Kriminal

5 Kasus Dugaan Penipuan Jemaah Umrah yang Menghebohkan Publik

korban first travel
Korban penipuan yang dilakukan agen perjalanan umrah First Travel berunjuk rasa di depan Kantor Pengadilan Negeri Depok, Senin, 19 Februari 2018. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Belum tuntas kasus dugaan penipuan puluhan ribu calon jemaah umrah yang dilakukan bos PT First Travel, kasus serupa terjadi di Makassar, Sulsel.

Abu Hamzah, pemilik Abu Tours, menjadi tersangka dalam kasus dugaan penipuan dan pencucian uang setoran calon jemaah umrah sebanyak lebih dari 86 ribu orang.

Kasus yang menimpa Abu Tours ini menambah panjang daftar kasus yang merugikan jemaah dengan nilai yang tidak sedikit.

Berikut 5 kasus dugaan penipuan calon jemaah umrah yang sempat menghebohkan publik, dihimpun dari berbagai sumber:

1. First Travel

Tersangka penipuan first travel.

Tersangka penipuan first travel. (Foto: istimewa)

PT. First Anugerah Karya Wisata (First Travel) diduga telah melakukan penipuan terhadap ribuan calon jemaah umrah. Dua pimpinan perusahaan tersebut, yang juga suami istri, Andika Surachman (Direktur Utama) dan Anniesa Desvitasari Hasibuan (Direktur), telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri, Kamis (10/8/2017) lalu.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak mengatakan, jumlah korban agen perjalanan First Travel mencapai 58.682 orang.

“Dari penelusuran data First Travel, total jemaah promo yang daftar bulan Desember 2016 sampai Mei 2018 ada 72.682 orang,” ucap Herry di Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Dari jumlah yang terdaftar, sebanyak 14.000 orang sudah diberangkatkan. Sementara sisanya belum juga pergi ke tanah suci meski audah membayar lunas. ‘

“Yang belum berangkat ada 58.682 orang,” kata Herry.

Baca: Bos First Travel Masuki Ruang Sidang, Pengunjung: Awas Penghuni Neraka Lewat

2. Biro perjalanan umrah dan haji Hannien Tour

Ustmaniyah Hannien Tour

Petugas memperlihatkan paspor korban penipuan Biro Jasa Umroh Ustmaniyah Hannien Tour di Polres Surakarta, Jawa Tengah, 5 Januari 2018. Biro ini diduga melakukan penipuan kepada sejumlah calon jemaah haji di Solo. (Foto: Tempo/Bram Selo Agung)

Kasus penelantaran jemaah umrah oleh PT Ustmaniyah Hannien Tours atau yang lebih populer dengan nama Hannien Tour mulai terungkap pada April 2017. Berawal dari pengaduan masyarakat, baik secara langsung kepada Kementerian Agama maupun melalui media massa.

Mediasi pun sempat diupayakan Kemenag antara antara Pihak perusahaan travel dengan jemaah. Dalam upaya mediasi tersebut, Hannien Tour menyatakan dua komitmen, yakni berjanji akan memberangkatkan jemaah dan mengembalikan biaya kepada mereka yang ingin menarik kembali uangnya.

Namun dua komitmen tersebut tidak ditunaikan oleh Hannien Tour. Sebagian jemaah bahkan telah melaporkan pimpinan PT Al-Utsmaniyah ini kepada pihak kepolisian.

Kepala Polres Kota Surakarta, Kombes Pol Ribut Hari Wibowo mengatakan, jumlah korban kasus penipuan dana yang dilakukan oleh biro umrah Hannien Tour untuk sementara terungkap sebanyak 1.800 orang dengan total kerugian mencapai Rp37,8 miliar.

Jumlah itu, kata Ribut sebagaimana dikutip Antara 30 Desember 2017, masih bisa bertambah lantaran tim penyidik Satreskrim Polres Kota Surakarta terus mengembangkan dengan meminta masyarakat yang merasa dirugikan segera melapor polisi.

Menurut Ribut, jumlah korban yang tertipu biro umrah tersebut tersebar di 10 kantor cabang di seluruh Indonesia, antara lain: Surabaya, Tasikmalaya, Bandung, Jakarta Timur, Cibinong, Jawa Barat, Makassar, Tangerang, Pekanbaru, dan Solo.

Buntut dari kasus penipuan dana umrah tersebut, polisi telah menangkap dua tersangka, yakni Farid Rosyidin (45) selaku Direktur Utama PT Ustmaniyah Hannien Tour, dan Avianto Boedhy Satya, selaku Direktur Keuangan. Keduanya ditangkap di ruko Jalan Tegar Beriman Cibinong Bogor, pada Jumat, 22 Desember 2017.

Pihak Hannien Tour diduga melakukan penipuan dengan cara menawarkan promo paket umrah murah. Pelaku melakukan strategi pemasaran tertentu yang dapat menarik minat masyarakat untuk mendaftarkan umrah melalui biro travel mereka.

Atas perbuatan kedua tersangka tersebut dijerat dengan Pasal 378 dan atau 372 KUHP tentang Tindak Pidana Penipuan dan atau Penggelapan dengan ancaman hukuman paling lama empat tahun. Pelaku juga dijerat Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

3. PT. Solusi Balad Lumampah (SBL)

PT SBL

Ra‚Äétusan calon jemaah menggeruduk kantor PT SBL di Jalan Dewi Sartika menanyakan kepastian keberangkatan mereka namun tidak kunjung mendapat jawaban, Rabu (31/1/2018). (Foto: Tribun Jabar/Mega Nugraha)

Dalam kasus ini polisi menetapkan dua orang tersangka, yakni pemilik sekaligus direksi PT Solusi Balad Lumampah (SBL), AJW, dan seorang staf perusahaan tersebut, ER.

PT SBL diduga melakukan tindak pidana pencucian uang dan penipuan penyelenggaraan haji yang telah merugikan para jemaah hingga Rp 300 miliar.

Divisi Konvensional PT SBL disebut telah menerima pendaftaran calon jemaah umrah sebanyak 30.237 orang dan calon jemaah haji plus sebanyak 117 orang.

Dari total calon jemaah umrah yang sudah mendaftar baru sekitar 17.383 orang yang sudah diberangkatkan. Sisanya sebanyak 12.645 orang calon jemaah umrah belum diberangkatkan.

4. Abu Tours

Abu Tours cabang Palembang, Sumatera Selatan

Abu Tours cabang Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (27/2/2018). (Foto: Antara/Nova Wahyudi)

Biro perjalanan haji dan umrah Abu Tours diduga telah menelantarkan 86.720 calon jemaah, sebagaimana hasil pendataan dari Kementerian Agama dan polisi. Pendiri sekaligus pemimpin eksekutif Abu Tours, Hamzah Mamba alias Abu Hamzah, ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sulawesi Selatan.

Dalam kasus ini, penyidik menemukan dana sebesar Rp1,8 trilliun yang diambil oleh Abu Tours dari para calon jemaah yang tersebar di 15 provinsi di Indonesia. Dana tersebut diduga digunakan untuk hal-hal diluar peruntukan ibadah umrah.

Pemilik Abu Tours yang kini menjadi tersangka. (Foto: Instagram @ABUHAMZAH12)

Atas ketidakmampuan dari pihak Abu Tour dalam memberangkatkan jemaah umrah ini, kepolisian menjerat tersangka dengan Undang Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah jo pasal 372 dan 378 KUHP tentang penipuan dan penggelapan serta pasal 45 Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), dengan ancaman penjara 20 tahun dan denda Rp10 miliar.

Baca: Bikin Geleng Kepala, Begini Gaya Hidup Bos Abu Tours Tersangka Penipuan 86 Ribu Jemaah Umrah

5. Neno Tour

Neno Warisman.

Neno Warisman. (Foto: istimewa)

Artis era 80an Neno Warisman juga pernah tersangkut kasus dugaan penipuan dan penggelapan perjalanan umrah ke Tanah Suci. Pemilik nama asli Titi Widoretno Warisman itu dilaporkan pasangan suami-istri Geodi Naim dan Mirza Dewiyanti ke Polres Metro Jakarta Selatan pada 2015 lampau.

Karena kasus ini, Geodi Naim dan Mirza mengaku dirugikan hingga US$ 2.550.

Kepada Liputan6.com Jumat (6/3/2015), pengacara Ahmad Ramzy yang merupakan kuasa hukum Geodi dan Mirza mengatakan, kasus ini bermula dari pengajian ibu-ibu di daerah Cipete, Jakarta Selatan.

“Dari situ ada ide untuk umrah bareng menggunakan jasa Neno Tour (biro jasa perjalanan milik Neno Warisman). Akhirnya mereka mengumpulkan uang,” kata Ramzy.

Geodi dan Mirza kemudian mentransfer uang sebesar US$ 2.550 ke rekening Nano Tour untuk pembayaran biaya perjalanan umrah untuk dua orang. Setelahnya, Geodi dan Mirza dijanjaikan terbang ke Tanah Suci pada 24 Desember 2014.

“Ternyata, setelah tiba di Bandara, mereka tidak jadi terbang karena visa belum keluar. Alasannya paspor hilang di Kedubes Saudi Arabia,” ucap Ramzy.

Total, di hari itu ada 32 jamaah yang batal berangkat. Neno Tour menempuh jalan kekeluargaan untuk memberi kompensasi.

“Sebagian ada yang diatur ulang jadwalnya, sebagian dikembalikan uangnya. Nah, klien saya belum dikembalikan uangnya,” tutur dia.

Atas hal itu, Neno Warisman selaku pemilik Neno Tours pun dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Selatan pada 8 Januari 2015 lalu.

Menurut Ramzy, pihak kepolisian sudah sempat meingirim surat pemanggilan untuk Neno Warisman bertanggal 9 Maret 2015 di Polres Jakarta Selatan.

Mengenai tudingan itu, Neno pun sudah membantahnya. Menurut artis kelahiran Banyuwangi, 21 Juni 1964 itu, dirinya merasa telah difitnah.

“Yang pertama saya ingin katakan adalah dugaan tersebut 100 persen fitnah yang sangat keji buat saya. Karena saya tidak melakukan penipuan. Dan, bahkan sebaliknya, selama 3 tahun beroperasi dengan izin resmi, kami sudah menerbangkan ribuan jamaah yang tak memiliki kasus, yang ada justru apresiasi atau rasa puas dari jamaah,” katanya di kawasan Senayan, Sabtu (7/3/2015).

Pada kesempatan itu, Neno juga menyampaikan beberapa sanggahan terkait apa yang dituduhkan di atas.

“Karena pembatalan itu, hanya dalam waktu 5 hari, 29 orang semuanya dibayarkan kembali. Semua bukti pembayaran lengkap, semua hadir, datang pada hari itu. Tapi mereka (pihak yang melaporkan Neno) tak mau menerima. Masalah bukan ada pada Neno, tidak ada seperti itu. Kami berangkatkan semuanya, 13 dari 32 itu jadi berangkat,” ungkapnya.

Hingga kini belum ada titik terang dari kasus tersebut.

Baca juga: Neno Warisman Cetuskan Grup WA #2019GantiPresiden, Target 1 Juta Anggota