Daerah, Sumatera Utara

Ratna Sarumpaet Buat Gaduh, Ternyata Pihak Keluarga Sepakat Pencarian Korban Dihentikan

Tim SAR gabungan mengangkat perlengkapan selam saat pencarian korban tenggelamnya KM Sinar Bangun, di Danau Toba, Simalungun, Sumatera Utara, Minggu (24/6/2018). (Foto: Antara/Irsan Mulyadi)

Jurnalindonesia.co.id – Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, sempat berdebat dengan Ratna Sarumpaet di Posko Pencarian Korban KM Sinar Bangun di Tigaras, Sumatera Utara, Senin (2/7/2018). Kunjungan Luhut ke posko tersebut adalah untuk melakukan diskusi dengan pihak keluarga korban tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba pada Senin (18/6/2018) sore.

Ratna yang mengaku datang sebagai wakil dari pihak keluarga korban, memprotes keras rencana penghentian pencarian korban dan evakuasi KM Sinar Bangun.

Dengan lantang, di hadapan Luhut Ratna meminta agar pencarian korban hilang KM Sinar Bangun tetap dilanjutkan.

“Semua mayat diangkat, baru boleh dihentikan.‎ Jangan ada yang berani menghentikan,” teriak Ratna.

Diskusi yang tadinya tenang pun mendadak berubah gaduh.

Baca Juga:  Ketika Para Lurah Tolak Perintah Anies Baswedan

Namun, benarkah semua keluarga korban KM Sinar Bangun minta agar pencarian diteruskan sampai semua mayat diangkat, sebagaimana yang disampaikan Ratna?

Bupati Simalungun, JR Saragih, mengungkap fakta lain. Dia mengatakan, sudah ada 100 keluarga korban yang setuju untuk pemberhentian. Akan tetapi masyarakat meminta agar dibangun monumen sebagai tanda perhentian pencarian.

“Saya sudah jelaskan kepada keluarga korban, alat untuk mengangkat korban ada, tapi butuh waktu satu bulan. Jadi, ada 100 lebih masyarakat yang memutuskan dihentikan tapi diminta dibangun tugu (monumen),” kata JR Saragih di hadapan Menteri Maritim Luhut Binsar Panjaitan di Posko Basarnas Bencana KM Sinar Bangun di Dermaga Tigaras, Kabupaten Simalungun, Senin (2/7/2018).

Baca Juga:  Ratna Sarumpaet: Sakit Jiwa, Timses Jokowi Benar-benar Sakit

Baca: Kepala SAR Medan: Ratna Sarumpaet Saja yang Nyelam ke Danau Toba

JR Saragih memastikan, seluruh biaya pembangunan monumen akan difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten Simalungun. Pihaknya juga tengah berkordinasi dengan yang mempunyai tanah untuk dapat membeli tanah tersebut.

“Seluruh bangunan akan difasilitasi Pemkab Simalungun. Sudah kita rencanakan di situ monumennya. Kita sekarang sedang koordinasi untuk membeli tanahnya,” ucap JR Saragih.

Sebelumnya, Tim Basarnas dan tim Gabungan menyatakan rencananya untuk menghentikan proses pencarian dan evakuasi korban KM Sinar Bangun dan penghentian pencarian dengan melakukan tabur bunga dan mendirikan monumen.

Adapun proses pencarian korban KM Sinar Bangun sudah dilakukan sejak kapal tenggelam pada 18 Juni, hingga 24 Juni 2018. Perpanjangan masa pencarian pertama 25 sampai 27 Juni 2018.‎ Kemudian, perpanjangan masa pencarian untuk kedua kalinya, 28 hingga 30 Juni 2018. Untuk perpanjangan pencarian ketiga kalinya, 1 sampai 3 Juli 2018.

Baca Juga:  Susi Ferawati, Perempuan Korban Intimidasi di CFD Lapor ke Polda Metro Jaya

‎Sampai hari ini pencarian yang dilakukan oleh tim SAR gabungan baru berhasil mengevakuasi 24 orang. Dimana, 21 orang berhasil selamat dan 3 orang dalam keadaan meninggal dunia. Serta 164 orang masih dinyatakan hilang di perairan Danau Toba.