Daerah, DKI Jakarta

Soal Mobil Ratna Sarumpaet, Anies: Tak Ada Sama Sekali Instruksi ke Staf

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Jurnalindonesia.co.id – Ratna Sarumpaet mengaku mobilnya yang sempat diderek Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta dikembalikan setelah dia menelepon staf Gubernur Anies Baswedan.

Awalnya dia mengaku sempat menelepon Anies Baswedan. Namun, kata dia, tak diangkat meskipun teleponnya tersambung. Kemudian Ratna menelepon staf Anies dan teleponnya diterima.

Staf itu bernama John.

“(Telepon) Ke nomor Pak Anies. Pak Anies nggak angkat. Lalu saya telepon ke nomor stafnya. Namanya John,” kata Ratna kepada detikcom, Rabu (4/4/2018) malam.

“John, John. John saja, saya tidak tahu nama lengkapnya,” tegasnya.

Baca: Ratna Sebut Mobilnya Diantar Pulang oleh Dishub Bukan atas Perintah Anies

Menanggapi hal tersebut, ini penjelasan Anies ke awak media, sebagaimana dikutip dari detikcom, Kamis 05 April 2018:

Ratna Sarumpaet menyatakan yang menerima telepon adalah staf bapak bernama John, tanggapannya gimana pak?

Saya sudah cek, jadi tidak ada bahkan ketika telpon itu pun tidak kemudian berhenti penderekannya. Penderekannya jalan terus. Jadi tidak ada intervensi sedikit pun. Justru ini memberikan pelajaran pada kita. Jangan menimbulkan kebiasaan takut pada atasan. Karena ini warisan takut pada atasan. Kan takut pada atasan, jangan. Kalau jadi pegawai pemerintah bekerjanya harus takut pada prosedur. Jangan takut… oh ini temannya pak gubernur, jangan sampai saya ditegur oleh Pak Gubernur. Itu kebiasaan buruk itu. Apakah teman Pak Gubernur apakah bukan teman Pak Gubernur prosedurnya sama. dan jangan pernah takut sama Gubernur, takutlah sama Prosedur. Dan saya akan menegakkan prosedur. Jadi kalau ada anak buah saya yang tidak menaati prosedur, itu yang justru ditegur.

Jadi kejadian kemarin itu dijadikan contoh, saya sampaikan pada semua jajaran, Anda semua taat semua pada prosesur. Anda dibilang benar atau salah itu bukan kata Gubernur, benar atau salah adalah karena prosedur. Prosedur yang buat siapa, yang buat gubernur. Di situ Anda lakukan tapi ikuti prosedur jadi kalau prosedur itu Anda harus bertindak, maka bertindaklah. Tapi kalau prosedurnya melarang bertindak ya jangan bertindak.

Staf sudah didisiplinkan?

Cek ke kepala dinas. Itu sih remeh-temeh.

Maksudnya stafnya bapak sudah didisiplinkan belum?

Mereka tidak ada perintah untuk apapun. Bertanya. Disitu. Jadi (dia) tanya kasus, tapi kemudian di dinas ada tindakan. Di situ yang saya katakan ini warisan masalah. Kebiasaan membahagiakan gubernur. Bukan. Jangan kebiasaan membahagiakan gubernur, kebiasannya adalah menegakkan aturan.

Jadi dari Pak Anies dan staf nggak ada instruksi?

Nggak ada sama sekali.

Bawahan (dishub) yang langsung bertindak sendiri?

Iya, tanya. Karena ditelpon maka tanya ditelpon ‘ada apa?’ dan kemudian dari situ justru ada inisiatif tindakan dari staf di dinas. Ini yang saya katakan berarti selama ini kalau bekerja itu nggak lihat prosedur. Yang penting saya gak dimarahi, yang penting saya nggak ditegur. Padahal nggak ada marahan dan nggak ada teguran. Itu yang saya katakan. Saya akan bangun kebiasaan taat prosedur. Kalau kebiasaan taat prosedur Anda nggak akan takut. Kalaupun ditanya siapapun tinggal jawab ‘saya ikut prosedur pak’. Udah gampang.

Tapi mobil Ratna sudah dikembalikan tanpa prosedur?

Cek sama dinas aja. Nggak usah gubernur kalau yang itu sih.

Baca juga: Ratna Sarumpaet Bantah Pernyataan Sandiaga yang Sebut Dirinya Langgar Aturan

Loading...