Kriminal

SAFE Net: Jaringan MCA Lebih Besar dan Berbahaya dari Saracen

Sindikat Saracen penyebar isu SARA.
Sindikat Saracen penyebar isu SARA. (Foto: detikcom)

Jurnalindonesia.co.id – Grup dengan nama Muslim Cyber Army (MCA) yang disinyalir melakukan kegiatan provokatif dengan menyebarkan ujaran kebencian dan berita hoaks di media sosial ternyata sudah menjadi sorotan SAFE Net sejak tahun lalu.

Jaringan ini baru diungkap oleh kepolisian beberapa hari lalu dengan ditangkapnya 5 anggota grup WhatsApp bernama ‘The Family MCA’ oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri bersama Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelijen Keamanan.

Koordinator Regional Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFE Net) Damar Juniarto mengatakan, grup MCA di media sosial memilki empat jaringan besar yang lebih berbahaya dari Saracen.

Damar mengungkapkan, SAFE Net yang memfokuskan pada kebebasan berekspresi online se-Asia Tenggara dalam konteks Hak Asasi Manusia telah mendeteksi tindak pidana yang dilakukan jaringan MCA terkait adanya keterlibatan dalam tindakan persekusi.

“Bahwa jaringan ini jauh lebih besar dari Saracen. Karena motivasinya bukan bisnis seperti Saracen. Ini dia motifnya adalah politik menyebabkan gesekan sosial,” kata Damar sebagamana dikutip Kriminologi Selasa, 27 Februari 2018.

“MCA tidak tunggal yang terungkap family MCA. Satu grup ada empat kelompok besar MCA. Kami terus mendorong,” kata Damar.

Menurut Damar, sejak pertengahan tahun 2017, SAFE Net sudah melihat pola-pola aktor dan keterlibatan akun. Empat akun besar itu menurutnya memiliki afiliasi yang berbeda-beda.

“Bukan hanya merujuk ke partai politik, tapi merujuk ke kepentingan yang strategis. Ada MCA yang mendorong satu figur dalam tubuh TNI untuk maju, mendorong isu PKI. Pernah bekerja dalam satu persidangan Ahok. Keempatnya bergerak bersama,” kata Damar.

Baca juga: Presidium Alumni 212: MCA yang Asli Sangat Berakhlak

Senada dengan yang diungkapkan oleh Kepala Subdirektorat I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes, Irwan Anwar. Berdasar penyelidikan polisi di HP milik para pelaku yang tertangkap, ada 9 grup WhatsApp lain yang menggunakan nama MCA atau sejenisnya.

Sembilan grup selain yang bernama The Family MCA adalah Akademi Tempur MCA, Pojok MCA, The United MCA, The Legend MCA, Muslim Coming, MCA News Legend, Special Force MCA, Srikandi Muslim Cyber dan Muslim Sniper.

Menurut Irwan, grup-grup WhatsApp ini memang memiliki jumlah anggota yang lumayan banyak.

Sebelumnya, polisi mengatakan, sepanjang 2018 ini telah tertangkap 14 orang anggota Grup MCA. Mereka diduga memiliki penting dalam penyebaran ujaran kebencian dan hoaks.

8 Orang ditangkap pada awal 2018 lalu, sementara 6 lainnya baru ditangkap pada Senin (26/2/2018) kemarin.

“Sudah ada 14 orang. Anggota MCA ini, kan, ada ratusan ribu, tapi kami tangkap yang biangnya saja,” ujar Irwan, Selasa (27/2/2018).

Menurut Irwan, admin grup WhatsApp tersebut ada enam orang. Sementara satu admin lagi diketahui masih berada di di Korea Selatan.

MCA diketahui tidak hanya membuat jaringan di aplikasi WhatsApp. Namun, mereka juga menggunakan media sosial lain dengan nama berbeda, tetapi tetap berkaitan dengan nama MCA.

6 anggota grup WhatsApp ‘The Family MCA’, yang ditangkap secara serentak pada Senin (26/2/2018) kemarin, terciduk di sejumlah kota berbeda. Menurut Irwan, mereka ditangkap oleh polisi di Jakarta, Sumedang, Pangkal Pinang, Bali, Palu dan Yogyakarta.

Dari enam orang itu, lima orang yang sudah diumumkan identitasnya oleh polisi adalah Muhammad Luth, Rizky Surya Dharma, Yuspiadin, Romi Chelsea, dan Ramdani Saputra.

Berdasarkan hasil penyelidikan, grup MCA tersebut sering melempar isu yang provokatif di media sosial, seperti isu kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan penyerangan terhadap nama baik presiden, pemerintah, serta tokoh-tokoh tertentu.

Loading...