Kriminal

Tolak Cabut Laporan, PA 212 Ingin Sukmawati Dihukum seperti Ahok

Pengurus Persaudaraan Alumni (PA) 212, Dedi Suhardi.

Jurnalindonesia.co.id – Persaudaraan Alumni (PA) 212 menolak untuk mencabut laporan kepolisian terhadap Sukmawati meski putri Presiden RI pertama itu sudah menyampaikan permemintaan maafnya.

Adapun Sukmawati diduga telah melakukan tindak pidana penistaan agama terkait puisinya yang berjudul ‘Ibu Indonesia’.

Menurut Pengurus PA 212, Dedi Suhardi, Sukmawati harus mendapatkan hukuman sebagaimana mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dapatkan dari kasus penistaan agama.

“Sukmawati harus menerima ganjaran seperti yang diterima oleh Ahok. Siapapun bukan cuma Ahok, bukan cuma Sukmawati, ketika melakukan penodaan terhadap agama, itu kita akan laporkan,” kata Deddi di Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, Rabu (4/4).

Deddi mengaku secara pribadi dia telah menerima permintaan maaf Sukmawati. Namun, menurutnya, proses hukum harus tetap berjalan karena ini menyangkut syariat Islam.

Baca Juga:  Atas Arahan Habib Rizieq, Panitia Reuni 212 Batal Undang Jokowi

“Masalahnya penodaan agama dan saya kira minta maaf itu silakan tapi proses hukum sudah berjalan,” kata dia.

Baca: Sukmawati Menangis Minta Maaf ke Umat Islam

Pengurus Persaudaraan Alumni (PA) 212, Dedi Suhardi

Pengurus Persaudaraan Alumni (PA) 212, Dedi Suhardi, melakukan Sukmawati Soekarnoputri ke Bareskrim Polri, Rabu, 4 April 2018. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Deddy mengklaim telah mendapatkan dukungan dari seluruh alumni 212 yang tersebar di berbagai daerah untuk melanjutkan kasus ini sampai tuntas.

“Saya juga dapat telepon dari teman-teman di daerah, pak tolong ini jalan terus, ini bukan pribadi saya, tapi ini mewakili perasaan umat Islam juga,” kata dia.

Diketahui, PA Alumni 212 resmi melaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke Bareskrim Mabes Polri pada Rabu (4/4/2018) pagi. Dedi menggap apa yang dilakukan Sukmawati telah melukai hati sebagian umat Islam di Indonesia.

Baca Juga:  Sukmawati Soekarnoputri: Emangnya Rizieq Sudah Ngasih Apa ke Bangsa Ini?

“Apa yang disampaikan beliau saat membacakan puisi itu bagi sebagian umat islam merasa tersakiti dan itulah kita melapor,” kata Dedi.

Dedi beralasan, syariat Islam tak bisa diganggu gugat lagi. Apalagi sampai dibanding-bandingkan dengan konde dan syair kidung sebagaimana termaktub dalam puisi yang dibacakan Sukmawati.

“Tak bisa membandingkan konde yang termasuk budaya dengan cadar, cadar itu syariat islam. Terlebih lagi azan, menurut saya suara azan itu sangat indah,” ujar dia.

Dalam laporan tersebut Dedi menyertakan barang bukti berupa rekaman video dan screenshoot saat Sukmawati membacakan puisi tersebut. Laporan dari PA 212 itu diterima dengan nomor polisi : LP/455/IV/2018/Bareskrim tanggal 4 April 2018.

Baca Juga:  Kepergok Hendak Curi Kambing, Seorang Pemuda Tewas Dibakar Massa

Dengan adanya laporan dari PA 212 ini, total Bareskrim Polri telah menerima lima laporan terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Sukmawati. Laporan tersebut dilayangkan oleh sejumlah elemen masyarakat.

Laporan tersebut diantaranya berasal dari Tim Pembela Ulama Indonesia (TPUI), Gerakan Mahasiswa Islam Indonesia (GMII), Forum Anti-Penodaan Agama (FAPA) dan LBH Street Lawyer.

Sukmawati dilaporkan dengan Pasal 156A KUHP tentang Penistaan Agama dan Pasal 16 Undang Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Baca: Sukmawati Soekarnoputri Dilaporkan atas Tuduhan Penistaan Agama