Kesehatan

Mengenal ‘Motor Neuron’, Penyakit yang Diderita Stephen Hawking Selama 50 Tahun

Stephen Hawking
Stephen Hawking. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Stephen Hawking meninggal dunia di kediamannya, Inggris, pada Rabu (14/3) dini hari waktu setempat di usia 76 tahun.

Kabar tersebut disampaikan anggota keluarganya lewat pernyataan resmi.

Lucy, Robert dan Tim, anak Hawking mengabarkan: “Kami berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya ayah kami pada hari ini. Kami akan merindukan selamanya. Dia adalah lilmuwan hebat dan pria luar biasa yang ide dan warisannya akan diteruskan selama bertahun-tahun.”

Kendati keluarga tidak mengatakan dengan pasti penyebab meninggal dunianya Hawking, seperti dilansir dari The Guardian, ahli fisika dan kosmologi itu diketahui menderita penyakit motor neuron atau Motor Neuron Disease (MND). Ia pertama kali didiagnosis mengidap penyakit itu pada 1963, di usia 21 tahun.

Professor Stephen Hawking bersama anaknya, Lucy (kanan) and Christophe Galfard pada 2007 lalu.

Professor Stephen Hawking bersama anaknya, Lucy (kanan) and Christophe Galfard pada 2007 lalu. (Foto: AFP)

Saat didiagnosis MND, dokter memprediksi sisa hidupnya tinggal dua tahun lagi.

Namun prediksi tersebut meleset. penyakit yang diderita Hawking berkembang lebih lambat dari yang biasa orang derita. Oleh sebab itu, dia masih bertahan hingga lebih dari 50 tahun menghadapi penyakit yang biasanya mematikan setelah tiga tahun tersebut.

Penyakit motor neuron atau Motor Neuron Disease (MND) sendiri merupakan sakit yang mengakibatkan saraf motorik rusak hingga akhirnya berhenti bekerja. Karenanya, otot-otot yang rusak saraf pasokan secara bertahap kehilangan kekuatan mereka.

Dikutip beberapa sumber, MND memengaruhi pengidapnya berbeda dalam berbagai cara. Penyakit ini membuat otot melemah secara bertahap dan semakin memburuk.

Gejala pertama biasanya terbentuk di tangan dan lengan, atau kaki dan kaki. Gejala lainnya, ada juga yang mengenai otot-otot di sekitar wajah dan tenggorokan, akibatnya penderita tidak bisa berteriak atau bernyanyi. Gejala lainnya yang mungkin terjadi di antaranya, kram otot, kelelahan, ‘kedutan’ otot melemah, dan menyentak dari lengan atau kaki saat beristirahat.

Ada beberapa jenis dari penyakit motor neuron, di antaranya Amyotrophic lateral sclerosis (ALS), progressive bulbar palsy (PBP), progresif otot atrofi (PMA), dan primer lateral sclerosis (PLS).

Hawking diduga menderita jenis ALS, atau yang kerap juga disebut Lou Gehrig’s Disease yang membuatnya lumpuh, sehingga bertumpu pada pemakaian teknologi untuk membantunya beraktivitas.

Apa penyebabnya? Peneliti dari Universitas Teknologi Sydney Australia pada lima tahun lalu, seperti dilansir dari Radio Australia menduga, penyebab penyakit saraf ini adalah racun yang ada dalam alga yang kemudian mencemari sumber makanan manusia.

Zat racun tersebut mengikuti rantai makanan, dan jika seseorang terpapar racun tersebut bisa menyebabkan timbulnya penyakit saraf dalam sejumlah kasus. Zat tersebut bisa menyerupai zat-zat yang digunakan dalam memproduksi protein dalam tubuh manusia.

Namun, itu baru salah satu temuan yang masih perlu diteliti lebih jauh. Hingga kini, penyebab lebih dari 90 persen kasus penyakit saraf motor neuron masih belum diketahui.

Stephen Hawking

Stephen Hawking. (Foto: AFP)

Meski didiagnosis penyakit yang melumpuhkannya, Hawking masih tetap bekerja. Dalam salah satu wawancara, Hawking pernah memperkirakan bahwa dia bekerja 1.000 jam selama tiga tahun sarjana di Oxford.

“Anda seharusnya menjadi orang yang brilian tanpa usaha, atau menerima keterbatasan Anda,” tulisnya dalam otobiografinya pada tahun 2013, ‘My Brief History‘.

Bagi Hawking, diagnosis dini penyakit terminalnya memicu pemikiran baru. “Yang mengejutkan saya, bahwa saya menikmati hidup di masa sekarang lebih dari sebelumnya. Saya mulai membuat kemajuan dengan penelitian saya, ” ujarnya suatu kali.

Hawking mulai menggunakan kruk di tahun 1960-an, namun lama-kelamaan dia mulai menggunakan kursi roda.

Hawking menjadi terkenal karena kemunculannya di sepanjang jalan-jalan di Cambridge, dan sesekali muncul di lantai dansa di pesta-pesta perguruan tinggi.

Suatu kali, Hawking pernah berbicara tentang kematian, sebuah kemungkinan yang berada di cakrawala yang lebih jauh daripada yang dipikirkan dokter.

“Saya telah hidup dengan prospek kematian dini selama 49 tahun terakhir. Saya tidak takut mati, tapi saya tidak terburu-buru untuk mati. Saya punya banyak hal yang ingin saya lakukan lebih dulu,” ujarnya seperti dikutip dari The Guardian.

Yang mengejutkan orang di sekitarnya adalah sejak didiagnosis penyakit motor neuron, ia justru meraih banyak hal. Hawking meninggalkan tiga anak, Robert, Lucy dan Timothy, dari pernikahan pertamanya dengan Jane Wilde, serta tiga cucu.

Loading...