Daerah, DKI Jakarta

Pelican Crossing di HI Berlaku, Warga Keluhkan Bertambahnya Kemacetan

Petugas Dishub DKI Jakarta membantu mengatur lalu lintas saat pejalan kaki menyeberang di kawasan Bundaran HI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat menggunakan fasilitas Pelican Crossing. (Foto: Nur Azizah/detikcom)

Jurnalindonesia.co.id – Pemberlakuan jalur khusus penyeberangan orang atau Pedestrian Light Control/Pelican Crossing mengakibatkan penumpukan kendaraan di kawasan sekitar Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.

Penumpukan itu terjadi beberapa kali sejak pukul 08.00 WIB. Salah satunya yang terjadi di Jalan MH Thamrin, dari mulai lampu merah Sarinah hingga ke depan Hotel Pullman arah Tosari (lampu merah Bundaran HI). Jaraknya sekitar 1 km.

“Yah jadi tambah macet. Ini udah macet tambah macet,” kata salah satu pengendara Taksi, Rohman, di kawasan Thamrin, Jakarta, Selasa (31/7), sebagaimana dilansir CNNIndonesia.com.

Rohman yang memang hampir setiap hari melintas di kawasan Sudirman-Thamrin mengaku sudah ‘kenyang’ dengan kemacetan akibat pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) yang menutup beberapa ruas jalan di wilayah Jakarta.

Saat pembangunan MRT sudah hampir rampung, Rohman mengaku senang. Dia berharap selesainya proyek tersebut akan membuat kemacetan berkurang, karena ruas jalan yang semula ditutup kini telah dibuka.

Namun, diakui Rohman rasa senang dia hanya bertahan kurang lebih satu minggu.

“Karena tiba-tiba orang disuruh nyebrang di jalan lagi. Ya macet lagi, udah enak-enak ada jembatan. Aman juga buat penyebrang, buat kita pengendara juga aman,” kata Rohman.

Suasana saat warga menyeberang di pelican crossing di kawasan Bundaran HI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. (Foto: Nur Azizah/detikcom)

Hal senada disampaikan Taufik yang berkantor di Menara BCA, Jalan Jenderal Sudirman. Dia mengeluh karena tertahan cukup lama di dalam kendaraan dari Sarinah menuju Bundaran HI.

“Saya bawa mobil aja tadi ketahan di depan Sarinah cukup lama, katanya Pelican ini waktu nyebrang cuma dikasih 13 detik. Tapi di Jakarta 13 detik di jam-jam sibuk tetap saja bikin kendaraan numpuk, ini saja sudah numpuk,” ucap Taufik.

Taufik menyayangkan mengapa pemerintah memutuskan membongkar Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) HI dengan dalih untuk memperlancar proyek underpass penyeberangan orang di kawasan Bundaran HI. Padahal, JPO itu lebih baik dirobohkan setelah underpass penyeberangan sudah siap digunakan.

Taufik menegaskan keberadaan JPO sebagai fasilitas penyebrangan itu memiliki nilai cukup untuk membuat nyaman pengendara maupun penyebrang.

“Saya juga suka nyebrang kok, kan gak tiap hari bawa kendaraan. Dan lebih enak pakai JPO. Kalau merasa capek karena harus naik tangga, ya hitung-hitung olahraga pagi. Mending capek sedikit daripada berbahaya,” kata Taufik.

JPO di Bundaran HI sebelum dibongkar. (Foto: Azizah/detikcom)

Dinda, seorang pejalan kaki yang menyebrang di kawasan Bundaran HI, mengaku masih agak takut meskipun sudah ada tanda fasilitas Pelican Crossing untuk menghentikan pengendara kendaraan bermotor. Ia lebih mengkhawatirkan perilaku pengendara kendaraan bermotor yang kerap menerobos lampu lalu lintas meski menyala merah sebagai tanda harus berhenti.

“Saya sih nyaman-nyaman saja. Tidak usah naik tangga, tapi tetap agak takut. Pengendara kan lampu merah yang biasa saja suka diterobos, apalagi yang model begini. Ini mungkin lancar karena ada petugas saja yah,” ujar Dinda.

Akibat tidak ada lagi JPO di HI, mau tak mau Dinda dan para pejalan kaki harus memanfaatkan fasilitas Pelican Crossing untuk menyebrang dari sisi jalan di depan Hotel Pullman menuju sisi di depan Plaza Indonesia dan sebaliknya.

“Ya enggak apa-apa. Terima saja Pelican Crossing. Tapi ya sudah yah JPO HI saja yang dibongkar, jangan semua JPO di Jakarta dibongkar,” katanya.

Suasana kepadatan jalanan di sekitar Bundaran HI yang semakin bertambah karena harus menunggu para penyebrang jalan yang melintas setelah JPO dirobohkan. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Pelican Crossing itu memang resmi diberlakukan pascapembongkaran JPO Bundaran HI. Pelican Crossing yang dipasang pada Senin (30/7/2018) itu berada di di depan Hotel Pullman dan Plaza Indonesia.

Berdekatan dengan JPO Bundaran HI tersebut, ada satu JPO lainnya yakni di Jalan Jenderal Sudirman yang menghubungkan sisi jalan berseberangan dengan Halte Transjakarta Tosari ICBC. Jarak dari JPO Tosari itu ke JPO Bundaran HI yang telah dirobohkan sekitar 700 meter.

Sebelumnya, pada 26 Juli 2018 saat menyatakan JPO Bundaran HI bakal dirobohkan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan itu dilakukan karena sulit terintegrasi dengan MRT yang memang berada di bawah permukaan tanah di kawasan tersebut.

Proyek MRT yang menghubungkan kawasan Lebak Bulus dengan MH Thamrin itu dibangun dengan dua jenis rute. Pertama adalah rute rel layang dari Lebak Bulus hingga selepas kawasan Blok-M, lalu rute bawah tanah dari mulai sana hingga kawasan Bundaran HI.

Loading...