Nasional

Usai Hina Yahya Staquf dengan Sebut Cecunguk, Ketua DPD PKS Minta Maaf

Ketua DPD PKS Kota Medan, Salman Alfarisi
Ketua DPD PKS Kota Medan, Salman Alfarisi. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Kota Medan, Salman Alfarisi, akhirnya meminta maaf terkait pernyataannya yang dianggap menghina tokoh Nahdlatul Ulama (NU), dalam hal ini Yahya Cholil Staquf yang juga merupakan anggota dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

“Dengan kerendahan hati saya meminta maaf kepada: bapak Prof. Yahya Staquf, Warga nahdhiyyin dan DPP PKS atas postingan saya yang menampilkan kata-kata kurang pantas,” tulis Salman melalui akun Facebook-nya.

“Kata-kata yang saya sampaikan sangat emosional dan itu karena menyangkut perjuangan rakyat Palestina yang selama ini kami perjuangkan di Indonesia,” lanjutnya.

Ia menegaskan tidak maksud dirinya menyinggung anggota Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU).

“Kemudian saya sampaikan bahwa postingan tersebut karena kekhilafan saya pribadi dan tidak ada kait-mengait dengan PKS dari tingkat pusat hingga ranting yang juga sedikit banyak berimbas kepada PKS selaku partai dakwah yang menjunjung tinggi nilai dakwah yang hikmah dan mauizhah hasanah,” ucapnya.

Beberapa hari lalu, melalui media sosial Facebook, Salman mengunggah tulisan yang isinya mengkritik keras kunjungan Yahya Staquf ke Israel. Postingan itu kemudian jadi polemik di media lantaran bahasa yang digunakan dinilai terlalu kasar.

“Tak Puas jadi Wantimpres di Istana Negara.. Cecunguk itu Angkat Telor Cari Muka ke Israel.. Mau Merangkap Jadi Wantimpres Israel?” tulis Salman, Selasa lalu.

Unggahan tersebut sudah dihapus dari laman Facebook Salman. Politisi berusia 43 tahun itu kemudian meminta maaf karena hal itu ternyata memicu kecaman dari banyak pihak.

Baca: Sampaikan Kuliah di Israel, Yahya Staquf: Saya di Sini untuk Palestina

Selain Salman, politikus PKS lainnya, yakni Tifatul Sembiring, juga turut ‘meramaikan’ polemik kunjungan Yahya ke Israel. Melalui akun Twitter-nya, Tifatul mengajukan tiga pertanyaan yang ditujuan untuk Yahya.

“Mas Yahya boleh nanya enggak? Kunjungan ke Israel ini atas suruhan Presiden atau iso isoan jenengan dewe’ ae? Waktu ketemu Netanyahu sempet tanya nggak, mengapa Israel membantai 60 penduduk Ghaza pas 2 hari sebelum puasa?” cuit Tifatul melalui Twitter.

Loading...