Daerah, DKI Jakarta

Semrawutnya Kota Tua, dari PKL yang ‘Kuasai’ Trotoar dan Jalan hingga Sampah Berserakan

Semrawutnya PKL di Kota Tua
Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta. (Foto: Linda/detikcom)

Jurnalindonesia.co.id – Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, masih menjadi tujaun wisata favorit bagi warga Ibu Kota. Tak heran jika pada liburan idulfitri ini, kawasan tersebut dipadati pengunjung.

Namun, sayang, pemandangan tak sedap tampak mewarnai sejumlah ruas jalan menuju kawasan itu. Dari pintu keluar Halte Bus TransJakarta, menuju ke Museum Fatahillah, para pedagang kaki lima (PKL) memenuhi jalur trotoar hingga bahu jalan.

Sebagaimana dilaporkan detikcom, Minggu (17/6/2018), banyaknya PKL yang mengokupasi trotoar membuat para pejalan kaki kesulitan melewati kawasan ini.

Tak hanya para pejalan kaki, kendaraan bermotor pun hanya dapat menggunakan sebagian badan jalan karena hampir dua lajur dikuasai para pedagang.

Tak hanya itu, barisan delman juga ikut memenuhi badan jalan.

Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta. (Foto: Linda/detikcom)

Jalanan juga tampak semakin semrawut lantaran banyaknya pengunjung yang kemudian berbelanja di para PKL tersebut. Akibatnya, para pejalan kaki semakin kesulitan mencari jalan untuk berlalu lalang.

Para PKL tersebut didominasi oleh penjual aksesoris, pakaian, sandal sepatu, boneka, hingga makanan dan minuman

Toro, seorang pedagang ketoprak di kawasan tersebut menuturkan, dirinya memilih berjualan di bahu jalan lantaran strategisnya lokasi tersebut. Ia dapat dengan mudah mendapatkan pembeli meski di hari biasa.

“Di sini enak. Strategis. Gampang dapat pembeli,” ucapnya.

Toro merupakan salah satu pedagang yang sebelumnya dipindahkan oleh Pemprov DKI ke lokasi binaan (Lokbin) Taman Intan di Jalan Cengkeh, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat. Namun, ia memilih kembali berdagang di sepanjang Jalan Ketumbar, tepatnya di sekitar pintu masuk menuju Taman Fatahillah yang ramai pengunjung.

“Di sana sepi. Saya modal Rp 100.000. Tapi sehari dapetnya cuma Rp 15.000. Makanya milih di sini ajalah,” ujarnya.

Ia sebenarnya bersedia untuk dipindahkan, asalkan, lokasi penampungan tetap berada di kawasan Kota Tua.

“Mau dah di Lokbin, di Loksem (Lokasi Sementara). Asal tetep di sini,” ucapnya.

Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta

Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta. (Foto: Linda/detikcom)

Hal senada juga diungkapkan pedagang lainnya bernama Andi. Dia lebih memilih berjualan di bahu jalan karena lokasi yang strategis untuk berdagang.

“Di sini ramai. Apalagi lebaran gini, makin banyak pembelinya,” kata Andi.

Lalu lintas di sekitar Kawasan Kota Tua, khususnya di Jalan Ketumbar pun kemudian makin tersendat. Meski petugas kepolisian telah menertibkan kawasan itu.

Untuk berdagang di bahu jalan, PKL seringkali harus ‘kucing-kucingan’ dengan petugas Satpol PP maupun pihak kepolisian.

Namun, hal itu seperti tak diindahkan para pedagang. Mereka akan membereskan dagangannya saat ditertibakan petugas dan kembali memenuhi bahu jalan setelah petugas tidak ada.

Keberadaan para PKL liar di kawasan Kota Tua ini sudah lama dikeluhkan, terutama oleh para pedagang di Lokbin Taman Kota Intan.

Para PKL binaan ini mengeluhkan sepinya pembeli akibat kehadiran para PKL liar tersebut.

Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta

Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta. (Foto: Kompas.com/Sherly Puspita)

Sampah

Tak hanya soal PKL yang mengokupasi trotoar dan dua lajur jalan. Persoalan lainnya juga tak kalah memprihatinkan, yakni soal sampah.

Sampah yang berserakan di area wisata itu tentu menimbulkan pemandangan tak sedap.

Meski pengelola kawasan Kota Tua sudah menyiapkan banyak tempat sampah, nampaknya kesadaran pengunjung soal kebersihan belum terlihat.

Di sepanjang jalan di kawasan Kota Tua, sampah tampak berserakan. Berserakannya sampah terlihat di titik pusat area wisata, yakni Taman Fatahillah.

Sampah di kawasan Kota Tua, Jakarta

Sampah di kawasan Kota Tua, Jakarta. (Foto: Marlinda/detik)

Sampah didominasi oleh sampah plastik, botol minuman, hingga sampah kemasan berasal dari pengunjung kawasan tersebut.

Padahal, tempat sampah sudah disediakan di berbagai titik di area tersebut. Hampir setiap satu meter, disediakan tempat sampah di kawasan itu.

Satuan petugas (Satgas) Kota Tua, juga seringkali mengingatkan pengunjung untuk tak membuang sampah di sembarang tempat. Namun, sayangnya imbauan petugas seperti tak diindahkan para pengunjung.

Keluhan warga

Semrawutnya Kota Tua ini dikeluhkan oleh para warga yang berkunjung ke sana. Salah seorang pengunjung, Shesa, mengungkapkan pengalamannya saat melintas di kawasan tersebut. Dia mengaku sudah kesulitan berjalan kaki sejak dari Stasiun Kota.

“Saya tadi dari Stasiun Kota. Cuma mau lewat aja susah banget. Harus sampai jalan ke pinggir jalan banget. Lewat di jalur pedestarian macet, banyak yang beli di tukang jualan juga. Ribet deh,” kata warga Kebayoran Baru itu.

Ia berharap Pemprov DKI dapat segera menertibkan PKL yang berjualan hingga menggunakan hampir dua lajur jalan. Sebab, hal itu, menurutnya sudah sangat meresahkan bagi para pejalan kaki yang melintas seperti dirinya.

“Semoga ini cepet diberesin deh. Kan ganggu banget. Pejalan kaki jadi nggak nyaman kalau mau jalan,” ujarnya.

Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta

Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta. (Foto: Istimewa)

Semrawutnya PKL di Kota Tua, Jakarta. (Foto: Istimewa)

Hal senada juga diungkapkan pengunjung lainnya, Nita. Ia datang dari halte bus wisata Transjakarta, mengaku kesulitan mengakses jalur pedestarian untuk menuju ke Museum Fatahillah.

“Ini tadi nyebrangnya susah. Terus jalan mau ke museum juga susah. Desek-desekan tadi pas jalan di jalan yang buat pejalan kaki,” katanya.

Nita berharap, pemerintah dapat menata pedagang di area ini. Sebab, tak dipungkiri, menurutnya pedagang di kawasan tersebut memudahkan pengunjung yang kelaparan maupun kehausan.

“Ditata deh. Soalnya kan sebenernya ngebantu juga buat yang haus atau lapr biar nggak jauh-jauh amat kalau jajan. Tapi ya jangan sampai ganggu pejalan kaki aja,” ungkap ibu dengan dua anak ini.

Di media sosial kesmrawutan di lokasi wisata ini juga ramai diperbincangkan. Mereka mengeluhkan para PKL yang berjualan tanpa aturan tersebut. Berikut beberapa suara warganet terkait hal ini:

“Dari dulu solusi terbaik dengan PKL ini tinggal disentralisasikan saja lokasinya ke satu bangunan yang tersedia di Kota Tua, jadi pusat kuliner, jadi pusat oleh-oleh. Liat sekarang, pengabaian penataan berbuah jadi kesemrawutan. Kota Tua Jakarta can be better than this 🙄,” kata Adriansyah Yasin Sulaeman melalui akun @adriansyahys, Minggu 17 Juni 2018.

Penataan PKL Kota Tua

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno telah mengeluarkan ultimatum ke dinas UMKM agar masalah PKL di Kota Tua ini segera dibereskan.

“Saya akan panggil Dinas UMKM dan saya akan ultimatum,” kata Sandiaga, di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (16/6/2018).

Sandiaga mengatakan, penyelesaian masalah PKL di Kota Tua tak bisa hanya diselesaikan oleh Dinas UMKM Usaha Mikro, Kecil, Menengah DKI saja.

Menurut dia, pola pikir untuk menyelesaikan masalah ini harus out of the box. Ia berencana meminta Dinas UMKM untuk bekerja sama dengan Dinas Binamarga dan Dinas Perhubungan. Tujuannya, kata Sandi, agar dapat menghadirkan solusi terkait lalu lintas di Kawasan Kota Tua.

“Untuk menghadirkan tempat-tempat yang bisa dilalui. Cara pemikirannya harus out of the box, harus difokuskan sistem pop up,” katanya.

“Sistem digital ekonomi yang sekarang lagi berkembang, sistemnya masih sistem inilateral, sistem linier, harus diametral, memberikan kekinian. Nggak bisa pakai pola yang dahulu dahulu,” ujarnya.

Dengan cara ini, menurut Sandiaga, pihaknya akan dapat menampung keluhan-keluhan PKL liar dan PKL binaan, sehingga dalam penyelesaiannya tak hanya menguntungkan salah satu pihak saja.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno (Foto: Muhammad Fida/detikcom)

Evaluasi Lokbin Taman Kota Intan

Sandiaga juga mengaku akan mengevaluasi kembali pola penampungan PKL dengan lokasi binaan semacam Taman Kota Intan.

Menurut dia, perlu dipikirkan solusi baru agar pedagang mendapatkan tempat penampungan yang tidak sepi pembeli.

“Kemarin kan sudah dicoba di Taman Kota Intan tapi enggak berjalan karena enggak ada traffic-nya, (pembeli) enggak mengarah ke sana. Dan mengapa mereka di badan jalan, karena mereka ingin menangkap para pengunjung yang jalan di badan jalan tersebut, sehingga mengakibatkan kesemrawutan. Ini adalah tantangan ke depan,” ujar dia.

Ia menilai, lokasi lokbin yang tak terlalu strategis itu membuat para pedagang lebih memilih berdagang di trotoar. Pembeli pun akhirnya lebih memilih membeli dagangan para PKL liar di trotoar karena lebih mudah dijangkau aksesnya.

Sandiaga mengatakan, sistem cluster cocok dijadikan sebagai strategi untuk menampung PKL Kota Tua.

“Saya rasa salah satu yang kita coba lakukan adalah meng-cluster tempat-tempat tersebut,” katanya.

Menurutnya, dengan sistem cluster tersebut, ada tempat penampungan pedagang satu pintu dengan mengarahkan pembeli melalui jalan tersebut sehingga potensi terjualnya dagangan para PKL lebih tinggi.

Menurut dia, kebijakan ini akan ia diskusikan dengan pihak-pihak terkait sehingga saat pelaksanaannya benar-benar mengurangi kesemrawutan kawasan Kota Tua akibat para PKL liar tersebut.

Loading...