Ekonomi dan Bisnis

Tuding Ada ‘Mark Up’ Proyek LRT, Prabowo Mengaku Dapat Info dari Anies

Prabowo Subianto - Anies Baswedan
Prabowo Subianto saat mengucapkan selamat kepada Anies Baswedan usai dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 di Istana Negara, Jakarta, 16 Oktober 2017. (Foto: Tempo/Subekti)

Jurnalindonesia.co.id – Ketum Partai Gerindra, Prabowo Subianto menuding ada mark up anggaran pada proyek Light Rail Transit (LRT) di Palembang, Sumatera Selatan. Prabowo mengaku mendapatkan informasi mengenai indeks harga LRT sedunia dari Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Hal tersebut Prabowo sampaikan dalam sambutan di acara silaturahmi kader di Hotel Grand Rajawali, Palembang, Kamis (21/6) kemarin.

Baca: Prabowo Curiga Ada Mark Up di Anggaran Proyek LRT

Berikut pernyataan lengkap Prabowo di depan kadernya yang membahas mengenai LRT, sebagaimana dilansir detikcom, Jumat, 22 Juni 2018:

Saya bisa buktikan. Kenapa mereka takut dengan saya? Karena saya paham kebocoran-kebocoran itu. Saya mengerti di mana Anda mencuri. Kalau mereka bisa nutup kebocoran itu, saudara-saudara, dalam waktu cepat, Indonesia bangkit, karena sama, kalau manusia hilang darah, di ujungnya kolaps. Tadi dalam perjalanan di airport, wah ada LRT, kereta api. Ingat, kita tahu, tidak jelas bermanfaatnya untuk siapa.

Saya tanya harganya berapa proyeknya. Rp 12,5 triliun. Luar biasa. Rp 12,5 triliun untuk sepanjang 24 km. Saya diberi tahu oleh Gubernur DKI yang sekarang, saudara Anies Baswedan, dia menyampaikan kepada saya: Pak Prabowo, indeks termahal LRT di dunia 1 km adalah 8 juta dolar.

Kalau ini, Rp 12 triliun untuk 24 km, berarti 1 km 40 juta dolar. Bayangkan. Di dunia 1 km 8 juta dolar, di Indonesia, 1 km 40 juta dolar. Jadi saya bertanya kepada saudara-saudara, mark up, penggelembungannya berapa? 500 persen.

Ini bangsa ini pintar atau bodoh.

Saudara-saudara sekalian. 500 persen, mencurinya 400 persen. 8 Juta dolar di luar negeri sudah untung, kalau tidak untung mereka tidak kerja kalau hitungan saya ini di sana untung minimal 20-30 persen. Ini betapa, 500 persen. Bayangkan 400 persen, aduh. 40 juta dolar, 1 km jadi 32 juta dolar yang hangus. Berapa rupiah itu? Rp 400 miliar. Bisa bangun berapa RS? Berapa puskesmas, berapa ribu hektare. Ini di Palembang, bagaimana di Bogor? bagaimana di Jakarta, di provinsi lain?

Baca juga: Kontraktor Tantang Prabowo Tunjukkan Data “Mark Up” LRT Palembang

Baca Juga:  Pendukung Anies-Sandi Dilantik Jadi Pengurus KONI DKI

Penjelasan Gerindra

Dalam penjelasannya, pihak Partai Gerindra mengatakan, soal anggaran biaya LRT ini dikutip langsung dari data resmi milik Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

“Kalau kami baca, biaya LRT Palembang ini memang lebih mahal dibanding LRT di Jakarta. Itu data ada di Kemenhub, ini pernyataan resmi dari Sekjen Kemenhub Sugihardjo (sekarang Staf Ahli Bidang Bidang Logistik dan Multimoda Perhubungan) bahwa LRT Jabodetabek lebih murah dari LRT Palembang,” ujar anggota Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade kepada wartawan, Kamis (21/6/2018).

Baca Juga:  Kapan Rizieq Pulang? Pendiri Presidium Alumni 212: Tanya ke Anies, Dia yang Paling Sering Berkomunikasi

Menurut Andre, biaya pembangunan LRT Palembang lebih mahal sekitar Rp 800 miliar dibandingkan LRT Jakarta. Angka ini didapatkan dengan menghitung selisih biaya pembangunan per KM LRT Palembang dan LRT Jakarta.

“Di Jabodetabek per KM 264,7 miliar. Kalau Palembang itu per KM 296 miliar. Jadi ada sekitar 32 miliar something per KM lebih mahal dibanding Jakarta. Jadi pengakuan Pak Prabowo nggak mengada-ada juga,” jelas Andre.

Baca Juga:  5 Kritikan AHY untuk Jokowi-JK, dari Pencabutan Subsidi hingga TKA

“Kalau dihitung 24,5 KM dikali 32 miliar itu hampir 800 miliar bedanya. Itu kan angka yang fantastis 800 miliar,” lanjutnya.

Wasekjen DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade.

Wasekjen DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade.

Bantahan

Kontraktor yang menangani proyek tersebut pun sebelumnya sudah membantah tegas tudingan Prabowo tersebut. Menurut Kepala Proyek LRT Palembang, Mashudi Jauhar, biaya pembangunan LRT yang hanya US$ 8 juta/km tak jelas sumber datanya.

“Ya, apa yang mau ditanggapi? Wong datanya juga nggak dijelaskan dari mana? Dan apa bisa disamakan dengan Palembang yang dimaksudkan?” kata mashudi.

Sementara Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, tudingan Prabowo tersebut hanya statement tanpa data.

“Itu enggak benar. Sebaiknya sebagai orang yang pandai harus meneliti dulu masukan dari timnya, karena angka dugaan itu bukan angka yang benar,” ujar Menhub.