Kriminal

Aman Abdurrahman Ingin Jadikan Indonesia Sebagai Provinsi ISIS

Aman Abdurrahman
Aman Abdurrahman

Jurnalindonesia.co.id – Pengadilan Negeri Jakarta Selatan akan menggelar sidang tuntutan terhadap terdakwa sejumlah kasus serangan teror, Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman alias Oman Rochma, pada Jumat (18/5/2018) ini.

Rencananya, sidang tuntutan jaksa ini dilangsungkan pada Jumat (11/5/2018) pekan lalu, namun terpaksa ditunda lantaran pecah kerusuhan antara napi terorisme dan aparat keamanan di Mako Brimob. Disusul kemudian dengan serangkaian serangan bom bunuh diri yang disebut-sebut dilancarkan JAT/JAD pimpinan Aman Abdurrahman.

Nama Aman Abdurrahman disebut-sebut dalam rentetan serangan bom bunuh diri yang terjadi sejak awal pekan ini di Surabaya, Jawa Timur yang menewaskan belasan orang. Tak hanya itu, Aman juga disebut dalam kerusuhan di Mako Brimob yang melibatkan 155 napi terorisme (napiter) dan menewaskan lima polisi.

“(Serangan-serangan bom bunuh diri itu) merupakan balas dendam para terduga teroris atas penangkapan kembali pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Aman Abdurrahman serta penangkapan pemimpin JAD cabang Jawa Timur Zaenal Anshari,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam jumpa pers pada Selasa (15/5/2018) lalu terkait serangan bom di Surabaya dan ledakan di Sidoarjo.

“Satu keluarga (yang melakukan serangan bunuh diri terhadap tiga gereja Surabaya) ini terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya. Dia (Dita Oepriarto) itu adalah ketua JAD Surabaya,” ujar Tito.

Sedangkan Zaenal ditangkap sekitar enam bulan lalu karena diduga terlibat dalam penyelundupan senjata api dari Filipina selatan ke Indonesia.

“Itu membuat kelompok-kelompok jaringan JAD di Jawa Timur memanas dan ingin melakukan pembalasan,” ungkap Tito dalam jumpa pers di Surabaya.

Dalam kerusuhan di Mako Brimob, Selasa (8/5), polisi menyebut bahwa para napi kasus terorisme yang menyandera enam polisi (lima kemudian terbunuh), menuntut bertemu dengan Aman Abdurrahman.

Anggota kepolisian melakukan pengamanan Mako Brimob Kelapa Dua pasca bentrok antara petugas dengan tahanan di Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5/2018). (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Aman Abdurrahman yang saat ini mendekam di tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, adalah terdakwa berbagai kasus terorisme.

Aman diketahui pernah mendekam di Lapas Nusa Kambangan kasus serangan bom Cimanggis, Depok, pada 21 Maret 2004.

Aman divonis bersalah pada 2 Februari 2005 dengan melanggar Pasal 9 UU No 15 Tahun 2003 jo Pasal 55 ayat 1 KUHP tentang kepemilikan bahan-bahan peledak dengan divonis tujuh tahun.

Usai bebas pada 2010, Aman kembali ditangkap atas kasus pendanaan dan pengorganisasian latihan paramiliter ilegal di Pegunungan Janto, Aceh Besar. Kasus ini menjerat puluhan orang, termasuk Abu Bakar Ba’asyir.

Dalam kasus ini, Aman divonis sembilan tahun penjara di Lapas Nusakambangan dan bebas dengan pemotongan masa tahanan lima bulan.

Aman bebas pada Agustus 2017 lalu. Namun kembali ditangkap atas dugaan perencanaan kasus bom Thamrin di Jakarta pada 14 Januari 2016, yang menewaskan empat orang korban dan empat pelaku, serta melukai 26 orang.

Setelah terjadinya serangan bom Thamrin tersebut, ISIS merilis pernyataan bahwa tentara mereka adalah pelakunya.

Aman diciduk Tim Densus 88 sebagai tersangka dan didakwa dengan Pasal 14 juncto Pasal 6 subsider Pasal 15 UU Nomor 15 Tahun 2003, tentang pemberantasan tindak pidana terorisme, dengan ancaman penjara seumur hidup atau hukuman mati.

Dalam sidang yang diketuai Akhmad Jaini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (27/4/2018) lalu, Aman Abdurrahman menyebut Indonesia adalah negara kafir karena ‘ideologinya bukan Islam dan tak menerapkan hukum Allah.’

Namun saat itu, dia membantah menjadi dalang serangan bom Thamrin.

Aman mengatakan justru dia tahu terjadinya serangan bom Thamrin tersebut dari napi lain yang melihat berita itu di penjara. Menurutnya, para pelaku membaca-baca soal jihad kekerasan dari internet.

Kendati demikian, jaksa penuntut Mayasari yakin ada keterkaitan antara Aman dan bom Thamrin.

“Dia bilang tidak memerintahkan tapi juga tidak melarang (serangan di Jalan Thamrin). Dia sepaham dengan para pelaku serangan. Sebagai tokoh spiritual, dia mengamini semua tindakan (pelaku serangan),” kata jaksa Mayasari kepada BBC, Kamis (27/4/2018).

Menurut Mayasari, Aman adalah tokoh ISIS di Indonesia yang menulis buku Seri Materi Tauhid. Di persidangan buku yang ditulis oleh Aman itu diperlihatkan sebagai barang bukti.

“(Buku) Tauhid itu kuncinya. (Di dalamnya) dibahas banyak hal, termasuk perintah untuk jihad,” kata Mayasari.

“Aman adalah tokoh. Orang beramai-ramai menjenguknya di Nusakambangan untuk mendapatkan konfirmasi ilmu, sekaligus minta di-baiat (pernyataan janji setia). Buku karangan Aman dijadikan landasan atau referensi kelompok-kelompok jihad,” ujarnya.

Dalam perkara ini, Aman didakwa sebagai aktor intelektual lima kasus teror, yaitu Bom Gereja Oikumene di Samarinda tahun 2016, Bom Thamrin (2016) dan Bom Kampung Melayu (2017) di Jakarta, serta dua penembakan polisi di Medan dan Bima (2017).

Menurut jaksa, ceramah dan ‘kajian’ keagaman Aman mempengaruhi sejumlah orang yang kemudian menjadi para pelaku teror dengan sasaran polisi dan tentara.

Aman terancam hukuman mati, namun ia menolak didampingi pengacara.

Pada Jumat (11/5/2018) pekan lalu, jaksa gagal menghadirkan Aman dalam persidangan.

“Kami tidak bisa menghadirkan terdakwa karena kendala teknis, dan kami belum siap melakukan penuntutan,” kata jaksa penuntut umum, Anita Dewayani kepada Majelis Hakim.

Dalam persidangan itu, jaksa Anita sempat mengatakan, Aman Abdurrahman ingin menjadikan Indonesia sebagai salah satu provinsi ISIS.

Ketua Majelis Hakim Ahmad Zaini akhirnya menunda sidang hingga Jumat (18/5/2018) ini.