Nasional

Tolak Koopssusgab TNI Turun Tangan, Komnas HAM: Yang Dihadapi Bom Nggak Jelas, Bom Kampung

Koopssusgab
Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko mempimpin upacara saat peresmian Komando Operasi Khusus Gabungan TNI (Koopssusgab) di Monas, Jakarta, Selasa (9/8/2015). TNI memiliki Satuan Koopssusgab sebagai pasukan khusus anti teror. (Foto: Liputan6.com/Herman Zakharia)

Jurnalindonesia.co.id – Komnas HAM bersikeras menolak rencana pembentukan Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab) TNI terkait penanggulangan terorisme di Indonesia. Pengaktifan tim gabungan dari satuan elite TNI itu dinilai terlalu berlebihan.

“Yang kita hadapi ini bom nggak jelas. Bom kampung, bom rusun. Saya tidak ngomong kualitas kebiadabannya, tapi ini kualitas ancamannya. Kalau itu cukup dengan polisi, ngapain kita ribut-ribut pakai Koopssugab,” kata Komisioner Komnas HAM Choirul Anam di restoran Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (19/5/2018).

Menurut Anam, situasi saat ini masih bisa ditangani oleh kepolisian. Koopssusgab layak diaktifkan jika tingkat ancaman aksi teror telah mencapai skala tinggi. Dia mengatakan.

Apalagi, kata Anam, tak ada payung hukum yang jelas bagi Koppsussgab TNI dalam menjalankan tugasnya.

“Kami dari dulu mendorong militer kita kerja dengan profesional. Tapi jangan dirusak kayak begini, ditarik-tarik, kasihan mereka. Ayo kita rumuskan, kita kasih kehormatan kepada militer untuk menangani terorisme yang skalanya tinggi. Kalau masih skalanya rendah cukup polisi,” ujar Anam.

Baca Juga:  Oknum TNI Tabrak Anggota Polantas Hingga Bergelantungan di Atap Mobil

Baca: Komnas HAM Minta Penanganan Terorisme Tak Melibatkan TNI

Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam

Komisioner Komnas HAM Mohammad Choirul Anam saat mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (28/9/2017). (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

Dia menyayangkan apabila pasukan elite TNI ini hanya diperbantukan menangani aksi teror sepele. Menurut Anam, hal ini hanya akan menyenangkan pelaku aksi teror.

Ia mengatakan, diperlukan perincian jelas soal skala teror yang patut ditangani militer.

“Jelasin skalanya apa, jangan tiba-tiba. Ini yang diinginkan oleh para teroris itu, mereka melakukan kecil-kecil begitu, tapi reaksinya kita kegedean. Ini yang diharapkan oleh mereka,” ucapnya.

Baca Juga:  Tidak Mendatangi Korban JPO Ambruk, Wakil Walikota Depok Sebut Ahok Tak Punya Empati

“Ini yang menurut saya kita punya potensi kebablasan menggunakan Koopssusgab ini. Pasukan elit, kok disuruh begini sayang,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera terkait pengaktifan kembali Koopssusgab TNI untuk menangani terorisme.

“Ide Koopssusgab itu secara tegas tanpa payung hukum itu blunder, bingungin,” kata Mardani di restoran Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (19/5/2018).

Mardani Ali Sera

Mardani Ali Sera (kanan) di acara diskusi. (Foto: Tsarina/detikcom)

Mardani menilai pembentukan Koopssusgab secara tiba-tiba menunjukkan kepanikan pemerintah dalam menangani rentetan aksi teror yang belakangan terjadi. Hal itu, kata dia, malah membuat pelaku teror makin senang.

“Karena sekali teroris melihat kita grabak-grubuk, wah teroris melihat kita panik. Karena tujuan teroris itu menghadirkan teror menakut-nakutkan. Nah ini kita terkesan takut. Psikologi orang yang takut dan panik melakukan apa saja,” ujar Mardani.

Baca Juga:  Keliru Soal Prabowo dan Kopassus Taklukkan Everest, Ini KlarifikasiMardani

“Padahal kita jauh lebih besar daripada itu. Modal sosial kita, modal Bhinneka Tunggal Ika, modal NKRI kita,” lanjut anggota DPR Komisi II itu.

Baca juga: Gerindra Berencana Bentuk Tim Selidiki Pelanggaran HAM Penindakan Teroris

Mardani pun mengusulkan, alih-alih membentuk Koopssusgab, lebih baik menggiatkan kembali kamtibmas, Babinsa dan siskamling.

“Grogi kalau Koopssusgab dihidupkan. Tapi kalau kamtibmas jalan, Babinsa dihidupkan, kamtibmas TNI dihidupkan, siskamling jalan gitu. Semua teroris itu adanya di Indonesia. Ada alamatnya, ada tetangganya, ada RT dan RW-nya. Jadi kalau ada apa-apa ya lapor RT. Sederhana kok,” ucap Mardani.