Daerah, Maluku

Kelaparan di Maluku, Fadli Zon: Fakta Mana yang Kau Dustakan?

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon.

Jurnalindonesia.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku memberikan perhatian serius terkait bencana kelaparan yang menimpa Suku Mausu Ane. Kepala Biro Hukum dan HAM Setda Maluku, Hendry Far-far menyebut, bencana itu sudah termasuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Sejak awal, Pemprov Maluku sudah mengambil langkah koordinasi dengan Pemkab Malteng, lalu kemudian berdasarkan koordinasi itu telah diturunkan bantuan tanggap darurat disana baik yang dibuat oleh Pemprov Maluku maupun oleh Kabupaten Malteng,” kata Hendry, Rabu (1/8/2018).

“Saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, yang langsung menangani bencana tergolong Kejadian Luar Biasa (KLB) ini,” imbuhnya.

Wakil Ketua Dewan Perwakian Rakyat (DPR), Fadli Zon, pun angkat bicara mengenai persoalan tersebut.

Melalui akun Twitter @fadlizon pada Kamis (2/8/2018), politikus Partai Gerindra itu meminta agar pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) tidak melakukan manipulasi data dan segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan kasus tersebut.

“Fakta mana yang kau dustakan, kemiskinan ekstrim hingga kelaparan terjadi di era Jokowi. Jangan manipulasi data. Hadapi dan atasi dengan kebijakan,” kata Fadli Zon lewat akun Twitter-nya dengan melampirkan pemberitaan media online.

Diketahui, per Jumat (27/7/2018), jumlah warga yang meninggal akibat bencana kelaparan yang melanda suku Mausu Ane di Maluku sudah mencapai 4 orang.

“Data terakhir ada empat warga Mausu Ane yang meninggal dunia,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Farida Salampessy.

“Korban terakhir yang merupakan dunia karena kelaparan adalah Laupia, tepatnya pada Kamis (26/7/2018),” lanjutnya.

Empat warga yang menjadi korban tersebut adalah Lusirue (50), Laupia (60), dan dua anak balita Asoka (2 bulan) dan Aiyowa (4).

Sementara itu, setidaknya ada 170 jiwa warga Mausu Ane lainnya yang terdampak bencana kelaparan tersebut.

Data tersebut masih sementara karena sebagian warga masih berada di hutan.

Hingga saat ini bantuan untuk mereka terus berdatangan. Baik bantuan dari Kodam XVI Pattimura dan Polda Maluku, maupun bantuan dari berbagai pihak lainnya.

“Sejauh ini bantuan bahan makanan dan obat-obatan serta bantuan dasar lainnya terus berdatangan,” ucap Farida.

Suku terpencil di Maluku dilanda kelaparan

Suku terpencil di Maluku dilanda kelaparan. (Foto: abas/detikcom)

Bantuan yang telah disalurkan diantaranya beras, obat-obatan, gula pasir, mie instan, selimut, sandal, dokter dan tenaga medis, ransum, imukalbiskuit, terpal, hingga air mineral.

Warga suku Mausu Ane merupakan suku nomaden dan hanya bisa ditemui melalui perantaraan Raja Maeno. Mereka tidak bisa berbahasa Indonesia maupun bahasa Ambon.

Bupati Maluku Tengah Tuasikal Abua sudah berencana merelokasi warga ke tempat yang lebih aman. Namun warga menolak untuk dipindahkan, dengan alasan enggan untuk meninggalkan tanah mereka hingga takut ada perusahaan yang masuk dan mengelola tanah mereka.

Kendati demikian, Sekretaris Dinsos Pemprov Maluku, Frangky Taniwel mengatakan, pihaknya telah membangun 10 tenda untuk penampungan sementara. Selimut bagi warga juga telah didistribusikan.

“Sementara ini, Dinsos Kabupaten Malteng memberikan bantuan berupa peralatan masak juga tenda gulung dan selimut. Selain itu, telah dipasang 10 tenda sebagai tempat penampungan sementara yang disepakati bersama,” ucap Taniwel.

suku Mausu Ane

Distribusi pangan dan kebutuhan lain untuk suku Mausu Ane di pulau Seram yang mengalami krisis makanan. (Foto: Antara/Daniel Leonard)

Tak hanya itu, pemerintah juga melakukan pendampingan terhadap para warga yang menjadi korban bencana kelaparan tersebut. Santunan bagi para ahli waris korban meninggal pun telah diusulkan Ke Kementerian Sosial.

“Pendampingan psikososial juga dilakukan oleh tim gabungan selama dua hari di lokasi penampungan sementara. Masyarakat umumnya tidak dapat berbahasa Indonesia dan lokasi pemukiman mereka sangat jauh dari perkampungan warga lainnya,” ujar Taniwel.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Pemprov Maluku, Doni Rerung, menegaskan bencana ini bukan karena kelaparan. Menurut dia, ada beberapa penyebab yang mengakibatkan warga meninggal dunia.

“Tidak benar ada kasus gizi buruk yang menimpa warga tersebut dan bukan karena kelaparan yang berkepanjangan, tetapi karena kehabisaan bahan makanan. Setelah petugas lapangan melakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan terhadap anggota masyarakat, ada juga yang menderita muntaber akibat minum air sungai yang belum di masak. Dan ini juga telah tertangani,” kata Rerung.