Kesehatan

Botol Aqua dan Nestle Pure Life Disinyalir Mengandung Mikroplastik, Ini Bahayanya Menurut Ahli Toksikologi

Minum air
Ilustrasi minum air. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Investigasi terhadap berbagai merk minuman kemasan mengungkap bahwa air di dalam botol Aqua Danone dan Nestle Pure Life mengandung partikel mikroplastik.

Dilaporkan BBC, Kamis 15 Maret 2018, total ada 259 sampel botol air kemasan dari 11 merek lokal dan internasional yang diuji oleh organisasi jurnalisme, Orb Media Network bersama dengan peneliti dari State University of New York.

Temuan yang mengambil sampel dari sejumlah negara itu juga melibatkan Indonesia.

Keseluruhan merek tercemar mikroplastik dari hasil uji dengan metode termutakhir, termasuk Aqua dan Nestle Pure Life yang diedarkan di Indonesia.

Mikroplastik adalah plastik berukuran sangat kecil (mikroskopis) dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Mikroplastik merupakan polutan lingkungan yang sulit terurai.

Lantas, apa yang terjadi jika mikroplastik masuk ke dalam tubuh kita?

Dilansir dari Kompas.com, Prabang Setyono, ahli lingkungan hidup dari Universitas Sebelas Maret, mengatakan bahwa mikroplastik berukuran tidak lebih dari 1 sampai 5 milimeter.

“Ini berarti ukurannya bisa lebih kecil ketimbang kutu rambut (Pulex irritans) atau plankton Sagitta setosa,” ujar Prabang, Jumat (16/3/2018).

Sependapat dengan Prabang, Dr rer nat (Doctor Rerum Naturalium atau Doktor Ilmu Sains) Budiawan mengatakan bahwa kandungan dalam mikroplastik sulit terurai.

“Jika kandungan mikroplastik masuk ke dalam tubuh, ia akan tertahan di dalam organ dan sulit disekresikan (dikeluarkan). Akibatnya, organ tubuh bisa terganggu,” kata ahli toksikologi kimia dari Universitas Indonesia ini, Jumat (16/3/2018).

Budiawan menyebut, jika mikroplastik masuk ke dalam tubuh, organ seperti ginjal atau hati sangat mungkin akan terganggu fungsinya.

Jika benar ada kandungan mikroplastik di dalam air mineral botol kemasan, kata Budiawan, harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat zat-zat apa saja yang terkandung di dalamnya.

“Jika di dalamnya ada kandungan polybrominated diphenyl ether (PBDE) yang merupakan unsur pembentuk material tahan api, harus diwaspadai. PBDE merupakan zat yang dapat menyebabkan enzim kesuburan terganggu,” katanya.

Zat kimia yang terakumulasi di dalam tubuh juga merupakan faktor yang berkontribusi terhadap tumbuhnya kanker.

Menurut Budiawan, tubuh sebenarnya mampu menguraikan zat asing dan mengubahnya menjadi zat yang tidak berbahaya untuk tubuh agar bisa disekresikan melalui urine atau keringat.

Baca Juga:  Surat Terbuka dari Dokter di Papua untuk Ketua BEM UI soal 'Kartu Kuning' Jokowi

Namun, tidak pada mikroplastik.

“Plastik di lingkungan saja membutuhkan waktu sepuluh tahun sampai bisa terurai. Nah, sekarang bayangkan kalau itu terakumulasi di tubuh manusia. Sel tubuh nantinya tidak dapat berfungsi atau terganggu,” tuturnya.

Untuk menangani kasus ini, Budiawan mendesak agar dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggandeng banyak pihak, antara lain Kemenkes, KLHK, dan juga produsen air mineral.

Penelitian ini diharapkan dapat mendalami beberapa hal, seperti fungsi mikroplastik dalam air, serta apakah mikroplastik berasal dari sumber airnya atau terjadi pengelupasan plastik botol.

Tanggapan ahli gizi

Ahli gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Dr Rita Ramayulis, DCN, MKes, mengatakan belum banyak penelitian tentang dampak mikroplastik.

“Namun, penelitian pada satwa liar diketahui bahwa mikroplastik dapat melepaskan senyawa kimia berupa logam berat. Tidak hanya itu, dikhawatirkan juga ada beberapa mikroorganisme patogen yang menempel pada mikroplastik,” kata Rita melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Jumat (16/3/2018).

Menurutnya, 90 persen mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia akan melalui saluran cerna yang pada akhirnya dibuang melalui feces.

Namun jika ada mikroba patogen ikut serta di dalam mikroplastik dan pertahanan di saluran cerna sedang lemah, akan sangat mungkin partikel masuk ke peredaran darah dan bisa menginfeksi tubuh.

“10 persen mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh dapat mencapai ginjal dan hati, yang bisa terakumulasi. Pada akhirnya mengganggu berbagai keseimbangan dalam tubuh karena mikroplastik adalah benda asing bagi tubuh,” ujarnya.

“Semua zat kimia yang terakumulasi dalam tubuh akan memberikan beberapa efek. Mulai dari efek keracunan, kerusakan jaringan, hingga kematian,” katanya.

Salah satu hasil temuan Sebuah laporan di jurnal NCBI, Juni 2017 pernah membahas isu mikroplastik dan dampaknya bagi kesehatan manusia.

Di dalam abstrak, tertulis bahwa mikroplastik berpotensi memicu risiko kesehatan. Jika mikroplastik terhirup atau tertelan, ia akan menumpuk di dalam tubuh dan mengerahkan toksisitas untuk meningkatkan respon kekebalan tubuh.

“Ada potensi mikroplastik dapat memengaruhi kesehatan manusia,” tulis laporan tersebut.

Sebelumnya, Sherri Mason, profesor kimia dari State University of New York yang terlibat dalam investigasi, mengatakan kepada BBC bahwa pihakya menemukan mikroplastik di dalam botol-botol dan merk yang mereka teliti.

Baca Juga:  Jokowi Teken Perpres Cukai Rokok untuk Tutupi Defisit BPJS Kesehatan

“Ini bukan soal mencari kesalahan merk tertentu. Ini benar-benar ingin menunjukkan bahwa hal tersebut ada di mana-mana, bahwa plastik menjadi materi yang menyebar di masyarakat kita dan bisa menembus air. Semua produk ini adalah yang kita konsumsi pada level mendasar,” kata Mason.

Kendati saat ini belum ada bukti bahwa mikroplastik dapat menimbulkan penyakit jika masuk ke dalam tubuh. Namun, kata Mason, memahami potensi dampaknya adalah bidang yang dikaji dalam sains.

“Yang kita tahu adalah beberapa dari partikel ini cukup besar sehingga, ketika dicerna, partikel itu mungkin dikeluarkan dari dalam tubuh. Tapi sepanjang perjalanan di dalam tubuh mereka bisa melepaskan zat kimia yang menyebabkan dampak bagi kesehatan manusia,” ujarnya.

“Sebagian partikel ini luar biasa kecil sehingga mereka bisa masuk usus di perut, menyusurinya, dan dibawa ke seluruh tubuh. Kami tidak tahu implikasinya atau apa artinya bagi berbagai organ tubuh kita,” imbuhnya.

Investigasi terhadap berbagai merk minuman kemasan dipimpin oleh organisasi jurnalisme, Orb Media.

Untuk meneliti kandungan plastik di dalam botol air, Orb Media menggandeng State University of New York di Amerika Serikat.

Kepada BBC, Nestle mengaku telah memulai uji mikroplastik secara internal sejak dua tahun lalu dan hasilnya plastik tidak dideteksi “di atas level pendeteksian”.

Seorang juru bicara Nestle menyatakan bahwa kajian Profesor Mason tidak mengindahkan beberapa langkah kunci untuk menghindari “hasil positif yang salah”. Dia juga mengatakan pihaknya mengundang orb Media untuk membandingkan metode.

Secara terpisah, Danone mengatakan tidak bisa mengomentari kajian tersebut karena “metodologi yang digunakan tidak jelas”. Danone menegaskan botol yang mereka gunakan untuk menampung air masuk kategori “kemasan yang sesuai untuk makanan”.

Perusahaan itu menambahkan bahwa tidak ada aturan pasti mengenai mikroplastik atau konsensus dalam sains untuk mengujinya.

Metode pengujian

Untuk menguji partikel plastik, ilmuwan dari State University of New York mendatangkan 250 air kemasan dari 11 merek di sembilan negara yang dipilih atas dasar besarnya populasi atau konsumsi air kemasan yang relatif tinggi.

Baca Juga:  Chia Seed, Harga Murah dan Menyehatkan di Lemonilo

Merk-merk itu mencakup merk taraf internasional, yakni Aquafina, Dasani, Evian, Nestle Pure Life dan San Pellegrino.

Adapun merk taraf nasional meliputi Aqua (Indonesia), Bisleri (India), Epura (Meksiko), Gerolsteiner (Jerman), Minalba (Brasil), Wahaha (Cina).

Bahan pewarna Nile Red digunakan untuk melacak keberadaan partikel plastik di dalam botol air.

Bahan pewarna Nile Red digunakan untuk melacak keberadaan partikel plastik di dalam botol air. (Foto: BBC)

Pengujian kandungan plastik melibatkan bahan pewarna bernama Nile Red yang dimasukkan ke setiap botol — sebuah teknik yang dikembangkan baru-baru ini oleh sejumlah ilmuwan Inggris untuk melacak keberadaan plastik di air laut.

Kajian sebelumnya menemukan bahwa bahan pewarna itu melekat pada partikel plastik dan membuatnya menjadi berpendar di bawah sorotan cahaya tertentu.

Profesor Mason dan timnya kemudian menyaring sampel partikel plastik, kemudian menghitung setiap kepingan berukuran di atas 100 mikron — kira-kira setara dengan diameter sehelai rambut manusia.

Beberapa partikel tersebut cukup besar untuk diambil dan dianalisa menggunakan alat inframerah. Hasilnya, partikel-partikel itu teridentifikasi sebagai plastik.

Sebagian besar partikel lainnya yang berukuran di bawah 100 mikron dihitung menggunakan teknik dalam ilmu astronomi.

Jenis partikel-partikel kecil ini tidak dapat dikonfirmasi sebagai plastik, namun Profesor Mason menyebutnya “secara rasional ditengarai sebagai plastik”.

Pasalnya, meski pewarna Nile Red bisa melekat pada bahan selain plastik—seperti kepingan kerang atau alga — namun kemungkinan ini kecil ditemukan di air kemasan.

Prof Mason bersama tim.

Prof Mason bersama tim. (Foto: BBCA)

Setelah melakukan tes, Profesor Mason menemukan hanya 17 dari 259 botol air kemasan yang tidak mengandung partikel plastik.

Adapun jumlah partikel plastik di botol-botol air kemasan cukup beragam.

Aqua Danone dari Indonesia, misalnya, memiliki 4.713 partikel plastik per liter.

Kemudian, Nestle Pure Life mengandung 10.390 partikel plastik per liter

Evian memuat 256 partikel plastik per liter

San Pellegrino mempunyai 74 partikel plastik per liter.