Daerah, DKI Jakarta

Kota Tua Gagal Jadi Warisan Dunia, Anies-Sandi: Dampak dari Reklamasi

Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno
Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memimpin rapat SKPD pada hari pertama masuk kerja sebagai kepala daerah Ibukota di Gedung Balaikota DKI, Jakarta, 17 Oktober 2017. (Foto:Tempo/Subekti)

Jurnalindonesia.co.id – Kota Tua dan beberapa pulau bersejarah di Kepulauan Seribu gagal menjadi situs warisan dunia (world heritage) UNESCO.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai, tidak direkomendasikannya kawasan Kota Tua sebagai warisan dunia UNESCO merupakan salah satu dampak dari reklamasi.

Oleh karena itu, Anies ingin persoalan reklamasi harus segera diselesaikan karena dampaknya besar terhadap Ibu Kota.

“Saya melihat reklamasi memang harus kita bereskan. Berapa dampaknya, ternyata besar, bahkan di dalam penilaian mengenai Kota Tua pun berdampak,” kata Anies usai menghadiri penutupan Multaqo (Pertemuan) Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa kelima yang diadakan di Hotel Grand Cempaka, Jakarta, Jumat (06/07/2018).

Anies mengatakan, pihaknya akan serius menata wilayah pesisir Jakarta seperti Kota Tua yang merupakan tempat bersejarah.

“Jadi jangan anggap sepele perubahan wilayah di pesisir Jakarta. Karena itu mau kita tata serius Jakarta. Ini kota bersejarah,” lanjutnya.

Baca: Semrawutnya Kota Tua, dari PKL yang ‘Kuasai’ Trotoar dan Jalan hingga Sampah Berserakan

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah, salah satu objek wisata di kawasan Taman Fatahillah, Jakarta Barat yang menjadi tujuan terpopuler pengunjung di Kota Tua. (Foto: Kompas.com/Rima Wahyuningrum)

Ia pun menyayangkan apabila wilayah Kota Tua seolah terbuang percuma karena tak masuk dalam catatan dunia sebagai tempat bersejarah.

Baca Juga:  Sandiaga: Hidup Ini Senda Gurau, Buat Apa Cekcok Karena Politik

UNESCO baru saja memutuskan 19 situs sebagai warisan dunia baru. Indonesia sempat mendaftarkan Kota Tua dan beberapa pulau bersejarah di Kepulauan Seribu dalam nominasi pada 2015. Namun akhirnya tidak direkomendasikan oleh International Council on Monuments and Sites (ICOMOS).

ICOMOS menyusun laporan evaluasi nomine untuk Komite Warisan Dunia UNESCO beberapa waktu lalu. Di dalam laporan itu dijelaskan, Indonesia gagal mendemonstrasikan keistimewaan Kota Tua.

Selain itu, disebut pula soal reklamasi yang berada di antara Kota Tua dengan Pulau Onrust, Pulau Cipir, Pulau Bidadari, dan Pulau Kelor. Reklamasi jadi salah satu alasan Kota Tua dan empat pulau itu tak direkomendasikan.

Baca Juga:  Sandiaga: Habib Bahar Tokoh Agama, yang Disampaikan Penuh Makna

“Saat ini, 17 pulau dengan ukuran lebih dari 5.000 hektar sedang dibuat di antara dua komponen lokasi. ICOMOS menilai pulau-pulau ini dan Great Seawall Project sangat mengubah pemandangan lautan Jakarta dan mengganggu hubungan visual antara dua komponen lokasi,” tulis ICOMOS dalam laporannya beberapa bulan lalu.

“Lebih lanjut, ICOMOS menilai pembangunan high-rise di pusat sejarah, berpengaruh negatif terhadap nilai sejarah dan visualnya,” tulis ICOMOS lagi.

Museum Fatahillah

Kompleks Museum Fatahillah saat liburan Idul Fitri 1439 H di Kota Tua, Jakarta Barat, Sabtu (16/6/2018). Museum Fatahillah adalah salah satu objek wisata di kawasan Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat yang menjadi tujuan terpopuler pengunjung diantara tempat wisata Kota Tua lainnya.(Kompas.com/Garry A Lotulung)

Senada dengan Anies, Wakil Gubernur Sandiaga Uno pun mengakui salah satu penyebab kegagalan Kota Tua dan beberapa pulau bersejarah di Kepulauan Seribu menjadi situs warisan dunia UNESCO karena adanya reklamasi Teluk Jakarta.

Baca Juga:  Soal Kondisi Tanah Abang yang Makin Semrawut, Sandiaga: Ramai Itu Berkah

“Salah satunya itu, karena yang dimasukkan bukan hanya Kota Tua, tapi juga Kepulauan Seribu dan lain-lain. Kan rusak gara-gara reklamasi kemarin,” kata Sandiaga di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (4/7/2018).

“Jadi kalau kemarin ke Kepulauan Seribu banyak sedimentasi yang berubah di sana karena ya, kalau UNESCO kan nggak boleh berubah sama sekali. Waktu kemarin dimasukkan kan submission pertama ini kawasan luas sekali. Saking luasnya, perubahan pulau terbangun salah satunya juga. Kali Besar juga kemarin ternyata revitalisasinya nggak sesuai dengan budaya,” imbuhnya.

Baca juga: Sandiaga Ingin Jakarta Jadi Kota Wisata Halal Terbaik Se-Asia

Sandiaga mengatakan, saat ini pihaknya belum memutuskan apakah akan mendaftarkan lagi Kota Tua sebagai warisan dunia UNESCO atau tidak. Yang pasti, penataan kawasan Kota Tua tetap dilanjutkan.

Proyek mass rapid transit (MRT) menurut Sandiaga akan tetap melewati area bawah tanah kawasan Kota Tua. Proyek MRT itu juga disinggung dalam laporan (ICOMOS). Proyek itu dikhawatikan tak dapat menjamin kepastian nilai sejarah Kota Tua.