiliki 65% saham pelabuhan terbesar ketiga di Turki.

“Saya percaya China juga akan memperluas kemitraan mereka untuk pelabuhan Turki lainnya, di Laut Mediterania, di Laut Aegea, dan di Laut Hitam. Begitu juga dengan proyek keretaapi untuk menciptakan jaringan logistik baru,” katanya.

China memiliki peluang untuk ‘mengambil-alih’ Turki secara ekonomi dengan biaya rendah akibat jatuhnya Lira.

Perusahaan peralatan telekomunikasi terbesar China, Huawei, misalnya, sudah melakukan ekspansi untuk pengembangan jaringan internet 5G di Turk Telecom. Begitu juga Alibaba Group. Awal tahun ini perusahaan milik Jack Ma itu sudah mengakuisisi jaringan e-commerce terbesar Turki, Trendyol.

Tak dapat dipungkiri, China sebentar lagi akan menguasai jaringan logistik Turki untuk menjadi pintu utama mereka ke daratan Eropa. Tidak lama lagi, kontainer buatan China akan tiba di Anatolia untuk dirakit menjadi produk jadi untuk dijual di Eropa dan Timur Tengah.

Presiden Erdogan memang masih bisa berhadapan dengan Washington, tetapi ekonomi mereka akan dikuasai sepenuhnya oleh China.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul ‘Diambang Bangkrut, Turki Akan Dikuasai Oleh China‘.