Ekonomi dan Bisnis, Politik

Terima Tantangan Ngabalin Soal Kemacetan, Gerindra Tunjukkan Data Ini

kendaraan memadati Gerbang Tol Cikarang Utama
Ilustrasi: kendaraan memadati Gerbang Tol Cikarang Utama di Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (9/6/2018). (Foto: Antara/Hafidz Mubarak A)

Jurnalindonesia.co.id – Anggota Badan Komunikasi Gerindra, Andre Rosiade, mencoba membela rekan separtainya, Fadli Zon, mengenai data kemacetan pada mudik tahun ini.

Sebelumnya, Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin menangtang Fadli Zon untuk menunjukkan data yang mendukung pernyataannya terkait gagalnya Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengatasi persoalan mudik.

Andre pun membela Fadli dengan membeberkan data-data tersebut. Data kemacetan tersebut didapat dari pengalaman pribadi salah satu keluarganya yang mudik melalui jalur darat dari Jakarta-Ngawi-Jakarta. Kemacetan, kata Andre, terus dijumpai sepanjang perjalanan.

“Menjawab pernyataan Bang Ngabalin yang menantang Bang Fadli memberikan data kemacetan, ini saya sampaikan pengalaman adik sepupu saya yang mengalami macet di saat mudik,” kata Andre kepada detikcom, Kamis (21/6/2018).

Wasekjen DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade.

Wasekjen DPP Partai Gerindra, Andre Rosiade.

Andre menuturkan, lewat jalur selatan, tepatnya dari Bandung hingga Ciamis, tidak ada perubahan berarti terkait persoalan infrastruktur bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Minimnya penerangan dan sempitnya jalan, kata Andre, masih mewarnai perjalanan mudik tahun ini.

“Dan nggak ada akses tol sama sekali dari Ciamis sampai Yogya. Semua lewat jalur N3. Dari zaman Soeharto sampai Jokowi tidak ada perubahan signifikan di jalur Nagreg, Ciawi, Pasar Gentong,” ucapnya.

Kemacetan, kata Andre, juga ditemui keluarganya di sepanjang jalan Ajibarang-Purwokerto. Andre menyebut kemacetan di jalur itu telah menjadi problem menahun yang belum terselesaikan.

“Jadi kemacetan itu masih ada. Nggak usah pemerintah terlalu lebay kalau dikritik bahwa masih ada macet,” ucapnya.

Baca: Habiburokhman: Mudik Tahun Ini Seperti Neraka!

Sementara saat arus balik pada H+1 Lebaran, Andre menuturkan, dari Ngawi menuju Solo, meski lancar, adanya crossing jalan di Jalan Tol Ngawi-Kertosono menimbulkan bahaya tersendiri bagi para pemudik. Crossing jalan tersebut disebabkan belum selesainya overpass atau jembatan pada jalan tol tersebut.

“Perjalanan 2 jam (lancar) tapi bahaya sekali, karena ada crossing jalan yang setiap saat orang bisa menyeberang,” ucap Andre.

Sementara itu, memasuki perjalanan dari Solo menuju Semarang, kemacetan yang cukup panjang menghadang perjalanan. Andre mengatakan keluarganya harus menempuh perjalanan selama 7 jam dari Solo ke Semarang.

“Berangkat jam 16.00 WIB sampai Semarang jam 23.00 WIB. Tidak ada akses tol dibuka sama sekali. Jadi harus pakai Boyolali-Salatiga. Jalanan kecil, menanjak, polisi sedikit. Padahal jalur sebaliknya dibuka untuk tol. Baru ada tol di Salatiga ke Semarang (lancar),” ujarnya.

Baca juga: Habiburokhman Polisikan Balik Pihak yang Melaporkan Dirinya soal ‘Mudik Neraka’

Dari Semarang menuju Jakarta, pada 17 Juni 2018, semua akses jalan tol dari Batang, Pemalang, Pekalongan, Tegal, Brebes Barat, kata Andre, ditutup. Semua mobil harus lewat outer ring road dan jalan tol dibuka di Brebes Timur.

“Total perjalanan dari jam 16.00 WIB sampai Jakarta jam 7.30 WIB. Normal Jakarta-Semarang 8 jam, tapi kenyataannya hampir 16 jam. Sepanjang jalan polisi cuma ada di perempatan besar. Di tol nggak ada polisi yang aktif. Dan semua rest area full dan orang parkir sepanjang bahu jalan,” jelas Andre.

Andre mengatakan kritik yang dilontarkan pihaknya bukanlah kritik yang tidak berbasis data. Dia menilai pernyataan Ngabalin saat menanggapi kritik yang dilontarkan oposisi berlebihan.

“Jadi pernyataan Ngabalin itu lebay dan asbun (asal bunyi). Kritik ini kan masukan agar ke depan jauh lebih baik,” ujarnya.

Sebelumnya, Fadli Zon menyatakan, kemacetan parah yang mewarnai mudik lebaran tahun ini adalah tanda kegagalan pemerintahan mengatasi persoalan mudik.

Fadli menilai pemerintah gagal memprediksi arus puncak mudik dan arus balik. Ditambah lagi, menurutnya, pemerintah tak tegas memutuskan cuti bersama Lebaran.

Selain itu, pemerintah juga dinilai terlalu menggembar-gemborkan pembangunan jalan tol. Ternyata, jalan tol bukan solusi kemacetan mudik.

“Klaim keberhasilan terlalu dini yang digembar-gemborkan di media ternyata tak sesuai realita. Ini menunjukkan pembangunan sejumlah ruas tol baru yang selalu dibanggakan pemerintah bukan solusi akhir. Pembangunan infrastruktur jalan bagus-bagus saja, tapi belum tentu dapat atasi kemacetan,” kata Fadli melalui keterangan pers tertulis, Kamis (21/6/2018).

Wakil Ketua DPR Fadli Zon

Wakil Ketua DPR Fadli Zon. (Foto: Antara/M Agung Rajasa)

Pada mudik kali ini, ada penerapan sistem contraflow untuk mengatasi kemacetan. Menurut Fadli, itu adalah penerapan contraflow terpanjang dalam sejarah di Indonesia. Namun penerapan contraflow itu justru dianggap merugikan masyarakat pengguna jalan tol yang berlawanan arah.

“Rekayasa lalu lintas berupa contraflow juga tak maksimal mencegah atau sekadar mengurai kemacetan. Padahal contraflow yang diberlakukan sudah sangat panjang. Bahkan bisa jadi penerapan contraflow kali ini terpanjang dalam sejarah Indonesia. contraflow juga mengganggu masyarakat pengguna tol reguler yang tak tahu kebijakan ini,” kata dia.

Fadli pun mengimbau agar pemerintah perlu memikirkan konsep yang lebih matang dalam mengelola mudik Lebaran. BPJT dan BUJT (Badan Usaha Jalan Tol) perlu meningkatkan standar pelayanan minimal (SPM) jalan tol.

Tanggapan Istana

Pihak Istana Kepresidenan menilai kritikan Fadli tersebut hanya asal bicara dan tak berdasarkan data. Sebab, menurutnya, masyarakat justru menilai mudik dan arus balik tahun ini lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Suruh dia siapkan datanya. Suruh siapkan supaya jangan asal bicara. Nanti kalau asal ngomong, malu. Itu kan Wakil Ketua DPR RI. Kan pasti banyak data,” kata Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin, kepada detikcom, Kamis (21/6/2018).

“Kalau dia hanya ngomong, ditertawai masyarakat karena masyarakat merasakan adanya kenyamanan mudik dan kembali,” lanjutnya.

Meski demikian, Ngabalin tak menampik ada sejumlah titik macet tahun ini. Namun tidak begitu berdampak signifikan.

“Memang di beberapa ruas jalan itu harus diakui ada tumpukan kendaraan, tetapi tidak banyak. Kayak kemarin di Pantura ada 2,5 Km. Di KSP ada laporan. Tapi hanya sekitar 1 jam atau hampir 2 jam selesai,” jelasnya.

Tanggapan Parpol

Tak hanya pihak Istana, sejumlah partai pendukung pemerintah pun angkat bicara mengenai kritikan Fadli tersebut.

NasDem, menyebut penilaian Fadli tidak dilakukan secara objektif.

“Kalau komentar Pak Fadli Zon kali ini gagal, maka Pak Fadli Zon melihat cermin sebagian dari yang kurang saja. Tapi dia juga harus melihat cermin yang lengkap bahwa ada pelayanan yang luar biasa baik,” kata Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate kepada detikcom, Kamis (21/6/2018).

Sementara Hanura meminta Fadli tidak melihat persoalan mudik dengan kacamata kuda.

“Melihat persoalan mudik jangan pakai kacamata kuda karena itu Fadli Zon perlu periksa mata lagi,” kata Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir kepada detikcom, Kamis (21/6/2018).

Inas menilai, mudik tahun ini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Arus mudik Lebaran tahun ini, menurutnya, relatif lebih lancar.

Sementara itu, menurut PPP, penilai Fadli soal mudik tidak objektif. Fadli juga disebut tidak memberikan kritik berdasarkan fakta di lapangan.

“Kalau Gerindra kan selalu menilai pemerintah gagal tanpa mau melihat secara objektif, fakta di lapangan,” kata Wasekjen PPP Achmad Baidowi kepada detikcom, Kamis (21/6/2018).

Pria yang akrab disapa Awiek itu mengatakan persoalan mudik, terutama terkait dengan kemacetan, memang merupakan masalah klasik di Indonesia. Namun tahun ini, menurutnya, kemacetan akibat mudik relatif berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Loading...