Kriminal

Ketua IMM Minta Maaf Terkait Berita Hoaks yang Diduga Disebar Kadernya

Ketua IMM minta maaf kepada Mentan. (Foto: Zunita/detik)

Jurnalindonesia.co.id – Ketua DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ali Mutohirin memberikan klarifikasi terkait kadernya, Andi Maghfuri (24), yang ditangkap Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Andi Maghfuri ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penyebaran berita bohong (hoaks) yang menuding Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melakukan selingkuh dengan Bupati Pandeglang Irna Narulita. Andi menjadi tersangka setelah diperiksa intensif oleh penyidik kepolisian.

Ali, mewakili Andi Maghfuri, meminta maaf kepada Bupati Irna dan Mentan Amran beserta keluarga mengenai kasus tersebut. Ali mengatakan, kadernya tersebut tidak bermaksud mencemarkan nama baik Andi Amran. Andi Maghfuri, kata Ali, hanya melakukan klarifikasi.

“Terkait kasus terkait kader kita, Andi Maghfuri, sampai hari ini saya yakini tak ada itikad buruk dari kader kami. Sebenarnya web Piyungan Cyber inilah yang menjadi penyebab utamanya karena Andi tak terlibat dalam web itu. Namanya dicatut mem-publish info terkait hubungan itu yang di website. Maksud hati kader kami mau jelaskan bahwa posisi dirinya ini menjadi masalah tersendiri tanpa ada niat sama sekali,” kata Ali dalam konferensi pers di Restoran Bumbu Desa, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Rabu (13/6/2018).

Ali menegaskan bahwa pihaknya akan mendampingi kadernya hingga masalah ini tuntas.

“Saya mewakili Andi menyampaikan permohonan maaf kepada Pak Menteri, tapi maaf ini bukan berarti bersalah, tapi untuk mengklarifikasi karena kelalaian sehingga nama dia rusak. Info yang masuk ke saya tentu tidak mungkin kader kami bermaksud menjatuhkan karena Pak Menteri juga keluarga Muhammadiyah. Jadi tidak ada niat apa pun dari kader kami menjatuhkan Bapak,” ucap Ali.

“Dan kami IMM akan mengajak adik kami (Andi Maghfuri) untuk minta maaf langsung kepada Pak Menteri. Nanti dia juga akan menjelaskan semuanya. Sampai sekarang niat dia me-retweet adalah untuk menjelaskan bahwa dia tidak terlibat dalam web Piyungan itu yang berisi konten nggak bertanggung jawab,” imbuhnya.

Ali pun mendukung pihak kepolisan mengusut kasus tersebut dan mencari tahu siapa aktor di balik penyebar informasi dan pengguna akun Piyungan tersebut.

“Kasusnya kami serahkan kepada polisi, sejauh mana kader kami terlibat. Kita dukung polisi sekaligus ingin tahu siapa sebenarnya aktor di balik website yang berisi tentang hubungan Bapak Menteri ini. Sekali lagi, ini bukan sama sekali inisiatif kader kami,” ucap Ali.

Dalam kesempatan itu, Ali menuturkan, Andi Maghfuri mengaku sering mendapat teror sebelum adanya kasus ini. Teror tersebut tidak hanya kepada Andi saja melainkan sampai ke keluarga Andi.

“Awalnya kasus ini karena adik kami aktif di media sosial sering melaporkan akun ini berasal dari ketika web muhammadiyah terkena hacker dan adik kami ini sangat peduli dengan muhammadiyah, maka dia selalu melaporkan dengan beberapa akun seperti Divisi Cyber Mabes Polri atau Menkominfo agar melakukan tindakan kepada akun ini yang meng-hack akun kita,” ujar Ali.

“Setelah itu kemudian adik kami mendapat teror. Kemudian muncul akun itu dan memunculkan nama adik kami ini setelah itu sampai hari ini terkena polemik ini,” sambung dia.

Setelah menceritakan kronologis tersebut, Ali mengatakan kalau Andi sering mendapat teror berupa telepon dari seseorang yang tidak dikenal identitasnya. Bahkan, teror itu sampai ke akun media sosial kakaknya.

“Jadi berawal dari situ, sebelum ada website Piyungan itu adik kami juga mendapat teror secara pribadi, dan akun media sosial kakaknya juga diteror , bahkan ditelepon, enggak lama kemudian muncul website itu dan mencantumkan nama adik kami beserta alamat tinggal detail sebagai publish berita itu, ini menimbulkan kerugian bagi dirinya,” ucap dia.

Sebelumnya, Andi Maghfuri yang merupakan aktivis IMM Purworejo ditangkap oleh Tim Cyber Crime Polda Metro Jaya dilakukan pada Senin (11/6/2018) malam. Sebelum dibawa ke Jakarta, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo itu sempat dimintai keterangan oleh petugas di Mapolres Purworejo.

Polisi kemudian menetapkan Andi Maghfuri sebagai tersangka. Penetapan tersangka itu dilakukan setelah Andi diperiksa intensif oleh penyidik Ditkrimsus Polda Metro Jaya.

Suasana saat Andi Maghfuri hendak dibawa polisi ke Jakarta, Senin (11/6/2018) malam. (Foto: Dok IMM Purworejo)

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, Andi Maghfuri tidak ditahan dalam kasus itu. Namun Argo menegaskan proses tetap lanjut.

“Sudah tersangka dan tidak dilakukan penahanan. Proses tetap lanjut,” ujar dia.

Penangkapan Andi bermula dari adanya laporan terkait pencemaran nama baik. Setelah itu, polisi mengidentifikasi dan menemukan data bahwa Andi-lah yang mengunggah isu hoax tersebut.

“Jadi begini, intinya bahwa Polda Metro menerima laporan terkait pencemaran nama baik, kita lakukan identifikasi menggunakan digital forensics. Kita menemukan bahwa yang meng-upload, yang menyebarkan atau mendistribusikan seseorang, ya,” ujar dia.

Polisi kemudian menangkap Andi di Purworejo, Jawa Tengah. Selanjutnya, dia dibawa ke Mapolda Metro Jaya.

“Yang kemarin kita amankan dari Purworejo. Dan yang bersangkutan kita amankan ke Jakarta. Yang bersangkutan menyatakan bukan dia yang melakukan. Tetapi kita masih dalami,” ujar dia.

Loading...