Politik

Gerindra Berencana Bentuk Tim Selidiki Pelanggaran HAM Penindakan Teroris

Ketua DPP Gerindra, Muhammad Syafii
Ketua DPP Gerindra, Muhammad Syafii. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Partai Gerindra menilai ada banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi dalam pemberantasan tindak pidana terorisme selama ini oleh kepolisian, khususnya Detasemen Khusus 88 (Densus 88).

Atas dasar itulah Gerindra berencana membentuk tim investigasi pelanggaran HAM terkait pemberantasan tindak pidana terorisme.

“Setelah Pilpres kami akan turunkan tim investigasi pelanggaran HAM ke lapangan buat teliti semua kasus,” kata Ketua DPP Gerindra, Muhammad Syafii, kepada Tirto, Rabu (16/5/2018).

Ketua Pansus RUU Terorisme ini mencontohkan kasus salah tangkap Siyono di Surabaya.

“Kami tidak ingin ke depannya hal semacam itu terjadi. Polisi harus patuh KUHAP dan tidak boleh semena-mena,” ujarnya.

Menurut Syafii, tim investigasi ini akan bekerja sama dengan Komnas HAM dan dibantu oleh sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pro-HAM, seperti Imparsial, untuk mendalami kasus-kasus dugaan pelanggaran HAM yang terjadi selama ini.

“Harapannya hasilnya bisa jadi rekomendasi bagi pemerintah dan Polri,” ucap Syafii.

Pemberantasan tindak pidana terorisme yang dilakukan Densus 88 kerap menuai kritik karena rentan pelanggaran HAM dan minim pencegahan. Seperti tindakan tembak mati terhadap para terduga teroris dan berbagai kasus salah tangkap yang berujung maut.

Dalam kasus Siyono, KontraS sempat menduga terdapat penganiayaan dan pelanggaran HAM oleh polisi saat penangkapan. Dugaan tersebut berdasarkan pada kondisi jenazah Siyono yang penuh luka.

Aksi protes di Solo terhadap Densus 88

Aksi protes di Solo terhadap Densus 88 terkait kematian terduga teroris Siyono, 15 Maret 2016. (Foto: BBC Indonesia)

Sementara pihak kepolisian sendiri telah membantah dugaan tersebut dan menyatakan Siyono meninggal karena kecelakaan akibat melakukan perlawanan saat hendak ditangkap.

Sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai kasus yang terjadi pada awal 2016 tersebut, dan belum juga ada investigasi lebih lanjut untuk mendalami fakta-fakta di baliknya.

Loading...