Kriminal

Aman Abdurrahman: Bom Bunuh Diri Bukan Jihad, Tapi Sakit Jiwa dan Frustasi

Aman Abdurrahman
Terdakwa kasus bom Thamrin, Aman Abdurrahman, menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di PN Jakarta Selatan, Jakarta, Kamis (15/2/2018). (Foto: Antara/Reno Esnir)

Jurnalindonesia.co.id — Terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman menyebut para pelaku teror bom di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu sebagai sakit jiwa.

Hal tersebut dia sampaikan saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5/2018).

“Dua kejadian (teror bom) di Surabaya itu saya katakan, orang-orang yang melakukan, atau merestuinya, atau mengajarkan, atau menamakannya jihad, adalah orang-orang yang sakit jiwanya dan frustrasi dengan kehidupan,” kata Aman.

Baca: Jadi Otak Rentetan Teror Bom, Aman Abdurrahman Dituntut Hukuman Mati

Dua teror bom yang dimaksud Aman adalah aksi bom bunuh diri di 3 gereja dan di Polrestabes Surabaya.

Menurut Aman, aksi bom bunuh diri yang dilakukan ibu dan anak tersebut terjadi karena pelaku tidak memahami tuntunan jihad.

“Kejadian dua ibu yang menuntun anaknya terus meledakkan diri di parkiran gereja adalah tindakan yang tidak mungkin muncul dari orang yang memahami ajaran Islam dan tuntutan jihad, bahkan tidak mungkin muncul dari orang yang sehat akalnya,” kata dia.

Tak hanya itu, Aman juga menyebut aksi bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya sebagai tindakan keji yang mengatasnamakan jihad.

“Kejadian seorang ayah yang membonceng anak kecilnya dan meledakkan diri di depan kantor polisi, si anak terpental dan alhamdulillah masih hidup, tindakan itu merupakan tindakan keji dengan dalih jihad,” ucap Aman.

Menurut Aman, aksi teror seperti yang terjadi di Surabaya itu tidak bisa disangkutpautkan dengan Islam.

Baca juga: Aman Abdurrahman Ingin Jadikan Indonesia Sebagai Provinsi ISIS

Aman Abdurrahman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman diduga menjadi otak sejumlah rencana teror di Indonesia, termasuk bom Thamrin pada 2016.

Atas dasar itulah jaksa menuntut pria kelahiran Sumedang 1972 itu dengan hukuman mati.

“Menuntut supaya Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan menyatakan Aman Abdurrahman telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana terorisme,” ujar jaksa membacakan surat tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jaksel, Jumat (18/5/2018).

Sejumlah teror yang diduga digerakkan Aman di antaranya bom Gereja Oikumene di Samarinda, bom Thamrin, bom Kampung Melayu, serta penusukan polisi di Sumut dan penembakan polisi di Bima.

Baca juga: Polisi Tangkap Dosen USU yang Sebut Bom Gereja di Surabaya adalah Rekayasa