Kriminal

Ibu Kepsek yang Diduga Sebar Hoaks Terkait Bom Surabaya Dibidik Pasal Berlapis

Status FSA yang dipersoalkan.

Jurnalindonesia.co.id – Seorang Kepala Sekolah SMPN Kayong, Kalimantan Barat, berinisial FSA ditangkap aparat kepolisian atas dugaan menyebarkan status Facebook bermuatan hoaks.

Atas tindakannya tersebut, FSA diancam pasal berlapis.

“Ibu Kepala Sekolah SMPN Kayong hari ini dipanggil oleh penyidik Polda Kalbar, oleh Direktur Reserse Kriminal Khusus. Yang bersangkutan melanggar UU ITE pasal 19 ayat 6 tahun 2002. Ancaman hukumannya di atas 5 tahun dan bisa ditahan,” kata Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Nanang Purnomo kepada wartawan, Selasa (15/5/2018).

Selain pasal 19 ayat 6 tahun 2002, Kombes Nanang mengatakan, FSA juga dikenai pasal 28 ayat 2 UU ITE.

“Akumulatif nanti, karena dia menyebut SARA kan. Sekarang masih proses pemeriksaan. Penyidik tinggal menentukan unsur-unsur dari kedua pasal ini. Kalau memenuhi unsur tentunya akan ditingkatkan statusnya sebagai tersangka,” ujar Nanang.

FSA diamankan Polres Kayong Utara Minggu (13/5). Berdasarkan informasi yang dihimpun, FSA merupakan kepala Sekolah di SMP Negeri 9 Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.

Baca juga: Ada PNS Sebar Ujaran Kebencian di Medsos, Masyarakat Bisa Lapor ke Sini

FSA, melalui akun Facebook-nya menyebut peristiwa ledakan bom di 3 gereja di Surabaya pada Minggu (13/5/2018) adalah rekayasa pemerintah belaka.

“Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng ; 2. Dana trilyunan anti teror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu bong… Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!” tulis FSA di akun Facebook-nya.

Tak hanya itu, FSA juga menulis status mengenai tragedi Surabaya sebuah drama yang dirancang polisi agar anggaran Densus 88 Antiteror ditambah.

“Bukannya ‘terorisnya’ sudah dipindahin ke NK (Nusakambangan)? Wah ini pasti program mau minta tambahan dana anti teror lagi nih? Sialan banget sih sampai ngorbankan rakyat sendiri? Drama satu kagak laku, mau bikin drama kedua,” tulis FSA.

Status FSA yang dipersoalkan.

Status FSA yang dipersoalkan.

Salah satu tokoh masyarakat Kayong Utara, Abdul Rani, menyayangkan perbuatan FSA tersbeut.

Menurut Abdul, sebagai pemimpin di sekolah mesinya bisa membedakan mana urusan pribadi mana urusan orang lain. Karena, menurutnya, kejadian memilukan itu sudah ada yang menangani.

“Jadi kita tidak perlu sibuk dengan urusan lain. Cukup tahu, jangan sampailah menulis-nulis di media sosial yang bisa mengundang masalah. Buktinya guru itu ditahan. Harusnya menjadi panutan ini malah ditahan Polisi,” sesalnya, sebagaimana dikutip dari Pontianakpost.co.id.

Perbuatan FSA dianggap telah mencoreng dunia pendidikan di Kayong Utara.

“Dunia pendidikan di Kayong Utara secara tidak lagsung telah tercoreng. Semoga saja ini tidak kembali terulang,” ucapnya.

Baca juga: Istri Pentolan JAD yang Ditembak Densus 88 di Sidoarjo Pegawai Kemenag

Loading...