Daerah, DKI Jakarta

Kota Tua Gagal Jadi Warisan Dunia, DPRD: Pemprov DKI Tak Serius Menata

Museum Fatahillah, salah satu objek wisata di kawasan Taman Fatahillah, Jakarta Barat yang menjadi tujuan terpopuler pengunjung di Kota Tua. (Foto: Kompas.com/Rima Wahyuningrum)

Jurnalindonesia.co.id – Sekretaris Komisi Pembangunan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta Pandapotan Sinaga menilai, kegagalan kawasan Kota Tua Jakarta dan empat pulau di Kepulauan Seribu jadi situs warisan dunia UNESCO akibat pemerintahan Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini kurang serius menanganinya.

“Kurang seriusnya Pemprov DKI untuk menata atau menjaga Kota Tua,” kata Pandapotan kepada Tempo, Kamis (5 /7/2018).

Pandapotan Sinaga mengatakan, Pemprov DKI turut andil atas batalnya Kawasan Kota Tua Jakarta menjadi situs warisan dunia oleh UNESCO. Ketua DPC PDIP Jakpus itu berpendapat, DKI di bawah kepemimpinan Anies Baswedan-Sandiaga Uno tidak melanjutkan komitmen era Gubernur sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk menjadikan Kota Tua sebagai warisan dunia. Beberapa perubahan kebijakan dinilai Pandapotan berpengaruh terhadap penilaian UNESCO.

“Kalau era Ahok Kampung Akuarium ditata salah satunya untuk itu, Pemprov sekarang malah menghidupkan kembali,” kata Pandapotan.

Pandapotan Sinaga

Pandapotan Sinaga. (Foto: dprd-dkijakartaprov.go.id)

Baca: Semrawutnya Kota Tua, dari PKL yang ‘Kuasai’ Trotoar dan Jalan hingga Sampah Berserakan

Sebelumnya, Gubernur DKI Anies Baswedan mengatakan, tidak direkomendasikannya kawasan Kota Tua sebagai warisan dunia UNESCO merupakan salah satu dampak dari reklamasi.

Baca Juga:  Susi Ferawati, Perempuan Korban Intimidasi di CFD Lapor ke Polda Metro Jaya

Oleh karena itu, Anies ingin persoalan reklamasi harus segera diselesaikan karena dampaknya besar terhadap Ibu Kota.

“Saya melihat reklamasi memang harus kita bereskan. Berapa dampaknya, ternyata besar, bahkan di dalam penilaian mengenai Kota Tua pun berdampak,” kata Anies usai menghadiri penutupan Multaqo (Pertemuan) Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa kelima yang diadakan di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jumat (06/07/2018).

Senada dengan Anies, Wakil Gubernur Sandiaga Uno pun mengakui salah satu penyebab kegagalan Kota Tua dan beberapa pulau bersejarah di Kepulauan Seribu menjadi situs warisan dunia UNESCO karena adanya reklamasi Teluk Jakarta.

“Salah satunya itu, karena yang dimasukkan bukan hanya Kota Tua, tapi juga Kepulauan Seribu dan lain-lain. Kan rusak gara-gara reklamasi kemarin,” kata Sandiaga di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2018).

“Jadi kalau kemarin ke Kepulauan Seribu banyak sedimentasi yang berubah di sana karena ya, kalau UNESCO kan nggak boleh berubah sama sekali. Waktu kemarin dimasukkan kan submission pertama ini kawasan luas sekali. Saking luasnya, perubahan pulau terbangun salah satunya juga. Kali Besar juga kemarin ternyata revitalisasinya nggak sesuai dengan budaya,” imbuhnya.

Baca Juga:  Tolak Ahok Kembali Aktif, Empat Fraksi DPRD DKI “Mogok Kerja”

Baca: Kota Tua Gagal Jadi Warisan Dunia, Anies-Sandi: Dampak dari Reklamasi

Museum Fatahillah

Kompleks Museum Fatahillah saat liburan Idul Fitri 1439 H di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (16/6/2018). Museum Fatahillah adalah salah satu objek wisata di kawasan Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat yang menjadi tujuan terpopuler pengunjung diantara tempat wisata Kota Tua lainnya.(Kompas.com/Garry A Lotulung)

Pernyataan senada juga disampaikan Kepala Subdirektorat Warisan Budaya Benda Dunia Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Yunus Arbi. Dia mengatakan, hasil evaluasi negatif dari ICOMOS salah satunya terkait dengan proyek reklamasi Teluk Jakarta.

Menurut Yunus, reklamasi bertolak belakang dengan upaya pelestarian lingkungan. UNESCO, kata Yunus, memang mensyaratkan tempat yang diusulkan sebagai situs warisan dunia harus berada dalam kawasan lindung yang terbebas dari pembangunan.

UNESCO baru saja memutuskan 19 situs sebagai warisan dunia baru. Indonesia sempat mendaftarkan Kota Tua dan beberapa pulau bersejarah di Kepulauan Seribu dalam nominasi pada 2015. Namun akhirnya tidak direkomendasikan oleh International Council on Monuments and Sites (ICOMOS).

Baca Juga:  Anggota DPRD DKI: OK OCE Cuma Program Lip Service

ICOMOS menyusun laporan evaluasi nomine untuk Komite Warisan Dunia UNESCO beberapa waktu lalu. Di dalam laporan itu dijelaskan, Indonesia gagal mendemonstrasikan keistimewaan Kota Tua.

Selain itu, disebut pula soal reklamasi yang berada di antara Kota Tua dengan Pulau Onrust, Pulau Cipir, Pulau Bidadari, dan Pulau Kelor. Reklamasi jadi salah satu alasan Kota Tua dan empat pulau itu tak direkomendasikan.

“Saat ini, 17 pulau dengan ukuran lebih dari 5.000 hektar sedang dibuat di antara dua komponen lokasi. ICOMOS menilai pulau-pulau ini dan Great Seawall Project sangat mengubah pemandangan lautan Jakarta dan mengganggu hubungan visual antara dua komponen lokasi,” tulis ICOMOS dalam laporannya beberapa bulan lalu.

“Lebih lanjut, ICOMOS menilai pembangunan high-rise di pusat sejarah, berpengaruh negatif terhadap nilai sejarah dan visualnya,” tulis ICOMOS lagi.