Ekonomi dan Bisnis, Mancanegara

Mata Uang Turki Terjun Bebas, Erdogan: Kita Memiliki Tuhan

Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan
Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan. (Foto: Reuters/Umit Bektas)

Jurnalindonesia.co.id – Krisis keuangan menghantui Turki. Nilai mata uang Lira terus mengalami kemerosotan terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hingga mencapai rekor terendah. Presiden Reccep Tayyip Erdogan pun berusaha menepis kekhawatiran masyarakat dengan mengatakan bahwa Turki memiliki Tuhan.

Lira terpukul terhadap USD dan harus jatuh lebih dari 12 persen nilainya. Sekitar pukul 5:00 ET, mata uang telah naik kembali ke USD5,911. Sementara itu, pertarungan terbaru terjadi pasca kembalinya delegasi Turki dari Amerika Serikat (AS) dengan tidak membawa kemajuan soal penahanan seorang pendeta AS.

Pendeta AS bernama Andrew Brunson dituduh mendukung kelompok yang diduga melakukan kudeta pada 2016 lalu. Brunson ditahan di penjara selama hampir dua tahun sebelum akhirnya dipindahkan menjadi tahanan rumah pada pekan lalu.

Baca Juga:  Rizal Ramli Memprediksi Rupiah Akan Terus Melorot hingga Rp17 Ribu per Dollar

Para pejabat AS mendesak pemerintah Turki untuk membebaskan Brunson. Mereka tidak puas dengan perbahan status tahanan rumah. Presiden AS Donald Trump pun mengancam akan menjatuhkan sanksi besar kepada Turki.

Namun di tengah krisis dan ancaman tersebut, Presiden Erdogan menegaskan akan tetap bertahan.

“Ada berbagai kampanye yang sedang dilakukan. Jangan pedulikan mereka. Jangan lupa, jika mereka memiliki uang mereka, kami memiliki orang-orang kami dan Tuhan kami. Kami bekerja keras. Lihatlah apa yang kami lakukan pada 16 tahun lalu dan lihat kami sekarang,” tegas Erdogan kepada para pendukungnya, seperti dilansir CNBC, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Baca Juga:  Program KJL, Warga Lanjut Usia Ramai-ramai Buka Rekening di Bank DKI

Brunson dituding melakukan kegiatan atas nama dua kelompok yang oleh Ankara dianggap teroris. Pertama adalah kelompok Fethullah Gulen, yang disalahkan atas upaya kudeta pada Juli 2016, dan kedua bergabung dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK).

Meski demikian, Brunson menyangkal tuduhan tersebut. Saat ini pemimpin gereja protestan di Kota Aegena, Izmir, itu terancam hukuman penjara 35 tahun jika terbukti bersalah. Sidang berikutnya akan dilaksanakan pada 12 Oktober.

Sementara itu, dikutip dari Metrotvnews.com, indeks volatilitas lira tiga bulan yang tersirat mencapai level tertinggi sejak akhir 2008. Volatilitas tersirat menunjukkan pendapat pasar tentang potensi pergerakan mata uang. Jika volatilitas yang tersirat tinggi maka terdapat beberapa hal di pasar mata uang yang memiliki potensi untuk perubahan harga secara besar di kedua arah.

Baca Juga:  Ketum Kadin: Program Tax Amnesty Indonesia Bisa Jadi Paling Sukses di Dunia

Mata uang Euro pun mengalami penurunan terhadap USD hingga 0,5 persen pada Jumat pagi waktu setempat, menyusul laporan bahwa bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) prihatin atas dampak lira Turki yang melemah.

Menurut Financial Times, depresiasi lira bisa merugikan bank-bank Eropa seperti BBVA Spanyol, UniCredit Italia, dan BNP Paribas Prancis pada khususnya.