Kriminal

Bocoran Intelijen Cina: Ada 600 Ton Narkoba yang Hendak Diselundupkan ke RI

kapal narkoba
Anggota Gugus Kemanan Laut Armada Indonesia Kawasan Barat TNI AL menjaga kapal MV Sunrise Glory yang ditangkap bersama awak kapalnya, di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau, Kamis (8/2/2018). TNI AL menangkap MV Sunrise Glory berbendera Singapura beserta empat ABK berkewarganegaraan Taiwan di Perairan Selat Philip, karena kapal itu digunakan untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia. (Foto: Antara/M N Kanwa)

Jurnalindonesia.co.id – Kabar ditangkapnya kapal yang diduga memuat tiga ton sabu-sabu di perairan Kepulauan Riau (Kepri) cukup menghebohkan publik.

Barang haram tersebut diselundupkan dalam kapal pengangkut ikan berbendera Taiwan.

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo angkat bicara terkait hal ini.

Bambang memberikan apresiasi tinggi terhadap usaha yang dilakukan tim Bea Cukai Kepri.

Selain bersyukur, Bambang juga marah.

“Saya sangat geram mendengar kabar bahwa masih ada sindikat bandar Narkoba yang coba menyelundupkan sabu ke negara kita, bahkan hingga sebanyak 3 ton. Ini sudah sangat keterlaluan dan mengkhawatirkan,” ujar politikus Partai Golkar ini, Sabtu (23/2/2018).

Bambang pun meminta secara tegas kepada Kapolri agar kasus pengedaran narkoba ini diusut tuntas.

“Tak hanya awak kapal, bandar harus diusut tuntas. Tak peduli bandar sindikat lokal ataupun internasional, kita akan sikat semua,” tegas Bambang.

Baca Juga:  Heboh! Pizza Hut dan Marugame Udon Diduga Gunakan Bahan Kadaluarsa

Yang mengejutkan lagi adalah, Bambang sempat membeberkan fakta yang didapat dari Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso yang menyatakan bahwa ada bocoran informasi dari intelejen Cina terkait usaha penyelundupan narkoba ke wilayah RI.

Intelejen Cina kepada Kepada BNN mewanti-wanti, ada 5 ton sabu-sabu menuju perairan Indonesia. Sabu-sabu tersebut senilai Rp 10 triliun.

Terbukti, 1 ton sudah diamankan pada penangkapan pertama.

Kemudian, 1,6 ton sudah diamankan pula pada penangkapan kedua.

Kemarin, Jumat (23/2/2018), diamankan lagi sebanyak 3 ton.

Ketiganya ditemukan di wilayah yang sama, yakni di Batam, Kepri.

Selain itu, bocoran informasi lainnya, diduga masih ada 600 ton bahan baku sabu yang akan diedarkan sindikat narkoba.

“Pantauan terakhir ada di sekitar perairan Timor Leste yang kemudian hilang dari pantauan satelit,” kata Bambang.

Baca Juga:  Ada Bandar Narkoba Kelas Kakap dan Jaringan Perdagangan Manusia yang Melibatkan Pejabat dan Artis Di Lingkaran Gatot?

Kondisi ini, kalau benar, akan sangat berbahaya. Sehingga Bambang mengingatkan aparat agar jangan dulu merasa puas dengan penangkapan yang berhasil dilakukan akhir-akhir ini.

Menurutnya, TNI, Polri, BNN, dan Bea Cukai harus tetap waspada.

Bambang meminta jangan sampai yang lolos lebih besar jumlah dibandingkan yang tertangkap.

“Disatu sisi, saya bangga karena ini menunjukan prestasi cemerlang bagi aparat hukum kita. Disisi lain, saya sedih karena ini menunjukan negara kita seperti menjadi surga bagi peredaran Narkoba,” ucap Bamsoet.

Meski demikian Bambang merasa bangga dengan pencapaian aparat hukum. Hal ini mengingat perairan Indonesia terdiri dari garis pantai yang luas. Bukan hal yang mudah untuk mengawasi setiap kapal asing masuk ke wilayah Indonesia.

“Tetapi para aparat hukum kita justru semakin menunjukan tajinya. Satu persatu kapal asing yang membawa Narkoba berhasil disingkirkan. Saya menaruh kebanggaan dan kehormatan atas kerja keras mereka,” ujar Bambang.

Baca Juga:  Bantah Terlibat Pembakaran Markas GMBI, FPI: Itu Spontanitas Umat Islam

Bambang pun mengajak semua pihak ikut berjuang memberantas peredaran Narkoba di tanah air.

“Tidak ada langkah lain, selain kita harus jihad melawan Narkoba. Kita harus mampu membangun kesadaran bersama, bahwa memakai Narkoba sama saja dengan merusak diri sendiri, keluarga dan bangsa. Kalau kesadaran kolektif sudah terbangun, dalam waktu dekat Narkoba tidak akan laku di pasaran Indonesia,” kata Bamsoet.