Mancanegara, Politik, Teknologi

Jutaan Data Facebook Bocor untuk Menangkan Trump, Zuckerberg Minta Maaf

Mark Zuckerberg, Aleksandr Kogan, Presiden AS Donald Trump
Kiri ke kanan: Mark Zuckerberg, Aleksandr Kogan, Presiden AS Donald Trump

Jurnalindonesia.co.id – Sebanyak 50 juta data pengguna Facebook bocor untuk kepentingan kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat. Mark Zuckerberg baru mengakuinya sekarang.

Isu adanya kebocoran data tersebut sudah merebak sejak lama. Namun sang pendiri dan CEO media sosial terbesar di dunia tersebut, Mark Zuckerberg, tak langsung meresponsnya. Dia memilih diam.

Hingga setelah didesak banyak pihak, Zuckerberg akhirnya angkat bicara.

Dikabarkan, sebanyak 50 juta data pengguna Facebook bocor dan digunakan oleh Cambridge Analytica, konsultan politik Donald Trump, untuk kepentingan kampanye pilpres AS pada 2016 lalu.

Baru-baru ini Zuckerberg menuliskan sebuah pernyataan yang diunggah di akun Facebook resminya. Tulisan tersebut berisi permintaan maaf pada seluruh pengguna Facebook dan dia berjanji akan memberikan sistem yang lebih aman untuk melindungi privasi data.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk melindungi data Anda, dan jika kami tidak bisa, maka kami tidak pantas untuk melayani Anda. Saya telah mencoba memahami dengan tepat apa yang terjadi dan memastikan bagaimana kejadian ini tidak akan terulang lagi,” tulis Mark, Kamis (22/3/2018).

Selain itu Zuckerberg juga menyatakan telah mengambil langkah antisipatif agar kasus ini tidak kembali terjadi di kemudian hari.

Langkah tersebut salah satunya adalah dengan memberi perhatian lebih serta membatasi akses aplikasi pihak ketiga pada profil pengguna seperti foto maupun alamat e-mail.

“Kabar baiknya, kami telah mengambil tindakan penting untuk mencegah hal ini terulang dan itu sudah kami lakukan beberapa tahun lalu. Namun kami membuat kesalahan, dan masih banyak yang harus dilakukan,” lanjutnya.

Senada dengan yang disampaikan Mark, Chief Operating Officer Facebook Sheryl Sandberg juga mengakui adanya kesalahan dari perusahaan dalam melindungi data pengguna.

“Seperti yang dikatakan Mark Zuckerberg, kita tahu bahwa ini adalah pelanggaran besar terhadap kepercayaan masyarakat dan saya sangat menyesal apa yang kami lakukan tidak cukup mampu untuk mengatasinya,” tulisnya.

Karena kasus ini, Facebook kini tengah menjadi sorotan publik dan badan hukum. Bahkan Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat telah memberi permintaan khusus pada Facebook untuk memberi penjelasan terkait kebocoran serta kemuungkinan penggunaan data oleh Cambridge Analytica.

“Ini adalah pelanggaran kepercayaan, antara Kogan, Cambridge Analytica, dan Facebook. Namun ini juga melukai kepercayaan antara Facebook dan masyarakat yang telah membagikan data mereka dengan kami. Kami harus memperbaiki ini,” tulis Zuckerberg.

Facebook kini tengah menghadapi tekanan serta pertanyaan besar dari berbagai pihak. Bahkan beberapa waktu lalu muncul kabar bahwa parlemen Inggris akan memeriksa Mark Zuckerberg terkait skandal ini.

Bukan hanya itu, pendiri Facebook ini pun tengah dilanda kerugian material dalam jumlah yang besar. Setidaknya harta Zuckerberg turun 4,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 67,5 triliun dalam sehari.

Sementara tekanan ini berlanjut, investor saham khawatir, Facebook akan dijatuhi regulasi lebih berat. Sahamnya pada Senin kemarin terperosok sampai 6,8 persen, dan memangkas kekayaan Zuckerberg menjadi 70,4 miliar dolar AS.

Presiden AS Donald Trump

Presiden AS Donald Trump. (Foto: AP/Evan Vucci)

Aleksandr Kogan dan Cambridge Analytica

Data 50 juta pengguna Facebook bocor dan dipakai untuk memenangkan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Bagaimana bisa data-data tersebut jatuh ke tangan tim kampanye Trump?

Sejumlah media menyebutkan, orang yang paling bertanggung jawab mengenai insiden ini adalah Aleksandr Kogan. Pria warga negara AS keturunan Rusia itu diklaim telah membuka akses yang dimilikinya ke Facebook dan memberikannya ke perusahaan konsultan dan analisa politik, Cambridge Analytica.

Aleksandr Kogan dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas kebocoran data Facebook.

Aleksandr Kogan, pria yang dianggap bertanggung jawab atas kebocoran data Facebook

Aleksandr Kogan, pria yang dianggap bertanggung jawab atas kebocoran data Facebook. (Foto: istimewa)

Straits Times menyebut, Kogan telah memilki akses ke data pengguna Facebook sejak 2007. Akses itu didapatnya saat ia tercatat sebagai Pengembang aplikasi. Aplikasi yang dimaksud adalah survei psikologi yang memungkinkan semua pengguna Facebook bergabung hanya dengan membuka Pengaturan Privasi di akun mereka.

Dari data itulah Cambridge Analytica kemudian menganalisa data pengguna Facebook, mencari mana yang mendukung, tidak mendukung, dan Golput.

Kampanye online melalui iklan dan konten-konten terkait dukungan Trump dan anti-Hillary Clinton pun disebar ke akun-akun tersebut untuk meyakinkan keputusan mereka memilih Trump.

Kogan dikabarkan mendapat bayaran sebesar US$800.000 dari hasil membocorkan data tersebut. Namun, Cambridge Analytic membantah telah menggunakan teknik psychographic modelling dalam kampanye yang memenangkan Trump.

Sejatinya, langkah yang dilakukan Kogan maupun Cambridge Analytica telah menyalahgunakan data pengguna tanpa persetujuan pemilik. Bahkan kabarnya Facebook telah memutus akses Kogan dan aplikasi buatannya di Facebook. Kogan disebut Facebook sebagai seorang pembohong.

Facebook mengatakan jika Kogan awalnya diberi akses untuk riset pengalaman pengguna, namun malah memberikannya ke pihak ketiga, Cambridge Analytica.

Facebook pun memblokir akses Kogan dan meminta pria itu untuk menghancurkan data yang telah dimilikinya, termasuk data yang ada di Cambdrige Analytica.