Mancanegara

Pangkas Utang Negara, Mahathir Berencana Batalkan Proyek Jalur Sutra Cina

Mahathir Mohamad
Mahathir Mohamad. (Foto: Reuters)

Jurnalindonesia.co.id – Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad berencana membatalkan sejumlah proyek infrastruktur besar yang ditandatangani di era Najib Razak, salah satunya pembangunan rel kereta One Belt One Road (OBOR) dengan Cina. Langkah Mahathir ini dilakukan untuk mengurangi utang Malaysia yang saat ini mencapai 1 triliun ringgit (sekitar Rp3.595 triliun) atau sekitar 80 persen dari GDP.

Pemangkasan utang nasional adalah salah satu janji utama Mahathir jika terpilih menjadi PM Malaysia. Sebagaimana dikutip Reuters, Sabtu 26 Mei 2018, Mahathir menyatakan, salah satu cara paling singkat untuk mengurangi utang adalah menghentikan proyek-proyek rel kereta.

“Dengan sekali jalan kita bisa mengurangi (utang) hingga 200 miliar ringgit (Rp 700 triliun),” kata Mahathir.

Baca Juga:  Ratna Sarumpaet Sebar Hoax Soal PT Dirgantara Indonesia Dijual ke Cina

Mega proyek pembangunan rel kereta East Coast Rail Link (ECRL) merupakan proyek infrastuktur terbesar di Malaysia. Proyek senilai 55 miliar ringgit itu menjadi bagian terbesar dari OBOR yang dimulai bulan lalu.

OBOR adalah proyek ambisius Presiden China Xi Jinping pada 2013 untuk membangun kembali rute dagang Jalur Sutra yang menghubungkan Asia Tengah, Eropa, dan Indo Pasifik. Proyek OBOR meliputi pembangunan jalan, rel kereta, pipa minyak, pembangkit listrik, pelabuhan, dan infrastruktur penunjang lainnya.

Baca: Rakyat Malaysia Patungan Bantu Mahathir Pangkas Utang Negara

Baca Juga:  Protes Kebijakan Trump, Azan Dikumandangkan di Gereja

Nantinya, proyek ini akan terbentang 688 kilometer, menghubungkan Laut China Selatan dan perbatasan Thailand di Selatan sebagai rute kapal strategis Selat Malaka.

Untuk proyek ini, Malaysia mendapatkan pinjaman dana dari China Exim Bank.

“Kami akan menegosiasikan ulang. Kesepakatan ini sangat merusak perekonomian kami,” ujar Mahathir.

Mahathir mengaku telah mempertanyakan proyek ini sejak ditandatangani Perdana Menteri Najib Razak.

“Dia (Najib) tahu betul bahwa ECRL, contohnya, bukan sesuatu yang mampu kita bayarkan. Tidak akan memberikan keuntungan bagi kami,” ucap Mahathir.

Selain itu, Mahathir juga akan mempertimbangkan untuk membatalkan kesepakatan pembangunan rel kereta cepat (HSR) yang menghubungkan Kuala Lumpur dengan Singapura. HRS memakan biaya hingga USD 17 miliar dan diperkirakan rampung pada 2026.

Baca Juga:  Adegan "Hot" Pacar Pangeran Harry di Situs Porno jadi Buruan Netizen

“Berdasarkan kesepakatannya (untuk HRS) jika kami memutuskan membatalkannya, maka kami harus membayar banyak. Kami akan mencari tahu apakah bisa mengurangi jumlah uang yang harus dibayar jika membatalkannya,” kata Mahathir.