Kriminal

Mantan Teroris Ini Merasa Miris Kerusuhan Mako Brimob Dianggap Pengalihan Isu

Ali Fauzi
Ali Fauzi saat bercerita di hadapan wartawan yang sedang mengikuti kegiatan pelatihan penguatan perspektif korban dalam peliputan isu terorisme bagi insan media, di Hotel Santika, Jalan Sumatera, Kota Bandung, Rabu-Kamis (21-22/3/2018). (Foto: Tribun Jabar/Yongky Yulius)

Jurnalindonesia.co.id – Kerusuhan yang terjadi di Rumah Tahanan (Rutan) Markas Komando (Mako) Brimob Kelapa Dua Depok, Jawa Barat, pada Selasa (8/5) malam hingga Rabu (9/5) dini hari diduga terjadi dikarenakan penanganan kasus terorisme yang masih menggunakan cara-cara umum.

Hal tersebut disampaikan oleh pengamat terorisme Ali Fauzi.

Menurut Ali, terorisme adalah kejahatan luar biasa. Dan tantangan terbesar dalam penanganan terorisme adalah sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya yang diakibatkannya.

Dia pun menolak keras jika sejumlah kasus terorisme yang muncul adalah agenda yang sengaja diciptakan untuk pengalihan isu (by design).

“Bahwa tantangan terbesar dalam penanganan extremist violence, belum cukup sosialisasi kepada masyarakat. Kasus yang baru saja terjadi masih banyak yang mengatakan ini dramatisasi, artinya itu kan dramatisasi, artinya itu by design, by seting, padahal bukan ini pure mereka lakukan,” kata Ali sebagaimana dikutip dari Kriminologi.id, Rabu 9 Mei 2018.

Ali yang merupakan adik dari terpidana kasus Bom Bali Ali Imron dan Amrozi itu mengaku semakin miris ketika melihat banyaknya kalangan civitas akademik yang menyatakan kasus-kasus terorisme tersebut sengaja dibuat.

Baca Juga:  Seorang PNS Diringkus Densus 88, Dokumen dan Senpi Rakitan Disita

“Yang membuat saya miris itu, terlebih lagi di civitas akademik yang masih mengatakan ini by design, artinya ada kesengajaan Polri, pemerintahan untuk membuat skenario untuk mengalihkan isu dan lain-lain,” ujar Ali.

Baca juga: 5 Polisi dan 1 Napi Tewas dalam Kerusuhan di Mako Brimob

Anggota kepolisian melakukan pengamanan Mako Brimob Kelapa Dua pasca bentrok antara petugas dengan tahanan di Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5/2018). (Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay)

Menurutnya, sosialisasi harus terus menerus dilakukan agar masyarakat bisa memahami bahaya dari kelompok-kelompok terorisme tersebut, juga untuk menghindari hal tersebut terulang.

“Artinya masyarakat juga perlu terpapar. Bagaimana bahaya kelompok ini, bagaimana jaringan kelompok ini kemudian visi misi. Kalo nggak, terus menerus akan seperti ini. Dan lebih parah lagi akan ada dukungan dari masyarakat (yang menyebut) ini by design,” ucap mantan pentolan kelompok militan Filipina Moro Islamic Liberation Front itu.

Baca Juga:  Polisi: Hampir Separuh Penggunaan Dana Kemah Pemuda Islam IndonesiaFiktif

Lebih lanjut Ali Fauzi mengatakan, ada tugas dan visi misi yang sudah menjadi mindset anggota kelompok teroris.

“Di antaranya, membunuh polisi bagian dari prestasi, memerangi NKRI bagian dari jihad tertinggi. Itu mindset mereka fikroh, mati syahid, artinya kombinasi misi visi dan ideologi yang mereka usung,” kata dia.

Karena terorisme adalah persoalan ideologi, Ali mengimbau agar dalam penanganannya ikut melibatkan masyarakat dengan pendekatan yang lebih humanis.

“Yang perlu dikritisi adalah apakah penanganannya sudah humanis apakah sudah bagus. Tentu kalo saya ingin katakan mereka itu pasien, mereka sakit lambung tentu obatnya harus obat lambung, yang saya khawatirkan nanti dikasih obat sakit jantung. Jadi penanganannya harus tahu,” ujar Ali.

Baca juga: Kerusuhan di Mako Brimob, Fahri Hamzah Sangkut Pautkan dengan Ahok

Sebelumnya diberitakan, 5 anggota Brimob dan satu narapidana terorisme tewas akibat kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (8/5/2018) malam.

Baca Juga:  FPI Kirim Bantuan Hukum ke Mekkah Bahas Rencana Pulang Rizieq Shihab

Peristiwa ini berawal dari narapidana kasus terorisme yang menanyakan titipan makanan ke petugas.

Setelah salat magrib, salah seorang napi menanyakan titipan makanan keluarganya kepada petugas. Waktu itu, makanan dipegang oleh anggota lain. Napi tersebut tidak terima, dan mulai menghasut rekan-rekannya untuk melakukan kerusuhan.

“Napi tidak terima dan mengajak rekan-rekan napi lainnya untuk melakukan kerusuhan dari Blok C dan B, lalu napi membobol pintu dan dinding sel,” ujar Kombes Argo Yuwono melalui keterangan tertulisnya, Rabu (9/5/2018).

kerusuhan di mako brimob

Personil Brimob berjaga di depan Mako Brimob Kelapa Dua pasca bentrok antara petugas dengan tahanan Rutan Brimob di Depok, Jawa Barat, Rabu (9/5/2018) dini hari. (Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso)

Situasi tersebut berujung menjadi kericuhan. Keadaan semakin tak terkendali lantaran napi memberontak dan melawan petugas.

Bahkan, napi sempat memasuki ruang pemeriksaan dan melukai sejumlah petugas.

Baca juga: Waka Polri: Anak Buah Saya 1 Tahun Tak Bertemu Anak-Istri untuk Menangkap Teroris, Jangan Bilang Itu Pengalihan Isu!